BONUS - SMALL WONDER (TVRI)

 


TIFFANY BRISSETTE

VICKI. Rambutnya agak panjang pirang, mata berbinar, wajah cukup manis dan menggmeaskan, dan lucu. Sering mengundang ketawa lantaran gerakannya “kaku” dan kerap mengulang ucapan orang lain.

Bocah (era itu) berumur (waktu itu) 10 tahun itu juga punya keahlian atau kehebatan melebihi manusia umumnya, apalgai dibanding anak seusianya. Dia adalah Vicki, robot sekaligus komputer yang dirancang seperti manusia. Jadi, maklum saja kalau dia mampu menghafalkan beberapa bab tanpa ada satu kata pun yang terlewat.

Juga kekuatannya mengangkat barbel atau tabung berisi air seberat 10 liter hanya dengan tangan satu. Keunikan lainnya, tidurnya – padahal itu tak ia perlukan – dalam kotak lemari. Terlepas dari cerita kocak film seri Small Wonder, sesungguhnya kemampuan main Tiffany Brissette, pemeran Vicki, pantas dikagumi.

Sekali lagi, itu juga bisa dimaklumi, jika melihat latar belakangnya. Tifany, kelahiran paradise, California, 24 Desember 1974 ini, telah menjadi bintang sejak berumur 4 tahun. Dlaam usia segitu ia sudah menjadi tambang emas keluarganya dengan main drama, film TV, film layar lebar, dan mengisi spot-spot iklan radio.

 

Sebelum memerankan Vicki – yang filmnya diterjemahkan TVRI menjadi Vicki Si Anak Ajaib – Tiffany memang telah mendapat julukan anak ajaib (waktu itu). Dalam beberapa lomba teater anak-anak, ia berkali-kali dinobatkan sebagai pemain terbaik. Orangtuanya rupanya menyadari bakat sang anak. Maka, Tiffany lalu dititipkan pada sebuah agensi, yang kemudian menawarkan ke banyak perusahaan untuk mengiklankan beragam produk di layar televisi.

Mulai dari mainan, merek minuman, sampai komputer. Tabungan si anak ajaib (era itu) ini semakin bertambah setelah ia mendukung film bioskop The Pin, Heart Like A Wheel, dan film TV – sebelum Small Wonder – yang juga komedi, Webster (di Indonesia kemudian diputar TVRI Programa 2-red). Film keluaran ABC-TV itu bahkan sempat ‘hit’.

Biar begitu, kayaknya ia (waktu itu) belum menyadari atau belum mengerti apa yang (sampai saat itu) telah diraihnya. Pribadinya (waktu itu) masih polos, sepolos jawabannya waktu ditanya bagaimana jadi Vicki. “Vicki itu lucu sekali. Kadang-kadang matanya bisa bersinar-sinar dan berubah warna. Atau kepalanya dapat diputar. Mata dan kepalaku sendiri sih nggak bisa begitu. Semuanya khan cuma bohongan.”

Apalagi Tiffany? “Robot lebih banyak melakukan yang aneh-aneh. Dan dia juga sering nakal.” Tiffany sendiri? “Kata mama aku anak manis dan pintar.”

Pintar menyanyi juga? “Iya, aku suka menyanyi, menari, dan bermain piano. Tapi aku juga senang senam, berenang, membaca, dan naik kuda.” Kok banyak banget hobinya? Kalau begitu, jika sudah besar mau jadi apa, dong? “Mau jadi dokter gigi, biar bisa menolong banyak orang.” Omongannya kayak sudah ada yang mengatur. Tapi, ya biarin aja, ya?

MARLA PENNINGTON

JOAN LAWSON. Istri Ted atau ibu Jamie inid igambarkan sebagai wanita energik dan cantik dengan rambut pirang dan mata biru. Seperti Dick Christie, sebelum di Small Wonder, ia sering muncul di layar TV sini (TVRI-red), meskipun ya cuma sekilas.

Film seri lain yang (sampai saat itu) telah ia libati: Lucas Tanner, Charlie’s Angels, Happy Days, How The West Was Won (semuanya diputar di Indonesia lewat TVRI-red), Magnum P.I. (di Indonesia kemudian diputar RCTI/SCTV-red), dan serial komedi yang sempat populer, Soap – di situ rolnya sama seperti di Small Wonder. Sedangkan film untuk layar perak adalah The Morning After, Day of The Locust, Taste of Honey, The Chalk Garden, dan Out of The Frying Pan.

Lahir di Burbank, California, Marla Pennington sejak umur 19 tahun baisa mendapat peran sebagai wanita yang rada memberontak. Maka, tentang peran Joan, dia bilang, “Aku merasa lulus dari peran gadis yang seenaknya, jadi ibu yang baik. Joan bisa dibilang gambaran dari wanita, istri, dan ibu modern. Segalanya demi kepentingan keluarga.”

 

Soal Small Wonder sendiri? “Aku rasa anak-anak suka. Karena setiap anak-anak tentu akan tertarik dengan robot kecil, ‘video game’, atau komputer. Waktu aku umur 4 tahun, aku pun sering main Donkey Kong.” Menyinggung soal pribadi, Marla tampaknya enggan mengungkap diri. Cuma diektahui juika tidak mempunyai kegiatan syuting, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan membaca atau memanjakan anaknya, Elsie. Suami? Marla memilih untuk tutup mulut.

Kegemarannya memasak, dimanfaatkan oleh salah satu majalah untuk memegang rubrik soal resep masakan. “Setiap tahun, resep-resep yang telah kubuat itu diterbitkan dalam sebuah buku,” ujarnya bangga. Kebanggaan lainnya, Marla (waktu itu) akan mengundang teman-temannya bila ia menemukan resep baru.

Lalu, keinginanmu, 1988, Marla? “Aku berharap secepatnya aku dapat peran sebagai orangtua. Nenek gitu. Bagiku itu tantangan. Apakah aku juga akan lulus dari peran ibu-ibu ke nenek-nenek?”

JERRY SUPIRAN

JAMIE. Seperti bocah umumnya, ketika orangtuanya rada-rada sedikit banyak mulai memberi perhatian pada Vicki, ia (waktu itu) ngambek. Merasa dirinya tak lagi mendapat kasih sayang. Malah buntutnya, ia sempat kabur dari rumah. Tapi, toh kemudian ia malah sayang banget sama “adik tiri”-nya itu.

Bagi Jerry Supiran, perannya sebagai Jamie adalah salah satu dari berpuluh-puluh peran yang telah ia mainkan. Lahir di Arcadia, California, bintang cilik (era itu) ini sudah terlibat (sampai saat itu) hampir 30 judul film TV dan bioskop. Itu masih ditambah lagi mengiklankan sekitar 100 produk lewat radio maupun layar TV.

Sejak baru bisa berjalan, Jerry sudah laku. Film yang didukungnya pertama kali Uncommon Valor. Lalu, menyusul The Devil and Max Devlin, Miracle of The Mountain, The Natural, Cross Creek, Romantic Comedy, dan lainnya. Untuk film TV: Archie Bunker’s Place, The Bob Newhart Show, Happy Days (di Indonesia diputar TVRI-red), Trapper John MD, Fame (di Indonesia diputar RCTI-red), CHIPS, dan Battlestar Galactica (di Indonesia keduanya diputar TVRI-red).

 

Jerry yang kagum sama Michael Jackson ini malah pernah terpilih sebagai bocah yang punya senyuman paling menggemaskan, yang diselenggarakan secara iseng oleh kalangan film. “Dia memang sering berbuat salah, tapi juga selalu belajar dari keaslahan itu. Itulah yagn aku sukai dari Jamie,” kata Jerry perihal perannya.

Suka berkuda, main ‘baseball’, sulapan, sepakbola, dan cukup cekatan menekan tuts-tuts piano, Jerry (waktu itu) masih suka ditemani orangtuanya kalau syuting. “Orangtuaku sama baiknya dengan Ted dan Joan Lawson.” Eh, ngomong-ngomong bisa main piano belajar dari siapa? “Secara tak langsung, neneklah yang mengajari. Aku paling senang kalau dia memainkan sebuah lagu anak-anak untukku.”

Suka ngambek juga sepreti Jamie? “Aku suka sebel, kalau nggak boleh main ‘baseball’ pas becek-becekan.” Nantinya pengen jadi pemain ‘baseball’ yagn hebat, Jerry? “ya, sama jadi penyanyi seperti Michael Jackson.” Wah.

DICK CHRISTIE

TED LAWSON. Ini yang menciptakan Vicki. Mulanya, ciptaan itu nggak diterima bossnya di General Robotronics. Setelah ia bawa ke rumah dan disempurnakan, Ted dan istrinya, Joan, akhirnya malah menganggap anak sendiri – atau adik anak laki-lakinya, Jamie.

Tentang Dick Christie, pemerannya, sebenarnya kalau jeli wajahnya cukup bisa dikenali. Karena sebelumnya ia pernah muncul di layar TV sini (TVRI-red) dalam Hart To Hart, The Waltons, dan Eight Is Enough. Memang, di situ ia tak lebih dari bintang tamu. Sama halnya dengan film-filmnya yang lain: Newhart, Knots Landing (di Indonesia keduanya diputar RCTI-red), Mae West, dan Enola Gya.

 

Kalau untuk film layar lebar, Dick sudah terlibat dalam Looker, Honky Tonk Freeway, The Number, Brainstorm, Promise In The Dark, dan yang (waktu itu) telah beredar di sini, Any Which Way U Can. Aktor kelahiran Long Beach, California ini lebih banyak menghabiskan masa mudanya di Omaha.

Karirnya dimulai jadi dosen di University of Nebraska, yang juga bekas almamaternya. Di situ ia mengajar teater dan fotografi. Namun, Dick sendiri pun tetap aktif di panggung, sekalipun (waktu itu) masih terbatas di daerahnya. Jikalau kemudian ia memutuskan untuk memilih dunianya, 1988 ini, menurutnya itu sebenarnya langkah spekulasi.

“Aku memutuskan untuk pergi ke Los Angeles cuma membawa satu harapan – siapa tahu akan beruntung. Aku kira, sekarang (1988-red) aku telah mendapatkannya. Dan memang di situlah tempatku sebenarnya,” tuturnya (waktu itu).

 “Tipe Ted itu enak diajak berteman. Dia cukup hangat, pandangannya luas, dan tidak terlalu banyak membuat peraturan dalam rumah tangga.” Bedanya sama kamu? “Dia cukup kaya, sedangkan aku tidak,” jawabnya sambil tertawa. Dick setidaknya dalam kesehariannya memang suka bercanda kayak yang terlihat di film.

Eh, apakah istrimu, Chris, juga baik seperti Joan? “’Yes’, dia istri yang baik, dia bisa mengerti profesiku.” Terus kalau soal film itu sendiri? “Film komedi yang enak ditonton. Biar fokusnya sebagian besar tentang robot, tapi nilai kemanusiaannya tetap ada,” ucap aktor yang kalau nggak pas syuting suka main golf ini – berpromosi.

EMILY SCHULMAN

HARRIET. Dia memang bukan termasuk kelaurga Ted. Tapi dia tergolong pendukung utamanya. Kecerewetan, keusilan dan keingintahuannya merupakan penambah warna film seri Small Wonder. Singkatnya, Harriet yang ditokohkan sebagai ‘troublemaker’ justru pemberi warna yang menarik.

Lahir di Los Angeles, Emily Schulman mulai kenal kamera sejak ia baru bisa berjalan. Umur 1 tahun. Katanya, “Kalau banyak anak-anak yang belum bisa menentukan karirnya, aku justru sebaliknya.” Ucapannya memang rada sombong. Soal kenakalannya dalam Small Wonder, Emily berujar, “Harriet itu sebenarnya nggak nakal kok. Dia itu orangnya cuma pengen tahu saja. Aku suka sama karakter dia, tapi aku nggak mau menirunya.” Kenapa? “Habis, banyak yang benci sama dia.”

 


Entah siapa yang mengajari, Emily punya nasihat. “Jadilah dirimu sendiri. Dan tekunilah apa yang kamu kerjakan.” Waduh, waduh, waduh… Terus komentar tentang Small Wonder? “Film itu cocok untuk ditonton sekleuarga. Kakak-kakakku senang menontonnya.”

Senang main film? “Seneng banget, kau jadi punya banyak teman. Lagipula kalau rekaman bajuku ganti-ganti. Bagus-bagus lagi.” Emily paling gembira kalau kakak-kakaknya mengatakan ia mirip Barbra Streisand. “Mereka juga sering memberiku duit, membelikan boneka. Aku punya boneka kesayangan, namanya Barbie.”

Barbie itulah yang sering menemaninya jika rekaman, di samping orangtuanya. “’Mom’ dan ’dad’ suka menegur. Kalau aku sering melakukan kesalahan. Tapi kalau mainku bagus mereka tak lupa memberikan ciuman.” Mau main film terus sampai gede? “Iya, aku memang paling senang berakting.”

Ditulis oleh: Tavip Riyanto

Dok. Monitor – No. 62/II/minggu ke-2 Januari 1988/6-12 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer