DANGDUT KIAN JADI RAJA, OBBIE MESSAKH PUN BER-AH... AH... AH... (ANEKA RIA NUSANTARA SAFARI, TVRI PROGRAMA 1 - JUMAT, 15 SEPTEMBER 1989 Pkl: 20.05 WIB)

 IKUT. Obbie Messakh pun ikut berdangdut ria ditemani Yanto Stock On U berjoget ria

APA yang terpikir di benak kalau melihat sajian ARS (Aneka Ria Safari) atau ARN (Aneka Ria Nusantara) – keduanya diputar TVRI Programa 1, red –  jika hampir seluruhnya lagu-lagu dangdut? Mestinya, wajar-wajar saja. Bagi pengelola, yang bekerja menurut order yang datng memang tak ada pilihan. Bahwa dari sekian banyak lagu yang masuk dirajai irama dangdut, memang begitulah adanya.

Belakangan, dangdut memang merajalela. Ada juga baiknya. Dan jika kita lihat lebih jauh lagi, dunia dangdut itu sendiri tak monoton begitu-begitu saja. Mereka – sadar atau tidak, mengalami pergeseran, bahkan bisa pula disebut ada pembaruan di sana-sini. Ini barangkali yang membuat dangdut makin jaya.

Meski lirik-lirik yang sejak dulu (jauh sebelum 1989-red) selalu mendesiskan (lebih banyak) penderitaan, rintihan dan segala duka yang terlalu dalam dan dramatis, bentuk bunyi-bunyian yang mengalami pergeseran mengubah nilai. Pada awalnya adalah tempat-tempat minum di malam hari yang menyediakan alat musik elektronik yang bisa menyuarakan dangdut membawa angin perubahan itu.

 

ANGKUT. Agar kelihatan lebih merakyat, gerobak seperti ini pun diangkut ke studio 

Semakin lekat di kuping, kemudian ada yang memanfaatkan. Misalnya kehairan Heidy Diana dalam lagu Di Mana Ada Kamu Di Situ Ada Aku, melonjak ke permukaan karena bentuk musiknya yang mengalami unsur warna ubahan. Tak meninggalkan khas dangdut, tapi juga memasukkan unsur warna lainnya.

Lantas mengalirlah bentuk lagu-lagu yang sama, di mana lirik-lirik tak lagi merintih, toh tetap memelas. Bukan berarti ini yang menjadi patokan utama perkembangan itu. Suasana musik kita yang berkembang terus pun bisa jadi membuat orang jenuh pada warna yang begitu rame. Lantas sah saja Sepiring Berdua atau Termiskin Di Dunia menjadi idola, meski di kalnagan tertentu yang jumlahnya tak sedikit.

Tapi kalau mau lihat pasar (kayaknya ini yang dikejar orang), dangdut memang (waktu itu) tengah menjadi “raja”. Tak heran kalau pencipta semakin banyak melirik jalur ini. Begitu pula dengan produser.

Nomo Koeswoyo 

TARIK, SIRIK. Dangdut memang menarik. Buktinya, beberapa penyanyi berkelas di negeri ini pernah memampirkan diri menggelutinya. Catat saja Ahmad Albar, penyanyi rock yang (waktu itu) belum punya tandingan lewat Zakia; Emilia Contessa; dan yang belakangan Dian Piesesha.

Terus, pada ARN kali ini, Obbie Messakh, yang tadinya “biang pop cengeng”, juga menyanyi dangdut. Padahal, terlalu banyak mulut yang suka sirik, menganggap dangdut musik rendahan. Banyak hal yang mendukung orang bicara begitu. Kalau saja sdar, artis yang berkecimpung di dunia dangdut memang seakan selalu bertahan pada eksistensi yang aneh-aneh. Mulai dari gaya menyanyi sampai kostum yang selalu terlalu semarak.

Meski begitu, ARS atau ARN yang selama itu menjadi ajang pergelutan musik kaset perlu juga memberi batasan. Bagaimanapun, tujuan tayangan itu tetap untuk seluruh pemirsa. Maka kalu semua harus berjoget dangdut, kok kayaknya kurang klop? Seperti biasa saja, ada wakil dari semua warna musik.

Ditulis oleh: Hans Miller Banureah

Dok. Monitor – No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer