BONUS - TAK ADA BEDA ANTARA ANAK KANDUNG DAN KEPONAKAN DALAM DRAMA KELUARGA. SETELAH MERASA PUNYA KAVLING, JADI KURANG DISIPLIN (CERITA ANAK-ANAK, TVRI - SETIAP SABTU Pkl: 16.30 WIB)
SEBETULNYA jam siarannya sudah ideal. Sabut sore menjelang
hari Minggu, anak-anak (era itu) mendapat porsi dunianya sendiri. Cerita sebuah
keluarga Indonesia dengan problem khas Indonesia. Bukan film asing yang cuma bisa
dinikmati anak-anak asing (era itu) atau anak Indonesia (era itu) yang bisa
berbahasa asing.
Teks dialog yang berbentuk narasi dan tidak pas waktunya atau teks yang terlupakan, ditambah problem yang kadang-kadang asing, menambah sulit pemahaman anak-anak (era itu). Idealnya begitu. Seperti penjelasan ketua bapersi drama, Ananto Widodo, “Drama anak-anak dimaksudkan bisa sebagai suri tauladan buat anak-anak.” Selain itu, apakah itu drama modern atau legenda, cara penyampaiannya, diusahakan tidak langsung.
Bahwa kemudian terucap petunjuk yang vokal, “Jangan begini, jangan begitu,” alasan Ananto cuma, “Sulit mencari naskah anak-anak yang baik.”
Bagian terbesar dari tujuh pemasok acara ini, semuanya bernama “Keluarga”. Rata-rata juga punya penulis skenario tetap. Keluarga Pak Is selalu dengan Mochtar Sum. Keluarga Ratu Asia selalu dengan KM Bey Erry. Chaidir K. Rusmin, selain pengatur laku juga penulis tetap Keluarga Sang Bina yang diasuh istrinya sendiri, Lia Chaidir. Dan tampaknya begitu pula Keluarga Sari dari Sanggar Prativi dengan Hari Iswoyo, dan Keluarga Baru dengan Alwi El Adam.
Kalaupun Sanggar Legenda – satu-satunya pengisi drama anak-anak yang tidak bernama keluarga dan lebih menekankan cerita rakyat – tidak memiliki penulis tetap, beberapa nama akhirnya seperti rutin di sana. Rd. Lingga Whisnu, hampir selalu jadi penulis naskahnya.

KURANG. Teater Legenda lebih banyak memilh lokasi, ini bisa memberi kesegaran. Sayang, miskinnya naskah, kurangnya penulis naskah, dan penggarapan yang suka setengah-setengah, memberi kesan asal jadi
TEMU. Kesan satu paket, naskah, pemain dan pengatur laku
memang bisa memberikan penafsiran “begitulah aturan baku di TVRI”. Dan Ananto
menegaskan, “Cuma unsur kebetulan. Lagi, hal ini memperlancar mekanisme kerja.
Tapi tidak ada pengaturan begitu.” Ia pernah mengimbau penulis dalam beberapa
pertemuan, hasilnya: nihil.
Maka kalau drama anak-anak kadang jadi primadona buat pemirsa, tidak saja buat anak-anak, tapi seluruh kelaurga, itulah kehebatan para pemainnya. Keluarga Pak Is, umpamanya. Diambil dari singkatan nama pemain utama bapak, Ishaq Iskandar, ia menonjol justru pada sang nenek. Begitu mak Wok (Wolly Sutinah) almarhumah, ketenarannya, hidupnya drama ini, juga ikut memudar.
Hilangnya pak Is sendiri, akhirnya tidak jadi masalah. Begitu pula Keluarga Ratu Asia. Ia ditunggu pemirsa pada masa si kecil (era itu) Kiki begitu mencuri perhatian. Bertambah umur, bertambah dewasa, Kiki yang (belakangan itu) sudah berumur belasan tahun, tidak mampu lagi memancarkan keceriaan masa kecilnya lagi.
Belum lagi bubarnya sebuah keluarga. Keluarga Marlia Hardi yang ditinggalkan ibunya, Keluarga Paman Dicky yang akhirnya diteruskan dengan Keluarga Baru. Semuanya ini kadang masih ditambah dengan keluarga sang pemain cilik yang sudah tidak cilik lagi (waktu itu). Seperti Keluarga Sang Bina. Setahun bermain sebagai anak, Wenty Anggraini akhirnya keluar, karena lebih mengkonsentrasikan diri main di film. Repotlah keluarga tersebut.
Ada yang dibiarkan tetap sendiri seperti Aminah Cendrakasih dalam Keluarga Pak Is. Ada yang ditambah pemain anak-anaknya (era itu) dan disebut dalam cerita sebagai keponakan. Ada juga yang berubah, Kelaurga Baru. Sang paman yang mengurus tiga keponakan ini dalam serial (yang waktu itu akan) datang, (waktu itu) akan kawin dengan seorang guru.
Satu hal lagi yang menurut Ananto tidak dipaksakan kepada kelaurga tersebut, tapi terjadi, adalah jumlah anak mereka. Ternyata, paling banyak tiga. Bahwa kemudian sang anak tambah dewasa, lalu keluar, penggantinya, ya keponakan itu. Bahwa mengurus keponakan dibedakan atau dibuat sama dengan perlakuan terhadap anak kandung, tampaknya tidak jadi persoalan besar. Semuanya meluncur begitu saja tiap Sabtu sore bergantian.
Tiga paket produksi TVRI Jakarta dan satu paket dari daerah setiap bulan. Dan satu paket Jakarta untuk minggu kelima. Tapi sepertinya acara ini tanpa gema. Apakah karena anak-anak (era itu) sebagai pemirsa tidak mempedulikannya, atau karena mereka tidak bisa menulis surat pembaca?
MUTU. Persoalannya kembali ke mutu. Hampir acara yang
bermasa putar 30 menit ini dikerjakan oleh pengarah acara yunior (era itu).
Semuanya digarap di studio, kecuali Teater Legenda yang kadang-kadang mengambil
lokasi di luar. Dengan tiga set maksimum untuk satu paket, kesan begitu-begitu
saja bisa terasa.
Tapi, mengapa PA seperti Irwinsyah (waktu itu) sudah tidak menggarapnya lagi? Jawabannya, selain waktunya yang sudah habis untuk menggarap seri Pondokan, Irwin bilang, menjadi PS drama anak-anak lebih gampang dari drama dewasa. “Biasanya semuanya sudah diatur pengatu rlaku. Pengarah acara tinggal membesutnya sedikit. Pemain anak-anak juga lebih disiplin.”
Tapi soal disiplin juga yang dikeluhkan Ananto Widodo. Diharapkan Ananto, seyogyanya naskah sudah siap sebulan sebelum rekaman. Tapi prakteknya belakangn (ketika itu) ini suka mepet waktu. Kadang 2 minggu. Ia mengritik sikap keluarga-keluarga ini. “Merasa sebagai pengisi tetap, lalu merasa punya kavling, disiplin waktu jadi kurang.”
Lepas dari soal yang dikeluhkan Ananto, rekaman drama anak-anak selalu berlangsung pagi hari. Anna Reza dari bapersi drama selaku pelaksana drama anak-anak menjelaskan, hanya pada masa ulangan umum rekaman bisa sore hari. Buat anak yang sekolah pagi, terpaksalah mereka izin atau bolos sekolah. Mestinya ini juga jadi masalah, seperti dikatakan Irwinsyah. “Seharusnya semua acara TV dibuat secara profesional. Tidak setengah-setengah.”
Ditulis oleh: Rachmat Riyadi
Dok. Monitor – No. 62/II/minggu ke-2 Januari 1988/6-12 Januari 1988, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar