BONUS - TVRI DAN IKLAN: "BUKAN PENOLAKAN, MELAINKAN PENATAAN"

 PERSOALAN. Orang bisa tidak perduli dan asyik melihat Nurhuda melayangkan tinjunya ke Boy Granciosa dalam perebutan mahkota superbantam internasional, 7 Juli 1988 lalu. Tapi tidakkah susunan TSSB di sekitar dan dasar ring, membuahkan persoalan lain?

ATUR, ALUR, AJUR, AKUR. Berputar dengan berbagai perbandingan dan contoh, kesimpulannya sama saja: bahwa pertelevisian di zaman 80an akhir tak bisa membebaskan diri dari iklan. Televisi itu sendiri bentuk lain dari promosi. Segala yang terdengar dan terlihat serentak dan bergerak itu sengaja dipamerkan.

Keengganan terbuka untuk menolak bentuk iklan hanya meruwetkan. Karena kenyataan yang terjadi tak mungkin begitu. Sehingga yang (waktu itu) akan terjadi, “penerimaan iklan” datang secara tak terkontrol, bikin dongkol dan curiga, tidak pada proporsi yang wajar. Dengan sistem semacam itu, dalam bahasa pak Raden akan disebut ‘ajur’, hancur, karena tak bisa dipilahkan mana yang iklan mana yang editorial.

Dari sisi ini, terlihat jelas bahwa masalah iklan bukan sekadar masalah dana untuk biaya operasi 6.000 karyawan, bukan penampilan subsidi pemerintah yang tak mencapai 10%, bukan pemenuhan iuran televisi yang (waktu itu) masih memerlukan kesadaran penonton dan terutama kegesitan Dinas Pos dan Giro. Dari sini mungkin segera bisa digariskan mana acara yang bisa menjawil sponsor, mana yang diperhitungkan sebagai iklan, dengan tata krama yang mestinya diatur. 

-      Yang termasuk sponsor, atau setengah sponsor, bisalah dilanjutkan tradisi dari PPFN seperti produk si Unyil, atau malah memperkaya dengan kemungkinan menghidupkan si Huma, si Titi, atau sejenis yang lainnya, mengingat dari “bekas gudang tua” itu bisa melahirkan tontonan yang bersih, sehat, beberapa di antaranya sangat menarik. Termasuk dalam hal ini kemungkinan biaya produksi.

-      Yang termasuk sponsor atau sepertiga sponsor, bisalah dilanjutkan tradisi kerjasama dengan Depdikbud seperti seri ACI, atau dengan Deptranskop, dan PWI Kisah Serumpun Bambu, atau dengan pihak “rada swasta” seperti Baruna termasuk di dalamnya keterlibatan proses produksi secara langsung mengingat hasil yang (waktu itu) masih di bawah standar. 

-      Yang termasuk sponsor “tanpa pamrih”, bisalah dilanjutkan tradisi “meminjam” produksi dari IBM, seperti Planet Earth. Termasuk di dalamnya perusahaan beasr yang memang secara cuma-cuma memberikan produknya yang termasuk kelas prima. Termasuk jenis ini beberapa produksi yang berasal dari berbagai kedutaan besar, atau proyek-proyek kultural lainnya. 

-      Yang termasuk sponsor, atau sepersepuluh sponsor, bisalah dilanjutkan kerjasama dengan berbagai departemen dan/atau pemerintah daerah (pemda) untuk produksi jenis fragmen, lawak, tari, atau bagian tari drama.

-      Yang bisa dipertimbangkan adalah apa yang ditempuh oleh TVB, Hongkong, dengan mencantumkan saja nama perusahaan untuk jenis film seri atau acara lain, seperti The Apa Gitu Present: The Cosby Show. Pengaturan ini, (waktu itu) akan menempatkan pada jalur yang membedakan dengan bnetuk iklan, dalam pengertian “tarif penyiaran” yang berbeda. 

-      Yang termasuk iklan terutama siaran musik terutama pada jam-jam siaran yang utama, siaran kuis, yang berhadiah merek, lawak, dan terutama sekali siaran olahraga.

Ini tak bisa lain. Sasaran dan penampilan musik dalam acara tertentu, adalah penjualna kaset. Boleh dikatakan, TVRI-lah yang melahirkan penyanyi cantik, ayu, dan bisa beken dalam sesaat. Seperti juga grup lawak – walau mungkin berbeda dalam jumlah keuangan yang terlibat. Ini tak bisa lain, karena kuis yang muncul bukan sekadar bersuka ria dan menebak, tapi juga penyebutan merek dagang.

Ini tak bisa lain, karena dalam siaran olahraga, palagi siaran langsung dalam negeri, lapangan pertandingan penuh dengan merek dan nama produk, yang memang ditawarkan dengan “tarif” siaran televisi. Baik yang di pojok atau yang di tengah lapangan.

Secara keseluruhan, siaran olahraga langsung – pertandingan bulutangkis, tinju, tenis, sepakbola, apalagi tingkat nasional, atau bahkan berbau internasional, secara langsung pula dirasakan getarnya oleh masyarakat. TVRI dapat pujian, melupakan kesalahan sebelumnya. Pihak sponsor dan pemasang iklan akan menari-nari. Akibat yang lain bisa diumpamakan, apalah artinya pertandingan tanpa siaran langsung atau tanpa merek sekeliling lapangan. Sesuatu yang tidak mungkin, 1988 ini. 

- 

PENATAAN. Mestinya pemasangan label produk di latar pentas, tak akan bicara banyak. Namun, lantaran yang seperti ini dimunculkan di layar TV, ia justru jadi pembicaraan banyak orang. Kiranya, (waktu itu) masih perlu penataan iklan di TV kita  

Begitulah adanya. Penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto) tidak tahu persis, apakah kitanya mau tetap bertahan dalam ucapan tidak menerima, tapi juga tidak menolak iklan, ataukah perlu pengaturan tata krama dan tata caranya.

Pada saat yang sama, momentum “bulan madu TVRI dengan masyarakat”, 1988 ini, bisa terjaga, dan bisa terus berlanjut. Perbaikan apa yang tampak di layar, pada dasarnya memang baru langkah awal, sebelum akhirnya dinamika yang sama menyentuh kepada seluruh karyawan tanpa kecuali.

Pada saat itu, acara yang memakai pendekatan hiburan akan makin menemukan bentuknya. Bersamaan dengan dalam jangka panjang, kesadaran masyarakat membayar iuran dan mengetahui kesulitan keuangan TVRI, dan terutama juga cara penarikan yang tidak dengan menunggu pemberian semata, akan saling mengaburkan diri.

Sesungguhnya, inilah reakitas yang terjadi, yang diakui, yang membuat kita semua maklum. Kesalahan tidak pada pesawat TV Anda, juga tidak dari sumbernya, secara sengaja. Kesalahan ada pada kita semua, yang malu-malu menatap realitas sesungguhnya, realitas yang ada di depan mata, setiap kita menonton atau mendengar suara ataupun ulangan kisah dari tetangga, mengenai TVRI.

Dok. Monitor – No. 91/II/minggu ke-4 Juli 1988/27 Juli-2 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer