BONUS - SINETRON PULANG (TVRI), PERLAMBANG SEMANGAT TEGUH KARYA YANG SELALU DALAM PENGEMBARAAN

 

SIKAP, SEMANGAT. Terakhir kali (kala itu) sutradara Teguh Karya membuat film 2 tahun yang sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1986-red). Filmnya, ibunda dalam FFI 1986, memborong sejumlah Piala Citra, selain dinobatkan sebagai film terbaik.

Prestasi Ibunda tidak berhenti di situ. Sebagaimana Teguh, namanya tetap menjadi pembicaraan ramai dalam peta bumi perfilman nasional maupun internasional. Sehingga tidak lebih dan tidak kurang, langkah-langkah Teguh kian jelas sebagai ukurann, baik dari sudut sikap dan semangat. Sejak lama dalam menggumuli dunianya, Teguh mengambil sikap yang tegas. Ia sepertinya ogah melantunkan kata kompromi.

Hampir semua orang tahu bahwa karya-karyanya memberikan suatu warna yang menggigit. Sejak film pertamanya, Wajah Seoarng Laki-Laki, sampai yang kemudian-kemudian memperihatkan tanda kalau Teguh makin setia menggali masalah keseharian. Ibunda adalah puncaknya. Sampai-sampai seorang pakar film berkomentar, “Ini eksperimen Teguh. Pendekatan Ibunda bukan pendekatan secara film, tapi pendekatan televisi.” Di sinilah keunggulan Teguh.

Masalah-masalah teknis sudah dikausai, sehingga ia tak terasa kagok untuk menyampaikan khotbah kebijaksanaan hidup. Ketidakakgokan itu juga dibawa ke layar televisi. Sinetron Pulang adalah lakon yang mentengahkan realitas keseharian juga. Semuanya mengalir. Dengan irama yang lancar dan adegan terjaga rapi. Mungkin karena itu, kembalinya Teguh membesut Pulang di media televisi (TVRI-red), menjadi semacam pengembaraan.

Pengembaraan untuk mengangkat tema-tema sederhana, lantas berlatih lagi menceritakan secara menarik. Kekuatan Pulang, begitu pun dengan karya-karya Teguh yang lain, terletak pada bentuk pengorganisasiannya yang ketat. Pengorganisasian ini sangat merasuk dalam seluruh elemen sinematografi. Sekadar bertanya: apakah bentuk organisasi yang ketat itu mampu memberikan tonjolkan terhadap pemirsa?

Sebuah tontonan tidak berhenti atau selesai pada wujud kecermatan konsep penyutradaraan, namun terletak pada kelarutan pemirsa untuk lebih beremosi. Memang, hampir semua tema yang dibesut Teguh selalu menyodorkan gambaran kegagalan gambaran kegagalan manusia dalam mempertahankan hubungan-hubungannya, termasuk Pulang.

Inti persoalan Pulang ialah kepahitan hidup. Pulang pun ditutup dengan penegasan tentang keraifan hidup pak Loddy (Didi Petet), seorang duda pensiunan yang waktunya sebagiban besar dicurahkan pada pekerjaan sosial, selain terhadap kembalinya si putri bungsu Nina (Rini S. Bono) yang telah tiga tahun meninggalkan rumah.

Selebihnya, kisah itu bermuara pada kasih sayang seorang bapak yang batinnya perih merintih Ingin membahagiakan kedua anak perempuannya; Lisa (Niniek L. Karim) dan Nina. Bapak yang mempunyai kedudukan terpandang, Lisa yang terlambat kawin, meski Tono (Alex Komang) setia menunggu, serta Nina yang tertipu rayuan gombal seorang lelaki, semuanya merupakan gambaran dari kewajaran hidup.

Kewajaran tersebut juga kewajaran Teguh dalam membina semangatnya. Ia mirip pak Loddy yang ingin membahagiakan suasana perfilman nasional. Dalam batas-batas tertentu ia telah menemukan keyakinannya. Ia sudah mengutarakan wawasannya dengan sikap yang jelas. Kerjanya yang tanpa pamrih memang memiliki nilai plus. Kerjanya tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk televisi. Teguh memang seornag pengembara. Tak pernah berhenti.

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi

Dok. Monitor – No. 71/II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988, dengan sedikit perubahan 


Komentar

Postingan Populer