BONUS - TVRI DAN IKLAN: BUKAN KEMUNGKINAN, MELAINKAN KEHARUSAN

 

HALUS, HAPUS, HAUS, HARUS. Ada benarnya kesan penyelenggaraan siaran TVRI mengalami perubahan. Sekurangnya, dengan memanjakan siarn langsung beberapa kali perebutan piala Eropa, serta pertandingan Tyson-Spinks. Ini yang mudah terasakan, karena siaran olahraga menyedot banyak perhatian, dan tidak menimbulkan suara kontra bagi yang tak suka.

Ada perubahan. Tapi, kalau perubahan itu dimaksudkan kemajuan, rasanya (wakut itu) masih akan sungkan ditempelkan. Terutama kalau mencoba meliaht dari sisi bagaimana sikap dasar TVRI dalam menghadapi iklan.

Yang terlihat di permukaan adalah kerjasama. Dalam kaitan dengan siaran olahraga itu, masing-masing paket menghabiskan biaya sektiar Rp 150 juta. Di luar biaya operasional rutin menemakkan siaran ke stasiun Cibinong untuk “dipalapkan” ke-10 stasiun pemancar dan 250 stasiun penghubung.

1) Duit sebesar itu bisa untuk mebuat 14 episode model Rumah Masa Depan, dengan perhitungan 1988 ini 2) atau untuk menngimpor film seri model Hunter 3) dua paket, 26 episode, atau membuat fragmen sebanyak 400 episode.

4) Pendekatan dengan membandingkan jumlah duit, mungkin agak menyinggung perasaan halus dan etika ketimuran. Akan tetapi membicarakan pengelolaan pertelevisian tak bisa dilepaskan dari soal duit, soal biaya, soal bisnis. Baik saat tahun pertama, apalagi untuk tahun-tahun berikutnya. Baik dalam menyusun acara atau jam siaran, perhitungan biaya tak bisa dilepaskan.

Bahkan menurut Les Brown, “Pada mulanya, sebleum membicarakan masalah lain, pengelolaan siaran televisi adalah masalah bisnis. Ini kesadaran dengan sendirinya, sebagai sasaran yang prima.” 5) Itu sebabnya, selain di Amerika Serikat, iuran televisi diminta secara tetap dari pemilik pesawat televisi. Dalam contoh siaran langsung tersebut di atas, sponsor kerjasama datang dari Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial. Tidak ada yang salah dalam hal ini.

Tidak ada yang harus dipertentangkan, meskipun dalam pengeritan kita iklan resmi dihapus dari TVRI sejak 1 April 1981. Tidak dipertentangkan, karena sejak awal berdirinya, TVRI memang menawarkan pemauskannya dari tiga pintu: iuran penonton, subsidi pemreintah, serta hasil dari kegiatan yang dilakukan TVRI.

6) Iuran mestinya membaik dnegan pertamahan jumlah pemilik pesawaat TV subsidi masih jalan meskipun tampaknya, dana setahun 20 milyar dari pendapatan iklan agak susah dipenuhi, karena banyaknya priortias yang lain. Peluang yang ada dari “kegiatan yang dilakukan TVRI” ini mesti ditata, dirumuskan, dan diterbukakan. Karena toh tidak menyalahi apa-apa, juga dari segi peraturan yang ada.

Karena tak bisa tidak, pengelolaan yang baik dan benar, seakan selalu haus biaya. Peralatan yang selalu baru, sehingga boleh dikatakan, setiap 5 tahun harus berganti, acara-acaranya tidak terbatas wilayah nasional, serta persiapan teknologi dan kader ‘broadcasts’.

Kalau kita menengok sejarah TVRI sendiri, tanpa membandingkan dengan negara lain, pemasukan dari sponsor atau hasil kegiatan atau iklan atau apa saja istilahnya, pada tahun kedua sudah mulai terasa.

Dari peta pemasukan tahun 1963-1972, jumlah yang masuk dari siaran iklan lebih pesat dari pemasukan dari iuran penonton, atau bahkan lebih jelas dari subsidi pemerintah. Sehingga pada tahun 1971, pemasukan dari iklan bisa mencapai 57%, iuran 36%, dan subsidi dari pemerintah tinggal 7%. Padahal, tahun 1967, subsidi dari pemerintah mencapai 23% dari seluruh pemasukan. 7)

Gambaran ini (waktu itu) masih terus mendaki, sehingga pada tahun 1973, pemasukan kesleuruhan mencapai 60% dari seluruh biaya operasional TVRI! Kalau hanya diperhitungkan sasaran “gemuk” wilayah DKI, pendapatannya mencapai 120% dari biaya operasional. 8) Hebatnya tahun 1974, iuran televisi yang tadinya Rp 200,00 naik menjadi Rp 500,00 dan Rp 750,00 untuk ukuran di bawah dan di atas 16 inci.

Tapi saat itu, kemanjaan memang terlihat. Siaran langsung All England, pertandingan Muhammad Ali-Joe Frazier, ASEAN Games dari Teheran, Ali tanding lagi lawan Foreman, serta pilihan film seri dan sajian produksi nasional, bertambahnya studio penyiaran di daerah, stasiun penghubung, dan peralatan yang termodern (kala itu) untuk ukuran Asia Tenggara. Itu memang masa jaya sebagai tontonan.

(Bersambung)

Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto 

1)      Syamsuddin Noer Moenadi dan Rachmat Riyadi, merinci jumlah pengeluaran hak siaran dan sewa satelit, dalam Monitor No. 85, 15-21 Juni 1988, hal III bonus.

2)      Seiral Rumah Masa Depan, dulu (sebelum 1988-red) cuma mendapat sekitar Rp 12 juta. 1988, dengan mepet sekitar Rp 20-Rp 25 juta.

3)      Hak sewa menyiarkan film seri dari luar negeri bervariasi, antara 400 hingga 1.200 dolar. Tergantung produksi lama atau baru (era itu), seberapa ngetopnya. Harga yang diberikan untuk TVRI relatif lebih murah dengan, misalnya, Singapura atau Malaysia.

4)      Untuk jenis fragmen, biayanya bisa sangat murah. Karena relatif hanya mengeluarkan honor untuk grup, naskah, yang tidak mencapai Rp 1 juta.

5)      Les Brown, dalam bukunya yang beken, ‘Television: The Business Behind The Box’, 1971. Dikutip dari Gaye Tuchman, ed. ‘The TV Establishment, Programming for Power and Profit’, New Jersey, Prentice Hall, 1974, hal. 93.

6)      Istilah “Kegiatan yang lain” penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto) ambil dari Ishadi SK, M. Sc., Direktur Televisi (sebelum Desember 1987 menjadi kepala TVRI Stasiun Yogyakarta-red), dalam rubrik Dari Pembaca, majalah Editor, 18 Juni 1988. Dalam SK Presiden No. 215 tahun 1963 mengenai Yayasan Televisi RI, “kegiatan” itu berupa mengisi kekurangan-kekurangan di dalam hal pembiayaan eksploitasi maupun investasinya.

7)      Buku Televisi di Indonesia, 1962-1972, terbitan Direktorat TV, tanpa tahun, hal. 146.

8)      Buku TVRI 1973-1974, terbitan Direktorat TV, hal. 68.

Dok. Monitor – No. 87/II/minggu ke-1 Juli 1988/29 Juni-5 Juli 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer