BONUS - WARISAN BUDAYA DI REMBANG BARU MENGUNGKAP SEDIKIT SISA ZAMAN SILAM DAN MAKAM SUNAN BONANG (KRONIK SENI DAN BUDAYA, TVRI - RABU, 1 JUNI 1988 Pkl: 20.30 WIB)

 

PURBA. Sisa-sisa peninggalan prasejarah ditandai oleh peninggalan zaman megalitik. Inilah bebatuan megalitik di terjal yang purba itu

SISA-SISA bebatuan berupa lingga dan yoni tergeletak dimakan panas dan hujan. Tapi ada sesuatu yang tersimpan di sana. Sebuah cermin zaman prasejarah masyarakat pesisir Jawa Tengah. Rembang, tepatnya. Suasana magis dan mistis segera terasa. Dan di bebatuan yang rada berantakan itu terasa masih tersimpan tahapan awal situasi masyarakat animisme dan dinamisme.

Yoni dan lingga, memang, bagian penting dari perangkat pemujaan masyarakat prasejarah, selain merupakan simbol kehidupan. Sisa-sisa peninggalan zaman prasejarah itu mengawali produksi TVRI – Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen P dan K, yang bertajuk Warisan Budaya Di Rembang.

Kemudian, R. Andhy Herry, pengarah acara, meruntutkannya dengan sisa-sisa peninggalan prasejarah yang sudah berusia lebih dari lima abad sebelumnya, berupa fosil dan artefak Plawangan, sejenis dengan yang ditemukan di Trinil, wilayah kabupaten Sragen. Itulah fosil yang memberikan gambaran tentang sosok dan perilaku manusia Jawa kuno.

 

GERBANG. Sunan Bonang, mengisi masa sejarah Islam. Nampak pintu gerbang menuju makamnya 

Warisan zaman klasik ditayangkan melalui gambar benda-benda yang dikoleksi oleh kantor Departemen P dan K Rembang. Koleksi ini memberikan gambaran pengaruh masuknya Hindu dan Budha ke wilayah pesisir ini, yang di masanya menjadi salah satu daerah yang mudah terjangkau oleh berbagai penyebar agama. Sampai masuknya pengaruh dinasti-dinasti Jawa, antara lain Mataram.

Tak jauh berbeda dengan paket yang pernah ditayangkan sebelumnya, Warisan Budaya ini juga menyentuh masuknya pengaruh Islam di Jawa pada masa zaman sembilan wali atau walisanga. Tapi, kali ini, yang lebih ditonjolkan adalah peranan Sunan Bonang, yang gambar petilasannya diambil lengkap. Juga makam penyebar Islam lainnya di Lasem.

 

PENGARUH. Selain sejumlah makam para sunan, makam Nyi Ageng Maloka ini pun menandai pengaruh Islam di Rembang

SEDIKIT, KAIT. Dari petilasan-petilasan itu tergambar sedikitnya suatu gambaran pergumulan budaya Islam dengan tradisi setempat yang sebelumnya telah dipengaruhi oleh budaya Hindu-Budha. Karenanya, memang beralasan, mengalirnya arus sinkretisme budaya yang (belakangan itu) hidup dan berkembang di kawasan pesisir Rembang itu.

Akan halnya sisa-sisa peninggalan budaya yang melukiskan bentuk sistem pertautan sosial budaya masyarakatnya serta sistem pemerintahan tradisional, dilukiskan dengan menukilkan beberapa bagian kisah perkembangan adipati pajak di Blora, yang makamnya ditayangkan dalam paket ini. Sampai akhirnya tayangan ini memasuki era kepemimpinan bupati-bupati Rembang sampai ke masa kehadiran Kartini.

Pada bagian akhir tayangan, diberikan gambaran selintas tentang masa-masa perjuangan melawan penjajahan Belanda. Semua itu, sebelnya bisa menjadi cemeti. Setidaknya, ketika berbagai rangkaian kisah sejarah di balik peninggalan itu diuraikan secara lebih tepat.

Namun, karena paket yang memakan waktu 30 menit ini lebih banyak berupa rangkaian gambar yang diberi narasi selintas, kandungan nilai sejarah di dalamnya terasa agak kering. Selain itu, kekuranglengkapan referensi juga membuat paket ini kurang merangsang penonton untuk bisa lebih meminati warisan budaya itu.

Sebenarnya paket semacam ini bisa menarik dan merangsang minat bila – paling tidak – ada usaha menghadirkan kalangan atau tokoh sejarahwan dan antropolog. Baik untuk memberikan gambaran sejarahnya ataupun untuk melihat kaitan keberadaan warisan budaya itu dengan kehidupan 1988 dan masa (yang kala itu akan) datang.

Tapi, betapapun begitu, pengarah acara (waktu itu) nampak sudah mulai mencoba untuk menyuguhkan paket yang lumayan enak ditonton. Apalagi, bila dalam proses ‘editing’ bisa dimasukkan misalnya penggalan film Walisanga, yang berkaitan dengan materi paket ini.

Untuk bisa begitu, tentu selain kreativitas, juga dibutuhkan keberanian melakukan eksperimen, seperti yang dilakukan Kun Haryati dalam dua paket yang sebetulnya sejenis, yakni Kerajaan Islam Samudera Pasai dan Sungai Musi. Toh, perangkat kerasnya sama.

Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy

Dok. Monitor – No. 83/Tahun II/minggu ke-1 Juni 1988/1-7 Juni 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer