BONUS - TIGA MACAM SENYUM JOJO
JENDELA RUMAH KITA. Jojo tiba-tiba menggedor kesadaran penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya). Senumannya yang khasselalu terbayang ketika penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) hendak berangkat tidur. Senyum itu seperti senyum malu-malu, seperti senyum bangga, tapi seperti juga senyum yang mengejek.
Senyum malu-malunya bisa penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya - juga menulis sejumlah novel populer, dengan nama lain) terima sebagai kerendahhatian seorang muda. Senyum bangganya bisa penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) terima sebagai kepercayaan diri seorang mua. Tapi senyum mengejeknya itu? Mau tidak mau penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) terima sebagai kenyataan kecemburuan penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya).
Ketika penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) seusia Jojo, penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) tidak punya pacar secantik itu. Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) tidak punya tubuh seatletis beigtu. Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) tidak bisa menamatkan kuliah. Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) sulit mencari kerja.
Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) sadar, zaman penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) dengan zaman Jojo lain. Kemajuan begitu pesat, 1989. Belasan tahun sebelumnya, mana ada jalan layang di Jakarta? Belum ada bioskop kembar sekian, belum ada diskotek, belum ada video rental, belum ada RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Boro-boro komputer masuk rumah, TV masuk rumah pun (waktu itu) masih jarang.
Sutinem, pacar paertama penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) (yang kemudian penulis bacaan ini – Julius Yusidajaya – panggil Mince supaya lebih keren) kalau didandani seperti 1989 pasti tidak kalah cantik dengan pacar Jojo. Sayang saja dulu (jauh sebelum 1989-red) Sutinem tidak punya majalah remaja khusus untuk cewek, tidak terlintas dalam pikirannya untuk menjadi fotomodel, atau bintang film atau penyanyi. Sutinem sudah berani pakai rok mini lho, meskipun hanya punya semata wayang.
Jojo dan penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) jelas lain. Tapi ada persamaan Jojo dengan penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) seusianya. Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) juga bisa cuek dan seenaknya. Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) bisa kelihatan masa bodoh dan tak peduli pada aturan-aturan yang terasa mengikat dan kuno.
Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) bisa hormat pada orang yang lebih pintar dan bijak. Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) memikirkan hidup penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya), keluarga penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya), lingkungan penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya). Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) gondrong karena waktu itu sedang mode.
Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) suka musik rock tapi penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) tidak anti dangdut. Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) suka baca buku, belajar keras, kemudian kerja keras. Ya, ya, penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) punya semangat muda yang bergolak. Ya, ya, penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) tidak mau diperlakukan sewenang-wenang. Ya, ya, penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) cinta kebenaran dan keadilan.
Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) menikmati masa muda penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) meskipun tidak secerah ceria benderang gemerlap 1989 dalam arti fisik. Sadar bahwa hidup pada zaman yang berbeda, penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) berani mengatakan bahwa penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) tidak kehilangan masa muda penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya). Dan penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) bahagia karena itu.
JENDELA HATI. Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) tidak boleh cemburu pada Jojo! Ya, betul. Tapi yang membuat penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) terperangah adalah, siapa Jojo?
Jojo muncul dengan perkasa, berdiri tegar bagai gunung Semeru di hadapan penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) lewat Jendela Hati Saya. Jojo membuat penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) tersipu-sipu, terhenyak di bangku sofa yang empuk setelah Jendela Rumah Kita usai ditayangkan TVRI. Di hati penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) bergaung berulang-ulang, menjadi erangan, sebuah kalimat tanya, “Siapa kamu Jojo!?! Siapa kamu?”
“Rasanya saya kenal betul kamu, Jo. Rasanya kita pernah bertemu entah di mana. Rasanya kita pernah akrab. Rasanya kita pernah, atau bahkan sering ngobrol bersama. Kamulah itu anak muda di bis kota, yang bersedia berdiri untuk seorang wanita hamil atau seorang tua di dekatmu, padahal kamu sudah setengah mati berjejalan berebut bangku di Lapangan Banteng.
Kamulah anak muda yang setengah mati mengeluarkan uang logam dari saku ‘jeans’ belelmu, memberikannya pada seorang pengemis cacat, di jembatan penyeberangan Salemba, ketika matahari tepat di atas kepala.
Kamulah itu anak muda yang bengong mendengarkan pembacaan sajak seorang penyair besar yang bicara tentang nasib orang muda. Kamulah itu anak muda yang berdiri di tiang listrik, pada suatu maghrib menjelang pemilu, mendengarkan dengan gagha berdebat bicara soal politik. Ya, kamulah itu yang malam-malam bersandar di pinggir jembatan, memetic gitar, dnegan lirih menyenandungkan lagu-lagu cinta.”
“Jojo! Kamu atau sayakah itu?”
Jojo cuma tersenyum. Senyum itu menyiksa penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya). Senyum itu membuat penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) tidka bias tidur. Senyum itu membuat penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) tidak enak makan. Senyum itu membuat istri penulis bacaan ini (Yulius Yusidajaya) memandang penulis bacaan ini (Yulius Yusidajaya) heran dan dengan hati-hati bertanya, “Ada apa sih, mas? Kok kelihatannya pusing betul? Ada yang tidak beres di kantor tadi?”
MEMBUKA, JENDELA. Pada suatu pagi, ketika penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) sedang berlari-lari kecil, seorang pemuda (era itu) merendengi penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya). Gembira dan tampak bersemangat menyongsong matahari terbit. Dia bercerita tentang anak-anak muda karang taruna unit RW ini (era itu). Bahwa mereka telah kerja bakti membersihkan saluran got yang sealma itu tergenang dan jadi sarang nyamuk.
Bahwa mereka telah mernecanakan dan menjalankan beberapa kegiatan untuk membantu anak-anak muda pengangguran (era itu). Bahwa mereka telah mengadakan bimbingan belajar untuk adik-adik mereka yang tidak mampu secara cuma-cuma. Bahwa mereka (waktu itu) akan mengadakan lomba Cepat Tepat seperti di TVRI, juga lomba yan glain.
Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) tercenung. Anak muda (era itu) itu terus bicara dengan penuh semangat dengan senyumnya yang penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) kenal. Betul. Siapa anak muda (era itu) ini? Si Jojo? Si Mamat anak bang Jai? Dia si Dulhak!”
“Bagus!,” kata penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) sambil terus berlari-lari kecil. Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) kira, penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) pun tersneyum. “Teruskan itu semua, waktu saya seumur kamu, saya punya banyak gagasan besar. Tapi tetap tinggal gagasan. Saya suka kamu, anak-anak muda sekarang (1989-red), karena kamu tidak seperti saya. Saya cemburu kepada kalian, sungguh.
Karena saya dulu (jauh sebelum 1989-red) punya gagasan besar untuk kampung saya, untuk negeri ini, tapi meleleh menjadi ocehan kesombongan yang tak perlu. Tapi kalian tidak menunggu gagasan beasr. Gagasan kecil langsung dilaksanakan. Saya tidak tahu apakah dulu (jauh sebelum 1989-red) saya mabuk dengan gagasan, atau saya memang tidak punya keinginan untuk melaksanakan gagsan meskipun yang kecil dan tampak sepele. Saya salut pada kau, Jo, eh Dul!”
Wajah anak muda (era itu) itu berseri. Dia menatap penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) dengan senyumnya yang terasa menyejukkan. Sebuah pagi yang indah.
Ketika sampai di rumah, penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) membuka jendela. Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) melihat anak-anak (era itu) berseragam SD berangkat ke sekolah dengan senyum yang merekah lewat depan rumah penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya). Anak-anak (era itu) itu punya hari, sadar punya Senin, Selasa, Rabu, dan seterusnya. “Selamat pagi, Jojo-Jojo dan Joji-Joji!,” sapa penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) dalam hati.
Dan ketika penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) sedang menghirup kopi hangat sambil membaca koran pagi, anak lelaki penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) yang kelas 6 SD (waktu itu), pamit untuk berangkat sekolah. Wajahnya sangat berseri dan senyumnya begitu penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) kenal. Dia memakai seragam Pramuka. Gagah sekali. “Selamat pagi, Jo!,” kata penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya).
Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) teramat bahagia. Penulis bacaan ini (Julius Yusidajaya) juga punya Jojo. Setidaknya dari rumah ini, (waktu itu) akan tampil Jojo yang lain.
Dok. Monitor – No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar