"DI TVRI, AKU DENGAR KABAR KEPERGIANMU. KUDOAKAN DI BATINKU SURGA BUAT GOMBLOHKU"

 
APEL, ABADI. “Tulis berita kematianku, aku akan senang membacanya,” seloroh Gombloh seolah meniru ucapan John Lennon, ketika dua bulan sebelumnya (November 1987-red) bersama M. (Monitor). Bukan soal kebiasan merokok yang telah “merampok” paru-parunya, dan dihentikan satu setengah tahun sebelumnya, melainkan sikap cueknya yang ‘super’ pada tata krama di saat jiwa senimannya merasuk otak.

Pencipta dan penyanyi sakti kelahiran Jombang, 12 Juli 1948 yang aslinya bernama Soedjarwoto Sumarsono adalah karakter yang tangguh dan mempesona. Di tengah kemilau bintang, ia mengenakan topi murahan, rambut dikelabang, berkacamata sederhana hitam, kumis liar, dan senyuman tanpa gigi.

Sikap keseharian yang menjadi pesona ini lahir setelah ia patah hati. Tak banyak berubah setelah ia menikahi Wiwik Sugiarti, pemain wayang orang yang tak mengenal kebesaran Gombloh. Remy Wicaksono, putranya yang lahir 26 Februari 1984, menghadapkan kepada realitas. “Saya cari makan untuk anak dari lagu saya. Itulah definisinya perkawinan.”

Tanggal 12 Desember 1987 di Medan, dalam paket rekaman 10 lagu terbaik pilihan M. Gombloh bilang: “Saya mulai ‘homesick’, kangen. Capek.” M. yang membuntuti sejak tur ke Irian Jaya sebulan sebelumnya, menemukan. Kehausan kasih di tengah kecuekan dalam penampilan.

Di makam tembok, Surabaya, Gombloh yang tahun 1987 lalu merajai, menuju tempat “Apel” yang abadi. Gombloh hebat bukan karena mati muda. Bukan karena “menggadaikan cinta”. Gombloh hebat justru karena ia melihat dan melakukan terobosan dalam hidupnya.

Dari lagu yang mengawang menjadi merakyat. Dari kehidupan yang serba ‘glamour’, ia tetap bersama tukang becak, pelacur, tidak dalam pengertian mencari ilham di situ. Tapi langsung bergulat, langsung membagi bersama apa yang diperolehnya. Ia berpijak di buminya, sampai akhir hayatnya. Ini yang tak bisa disamai, juga dalam generasi (yang waktu itu akan) datang.

Akhirnya, ia memang bukan hanya pencipta lagu, penyanyi, seniman yang nyentrik. Ia suatu pribadi, suatu karakter, patriot seni yang berani, jujur, yang mampu memberikan makna untuk perbandingan manusia yang lain: kelaurga, kerabat, ataupun kencan bisnisnya. “Tuhan, kami jarang berdoa, apalagi meminta sekali ini, kami menghamba terimalah umatMu, sahabat kami, Gombloh.”

Dok. Monitor – No. 63/II/minggu ke-3 Januari 1988/13-19 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer