BUNDA TERCINTA, BUNDA YANG TAK TERABA. KAPTEN PONCO DIBESARKAN TENTARA BELANDA (BARUNA, TVRI - RABU, 9 MARET 1988 Pkl: 21.30 WIB)

 SENDIRI. Kapten Ponco bersama salah “teman dekatnya”, mobil merah, kenapa ia masih saja sendiri?

MASIH berbagai kemungkinan untuk tayangan drama seri Baruna episode Bunda Tercinta ini. Direvisi kembali oleh pembuatnya, dipotong beberapa adegan yang tidak perlu, atau sama sekali tidak ditayangkan. Sampai tulisan ini dibuat, belum ada jawaban yang pasti, dari TVRI. Yang pasti seri baru yang jadi keluhan para pemirsa, ini sudah terlanjur banyak diproduksi.

Sutradara CM Nas mengatakan, seri Bunda Tercinta dibuat dalam 8 episode. Belum lagi seri Baruna yang lain. Padahal setiap produksi, pimpinan PT Shwarna Bhumi Bhahana Film H. Imran Musa pernah mengatakan, ongkos sekitar 15 juta habis untuk setiap episodenya. Jumlah yang masuk akal sebab beberapa pemain lepas yang pernah muncul di Baruna, cukup kaget dengan honor yang diterima. “Jauh lebih besar dari honor TVRI.”

Belum lagi biaya syuting di kapal yang di luar angka 15 juta. Apakah begitu gampang TVRI menyetop tayangan yang sudah menghabiskan uang puluhan juta itu? Sumber M. (Monitor) mengatakan, semua biaya ditanggung pihak produser. TVRI cuma sebagai pihak yang menayangkan saja.

Sebuah dilema bagi TVRI meskipun pihak pembuat Baruna konon mendapat kompensasi antar alain, memproduksi film akhir pekan dengan biaya dari TVRI. Tapi, jadi atau tidkanya ditayangkan, beginilah seri Baruna besoknya.

Masih bicara sosok kapten kapal Baruna sebagai fokus utama, Bunda Tercinta menjelaskan kenapa kapten yang sudah berusia sekitar 50an ini masih saja sendiri, berteman dengan mobil merahnya, kacamata hitam, dan seragam kerja. Ia tidak tahu di mana ibunya, meninggal atau belum.

Batinnya terusik ketika melihat seorang awak kapal yang rajin menulis surat buat ibunay. Katanya kepada anak buahnya, “Andai kata ibuku ada, rasanya aku pun bersedia menulis surat setiap hari padanya. Bahagialah kau, Mad. Bahagialah kalian orang-orang yang masih punya ibu.” Kerinduan ini muncul kembali di malam hari. Saat kapal Baruna membelah selat Sunda, tiba-tiba saja dia berkata, “Cipto, begitu aku ingat masa kecil istrimu, terasa rinduku pada ibuku semakin menggebu.”

Dan entah sudah ditakdirkan begitu dalam skenario, selalu dokter yang tugas di kapal Baruna itu brsimpati kepada kapten bujangan ini. Dokter Media dengan halus mendorong Ponco untuk kembali mencari ibunya. Dan begitulah, saran diterima. Carnaya? Kembali menanyakan ekpada ayah kandungnya. Dan Meneer Jansen, Belanda-totok yang membesarkan Pnco sejak kecil bercreita – sebuah kilas balik dari masa perjuangan 1945.

AYAH. Pengambilan adegan seri Bunda Tercinta. Kapten Ponco bersama ayah angkatnya, seorang tentara Belanda yang berpaling ke RI

Jansen, sebagai tentara Belanda, bertarung jarak dekat dengan seorang pejuang Indonesia. Jangan hampir saja terbunuh. Tapi, seorang tentara Belanda melihatnya. Jansen tertolong, karena pejuang Indonesia ditembak tentara lain. Dan seorang anak kecil berteriak dan memeluk pejuang itu. Itulah Ponco kecil.

Jansen juga meihat seorang wanita di antara para pejuang yang berteriak. Para pejuang mengundurkan diri, sambil menarik wanita tua itu. Jansen tergugah hatinya. Dipeluknya Ponco. Sejak itu, komandan pasukan KNIL itu merawat Ponco, lalu menjadi warga negara Indonesia, dan katanya bekerjasama dengan bangsa pribumi.

Jansen memastikan wanita yang berteriak itu pasti ibu Ponco. Tapi entah di mana sekarang. Ponco tetap belum mengetahui siapa ibunya. Penonton boleh mengikuti kelanjutannya di serial berikutnya, dan berikutnya lagi. Konon, baru seri ke-8 kisah pencarian ini selesai. Ini sebuah konsekuensi kalau TVRI menayangkan seri pertamanya. Sebuah miniseri dari sebuah seri. Kayak The Colbys yang menyempal dari Dynasty.

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi/Rachmat Riyadi

Dok. Monitor – No. 71/II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer