BONUS - TIDAK ADA PIDATO MAUPUN BASA-BASI PENYIAR DALAM ULANG TAHUN TVRI KALI INI (26 TAHUN TVRI - RABU, 24 AGUSTUS 1988 Pkl: 21.30 WIB)
AGAKNYA, masa kebangkitan kembali TVRI, menjelang jadi. Dua puluh enam tahun bukanlah masa yang singkat buat berbenah atau belajar dari sejarah. Tak dinyana, kegiatan peliputan Asian Games IV, 24 Agustus 1962 – yang kemudian disusul dengan SK Presiden RI No. 318/1962 tertanggal 24 September 1962, adalah embrio dari jaringan raksasa pertelevisian kita.
Lantas, kalau kita bicara soal ulang tahun, persoalan yang selalu muncul adalah apa yang sudah dibikin, dan mau diapakan bikinan itu. Boleh pula disebut sebuah tonggak, bahwa ultah kali ini sebuah bukti. Sekurang-kurangnya janji.
Perayaan, betapapun adalah kesempatan. Angin segar yang tertiup dari Senayan, Jakrata, terwujud dalam pernak-pernik penuh warna-warni. Semuanya hiburan yang bervariasi. Ada sejarah yang coba dirambah, ada pula sistem kerja baru yang mulai diramu. Bukannya persoalan yang remeh, kalau sekitar 150 artis dilibatkan. Belum lagi pemain cilik (era itu), penari, dan peragawati. Tentu masing-masing punya urusan sendiri dan harus diurusi.
Kalau paket ulang tahun yang dulu-dulu (sebelum 1988-red) dikemas sekadar sebagai tontonan pengunjung di gedung, 1988 mulai diubah. Salah satu contoh, tidak ada penyiar yang muncul dalam pembukaan. Apalagi pidato. Hampir 2 jam keseluruhan pertunjukan – plus berbagai tambahannya – dirancang untuk penonton televisi.
Rasanya, perubahan sangat mendasar ini yang baru 1988 disadari. Karenanya, berbagai perubahan psikologi tontonan (waktu itu) mulai terasa. Dengan gaya penontonnya, tentu saja. Makanya, (waktu itu) silakan saja tunggu pertunjukan ini, barangkali memang terbukti, bahwa paket ini bukanlah buah ulang tahun semata.
Ditulis oleh: Slamet Riyadi
PERTAMA KALI. Bob Tutupoly, wakil dari generasi pertama artis
pengisi, mencoba memaparkan nostalgianya. Ya tentang musik, penyanyi, atau gaya
busana
PEMANDU. Paket ultah dibuka dengan kunjungan ke museum TVRI. Ishadi, Direktur Televisi, hadir sebagai pemandu kelompok pejabat dan pengisi acara. Inilah bentuk khas sajian televisi. Penonton diajak serta. Ada ‘floor director’ yang memberi aba-aba, mereka harus bagiamana, dan si artis harus berbuat apa
ILUSTRASI. Peralatan televisi yang sudah dimuseumkan, dipakai untuk ilustrasi. Gambaran betapa kunonya perangkat dan cara kerja di masa lalu (jauh sebelum 1988-red)
MASA 1988. Dua hal yang coba dikupas untuk menunjuk perbedaan zaman televisi, dari segi pengisi acara. Yang pertama lagu-lagu, dan yang kedua gaya berdandan. Selain cara dipakai dan digerakkan, ada lebih selusin perbedaan. Ini salah satu contoh penari latar pengisi acara masa 1988
PEMENANG. Lagu-lagu pemenang festival pun bermunculan. Tak pelak lagi, TVRI berperanan dalam ajang seperti ini. Jopie Latul membawakan Kembalikan Baliku (karya Guruh Sukarno-red), Diana Nasution mendendnagkan Yang Teirndah, Harvey Malaiholo dengan Seandainya Selalu Satu (karya Elfa Secioria-red), dan Vina Panduwinata melantunkan Burung Camar (karya Aryono Huboyojati-red).
RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Televisi swasta sistem saluran terbatas (SST). RCTI pun disinggung. Agaknya, orang pun sadar, bahwa dalam usia 26 tahun inilah, saatnya TVRI punya mitra pendamping. Dan Embong ‘in action’ dijadikan perangkat visual
MEDLEY. Kenangan coba diungkap lewat lagu. Lebih selusin penyanyi membawakan lagu secara medley, semuanya hits di masa lalu (jauh sebelum 80an-red). Masing-masing Koes Hendratmo, Hakim Tobing cs (lagu Delilah dan Only U), Diah Iskandar dan Golden Singers (lagu Surat Undangan dan Stupid-Tupid), Bimbo dan Iin Parlina (lagu Melati Dari Jayagiri), Elfa’s Singers (lagu Help Me Smile dan Bis Sekolah), Ernie Johan dan Elfa’s Singers (lagu Teluk Bayur dan When My Dream Boat Comes True), Titiek Puspa dan Trio Libels (lagu Si Hitam, Nelayan, dan Dondong Opo Slaak), Broery Pesolima (lagu Tinggi Gunung Seribu Janji – karya Ismail Marzuki, red), Bob Tutupoly dan Vasnait VG (lagu Deo dan Angin Malam – karya A Riyanto, red), dan Bina Vokalia (lagu Buka Pintu, Burung Kakaktua, dan Topi Saya Bundar – syair gubahan pak Kasur, red).
BUMBU. Peragaan sulap pun ada. Mr. Robin, kampiun sulap mempertontonkan keahliannya. Inilah salah satu bumbu paket hiburan
KUIS. Tempo menurun, ditandai dengan Dunia Dalam Derita dan Kuis Bahasa Gambar. Setelah kartunis GM Sudarta mempertontonkan kebolehannya menggambar wajah artis, para peserta kuis (Kasino, Dono, Indro, Rima Melati dan Zoraya Perucha pada regu A, dan Benyamin S, Didi Petet, Connie Sutedja, Ria Irawan, serta Ida Iasha pada regu B) pun terlibat dalam permainan. Inilah nomor pilot dari kuis baru (era itu) karya Ani Sumadi, yang tak lama lagi (dari bacaan ini dimuat Monitor-red) – waktu itu – jadi acara TV
SEMARAK. Dari keseluruhan suasana, yang paling pas memberi kekuatan semarak adalah penari-penari ini. Gerakan indah dari para penari GSP (Guruh Sukarno Putra) Production, dibarengi denting musik yang tak kalah gempita. Megah rasanya.
Seperti biasa, ‘grand finale’ ditandai dengan kemunculan
seluruh pengisi. Panggung pun jadi penuh sesak. Mereka bergembira, sembari
menyanyikan lagu Selamat Hari Ulang Tahun TVRI, ciptaan Oddie Agam. Selesailah
pesta sampai di sini.
PERAGAWATI. Inilah visualisasi jawaban Mariana. Tulisan yang dibawa oleh 24 peragawati, jelas, gerak mereka gemulai dan enak ditonton, sembari membawa kertas bertuliskan “TVRI Hitam Putih, 1962-1979” (24 huruf), kemduian berganti dengan “Televisi Berwarna, 1979-1988” (juga 24 huruf)
BANYOL. Kadar hiburan semakin dinaikkan dengan kehadiran D’Bodor. Mereka membanyol. (Harapan waktu itu) semoga saja tak akan lepas dari benang merah keseluruhan
TARI. Dalam paket semarak seperti ini, tarian paling pas adalah tarian rakyat Timor Timur. 12 remaja (era itu) provinsi termuda (kala itu) pun dilibatkan. Mereka bergerak rancak mengikuti musik garapan Jimmie Manopo cs
Dok. Monitor – No. 95/II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan















Komentar
Posting Komentar