DEDDY SUTOMO: "MEMANG EGOIS" (RMD, TVRI - MINGGU, 31 JULI 1988 Pkl: 12.30 WIB)
APA enaknya menjadi suami dari istri yang karirnya menonjol dan populer? Bagi Deddy Sutomo, (saat itu) 47 tahun, pemeran tokoh Sukri dalam serial RMD yang disiar ulang (belakangan itu), jawabannya hanya senyuman.
“Kita perlu memberi dorongan dan dukungan moril.” Bukan menggantungkan diri atau menganggap saingan. Klise, memang. Tapi, itulah kenyataan, juga pertanda mengalirnya kasih Tuhan. “Tuhan adalah inspirasi buat saya.”
Inspirasi yang menawarkan harmoni. Padahal, sering-sering, seniman sukar menimbang. “Seniman memang egois.” Karena egoiskah keinginan menjadi wartawan dan politisi menjadi surut? (Takut jadi diktator, di hal. 11 – Monitor No. 91/Tahun II/minggu ke-4 Juli 1988/27 Juli-2 Agustus 1988).
DALAM DIAM, DEDDY SUTOMO BERDIALOG DENGAN TUHAN
BANGGA, TANGGA. Seperti hampir diucapkan banyak aktor, Deddy Sutomo, tinggi berat (waktu itu) 183-71, merasa bangga dan senang terhadap profesinya sebagai aktor. Selama 2 tahun sejak masa putar RMD (Rumah Masa Depan, diputar TVRI-red), 1985, habis, figur itu (sampai 1988-red) masih melekat. Apalagi, 1988, setelah kembali disiar ulang.
Ketika Lebaran 1988 lalu, dia diserbu masyarakat Denpasar, Bali, di sebuah lapangan tempat sholat ied dilaksanakan. “Mereka panggil saya pak Sukri dan bertanya, kapan nongol lagi di layar TV?”
Pertanyaan itu, (belakangan itu) sudah terjawab dengan sendirinya, tentu. Terlanjur lama memerankan tokoh Sukri yang arif, bijak, dan memiliki rasa santun sosial yang tinggi, yang serba protagonis, membuat dia juga tak bebas. Artinya, tak bisa sembarangan menerima peran. “Saya sering diprotes penggemar, bila memainkan tokoh antagonis, seperti ketika main dalam sinetron Bulan Masih Ada (juga diputar TVRI-red).”
Padahal, sebagai aktor, apapun peran yang dipercayakan kepadanya mesti diterima dan dilakukannya dengan baik. Sulung dari 4 bersaudara pasangan Dirdjo Sangkoyo-Surini yang memperistri Setyorini (Rini Sutomo-red), pembaca berita TVRI itu, toh merasa cukup panjang jalan yang ditempuh untuk menjadi seorang aktor.
Bermula jadi hobi berdeklamasi dan berteater di masa SMA dan melanglang ke Solo dan Yogya. Beberapa kali hadiah dan penghargaan sebagai sutradara teater dan deklamator terbaik se-Jawa Tengah direbut. Rendra, termasuk sobat dan guru yang perlu dia haturkan rasa terima kasih atas karirnya (waktu itu). Juga almarhum Syumandjaya yang memberinya kesempatan sebagai pemeran utama dalam film (layar lebar-red) Atheis.
Meski begitu, namanya dikenal khalayak penonton film, ketika dia menjadi pemeran utama dalam film (layar lebar-red) Panji Tengkorak.
“Dari mas Syuman, saya memperoleh pedoman yang saya pegang sampai sekarang (1988-red), hadir atau tersingkir?,” Mengagumi Napoleon dan bung Karno (Presiden Sukarno-red), Deddy juga mencintai anak-anaknya – Oki Satriyanugraha dan Dimas Danardana – yang tak ia sebutkan tanggal lahirnya. “Anak adalah segala-galanya bagi saya.”
Karenanya, kebahagiaan hidup pun ia yakini, terletak pada bagaimana nantinya anak-keturunannya tumbuh dan berkembang. Itu mengandung makna, egoisme mesti disurutkan. “Saya akan bangga sekali bila mereka punya kharisma.”
POLAH, PILAH. Selebihnya, karena merasa dididik di Taman Siswa, semboyan ‘tut wuri handayani’, mendorong dari balik layar, dijadikan pula pegangan dalam mendidik anak. “Dalam hidup sendiri? “Saya pegang rumusan Ronggowarsito. Hidup nggak usah banyak polah. ‘Urip sang samadyo’.” Tak usah pula silau terhadap hal yang tinggi. “Saya malah sering melihat ke bawah.”
Merasa suka terhadap hal ihwal yang berurusan dengan masalah spiritual, sekali dua ada keinginan untuk semakin mengenali diri dengan diam. Celakanya, diam membuat orang tak mengerti apa yang ada di benaknya. Padahal, dalam diam membuat orang tak mengerti apa yang ada di benaknya.
Padahal, dalam diam dan merenung dia merasa bercakap dengan Tuhan. Yang telah memberinya postur tubuh, bakat, dan anugerah. “Semua itu penting bagi saya, untuk menumbuhkan moral saya dalam hidup.” Abstrak, rasanya. Seperti abstraknya dunia film dan seni yang digelutinya. 1988, sembari berusaha tetap hadir dalam pentas perfilman, Deddy tak hendak memilah-milah produksi film. “Saya selalu siap untuk main film yang memang dirasa pas untuk saya.”
Mungkin karena itu, film kacangan Sona Anak Serigala, disabetnya juga. Tapi, toh ada imbangan. Dalam film seri Keluarga Pak Rachmat yang (waktu itu) masih dalam proses produksi, ia memperoleh peran yang pas. “Kabarnya untuk TVRI juga.” Selain itu, Ikranagara yang (waktu itu) akan menggarap drama panggung bersama PARFI, memilihnya untuk ikut memperkuat.
Ada resep yang membuat dia selalu siap. Sering berlatih, rajin merenungkan tentang tokoh yang dipercayakan untuk dimainkan. Juga peka terhadap permasalahan sosial, ekonomi, dan pendidikan yang terjadi di masyarakat. Selebihnya? “Ya, mengolah interpretasi, vokal, dan kemampuan mengekspresikan tokoh yang akan dimainkan. Juga dalam hal berdeklamasi.”
Tak ingin membuat sanggar? “Saya pernah coba, tapi saya tak berbakat jadi pembina.” Dia takut menjadi diktator dan hanya melahirkan epigon-epigon. Suatu kesadaran yang boleh dipupuk dan dijadikan kepribadian.
Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy





Komentar
Posting Komentar