BONUS - SI UNYIL DITELITI. TERNYATA TOKOH-TOKOH TUA YANG JUSTRU DIMINATI (SI UNYIL, TVRI PROGRAMA 1 - SETIAP MINGGU Pkl: 10.55 WIB)

 Drs. Suyadi, pengisi suara pak Raden

KALAU ada film serial produksi dalam negeri yang paling awet ditayangkan TVRI, film boneka si Unyil dengan kawan-kawan dan kampung halamannya, desa Sukamaju, pasti menduduki peringkat atas.

Cuma, ya ini, kayaknya, Unyil nggak bisa berkembang sebagaimana pemirsanya. Soerang remaja (era itu), yang 6 tahun sebelum bacaan sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1983-red) keranjingan film boneka ini – waktu itu masih kelas 3 SD, mungkin sama dengan pendidikan Unyil, Usro, dan Ucrit – 1989 sudah lulus SMP. “Sementara Unyil-nya nggak naik-naik kelas.”

Padahal, Oshin – maksudnya seperti film seri Oshin – produsernya mengikuti perkembangan karakter tokohnya, mulai dari kecil, remaja, dewasadan masa tuanya. Karenanya, mengikuti film boneka si Unyil, tidak menunjukkan perkembangan karakter tokoh tersebut. Lantas, apakah anak-anak seperti Unyil dan kawan-kawannya pantas jadi prototipe anak-anak Indonesia?

Seorang dosen jurusan teknologi pendidikan, fakultas ilmu pendidikan, IKIP Negeri Surabaya, Dra. Endang Ariadi Suwarno, mengadkan penleitian sekitar minat masyarakat – terutama anak-anak (era itu) – terhadap film boneka si Unyil. Judulnya, Studi tentang Sikap Masyarakat terhadap Program Pendidikan Lewat Televisi “si Unyil” Ditinjau dari Tingkat Usia dan Latar Belakang Pendidikan.

Sampelnya, 200 orang repsonden anak-anak, remaja, dan dewasa (era itu) dengan Tingkat pendidikan setaraf sekolah dasar (SD), yang tinggal di perumahan susun Urip Sumoharjo, Surabaya. Hasilnya? Tokoh-tokoh film boneka produksi PPFN ini, yang paling diuksi justru tokoh antagonisnya. “Pak Raden, pak Ogah, Ableh, dan mbok Bariah, selalu ditempatkan pada peringkat atas oleh para responden.”

Menurut sarjana pendidikan alumnus fakultas keguruan ilmu pendidikan Universitas Airlangga, malang (belakangan itu – IKIP Negeri Malang), tahun 1970, Unyil hanya menempati peringkat ke-6 dari persentase keseluruhan tokoh yang disukai responden pemirsa televisi. “Tokoh anak-anak yang lebih disukai tinimbang Unyil, adalah Mei Lan.” Mei Lan menempati peringkat ke-5.

“Barangkali karena Mei Lan punya karakter yang jelas. Bukan karena ia digambarkan sebagai anak keturunan Tionghoa. Tapi soalnya Mei Lan menunjukkan sikap yang kuat sebagai anak-anak. Sikap anak yang sehat, saya kira selalu kritis. Ini tersalurkan lewat Mei Lan yang selalu bertengkar dengan engkongnya. Selalu memprotes pendapat engkongnya. Karenanya, tokoh ini lebih disukai oleh anak-anak.”

NEGATIF, POSITIF. Lantas, Unyil sendiri? “Unyil sebenarnya tokoh yang baik, Cuma karakternya nggak jelas. Setiap kali saya bertanya kepada responden, bagaimana pendapatnya tentang Unyil, responden yang bersangkutan selalu balik bertanya, “Gimana, ya?”

Hal itu tidak terjadi pada tokoh pak Raden, misalnya. “Mereka bisa memberikan komentar pasti. Misalnya, saya tidak suka karena pak Raden orangnya sok, suka marah, pelit. Atau ada responden yang suka, karena pak Raden dinilainya bersikap inovatif.”

Dari penelitian yang dibiayai pusat penelitian IKIP Negeri Surabaya dan dilakukan sepanjang akhir tahun 1988, menampakkan anak-anak (era itu) bisa memilih tokoh-tokoh yang disukainya. Lepas dari tokoh itu bersikap negatif atau positif, yang jelas, tokoh yang disukai itu memiliki karakter yang kuat.

“Jangan salahkan anak-anak kalau menyukai tokoh seperti pak Ogah. Kendati sebelumnya Ogah digambarkan sebagai tokoh yang seharusnya dibenci, karena malas dan selalu minta uang kepada anak-anak yang lewat di depan pos kamlingnya. Tapi karena karakter Ogah yang kuat dan selalu diantisipasi oleh para pemirsa televisi, anak-anak sekarang (1989-red) mengidentifikasikan kepadanya.”

Contohnya? “Entah bergurau atau serius, anak-anak sekarang (1989-red) kalau ditanya atau disuruh oleh orangtuanya atau orang yang lebih tua selalu menadahkan tangan sambil ngomong, “Cepek dulu, dong”. Ini khan menunjukkan anak-anak sudah menyukai tokoh yang seharusnya dibenci.”

Betul atau tidaknya, tapi dalam psikologi memang dikenal perubahan sikap dari membenci menjadi simpati. “Seseorang yang benci, tapi karena setiap kali ketemu dan diyakinkan, lama-lama jadi netral, lantas suka, akhirnya simpati,” ujar ibu dua anak yang juga ketua Yayasan Kelompok Pencinta Anak dan Lingkungan di Surabaya ini.

Tentunya, begitu juga sebaliknya. Dari simpati pun bisa jdai benci. Itulah kiranya Unyil. “Masak sih, anak kecil sudah pinter menasihati? Meskipun kepada teman sebayanya.” Karenanya, dalam penelitian ibu dosen Endang yang suka makna pedas-pedas ini mengungkapkan, “89% responden penelitian ini menyatakan, Unyil belum menunjukkan profil sebagai anak Indonesia.” Lantas, Unyil anak mana? “Anak desa Sukamaju. Cuma, desa Sukamaju yang nggak jelas. Di mana?”

Jadi, pesan Endang Ariadi yang juga menjadi anggota BPM (Badan Pengembangan Media) TV Depdikbud Jatim seksi naskah, “Membuat karakter anak harus tepat. Seperti misalnya, dulu (jauh sebelum 1989-red), film Jenderal Kancil, tokoh anak-anaknya punya karakter yang jelas. Dia pemberani, nakal, tapi juga bertanggung jawab.”

Lantas, komentarnya terhadap produser Unyil? “Kayaknya mereka kurang intens dalam menggauli dunia anak-anak. Buktinya, karakter tokoh-tokoh orangtua yang paling pas dalam film si Unyil.” Sedangkan tokoh anak-anaknya jadi dewasa sebelum wakutnya. Begitu?

Ditulis oleh: Rusdi Zaki

Dok. Monitor – No. 136/III/minggu ke-1 Juni 1989/7-13 Juni 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer