BONUS - SETELAH BERISTRI, LIEF GARRETT MENEMUKAN DIRINYA KEMBALI (FILM CERITA, THREE FOR THE ROAD/TVRI PROGRAMA 1 - SENIN, 5 JUNI 1989 Pkl: 22.30 WIB)
SETELAH sekian lama menghilang, dua kali Lief Garrett muncul di layar kaca. Pertama, menjadi bintang tamu dalam sebuah episode Hunter (di Indonesia diputar TVRI Programa 1-red). Kedua, Juni 1989 ini dengan berperan sebagai Endy Karras, anak seorang fotografer yang mendorong ayahnya dalam upaya mendekati reporter televisi, Amy (Julie Sommars).
Film ini memang bukan film terbarunya. Di situ bahkan Lief dikisahkan baru berumur 14 tahun. Dan film itu memang dibuat tahun 1975. Banyak yang bertanya-tanya, ke mana saja pemain film dan penyanyi yang pernah jadi idola remaja di tahun 1980 ini? “Saya mengalami kekeceawan berat. Dan saya memutuskan untuk menyingkir dulu,” jawab Lief.
Mental Lief ‘down’ gara-gara ia mengendarai mobil dalam keadaan mabuk hingga terjadi kecelakaan. “Sejak itu saya perlu memperbaharui kehidupan saya. Maka saya memutuskan untuk meninggalkan penggemar untuk merenungkan diri. Berat juga sebenarnya, karena untuk bisa meraih kesukessan lagi, saya harus memulai dari awal.” Kenyataannya begitu. Sampai saat itu pun, ia belum bisa mengulang yang pernah digapainya.
Perjalanan karir yang telah ditempuhnya setengah berat, musnah hanya karena kesalahan yang dilakukan dirinya sendiri. “Padahal, untuk itu saya harus bekerja keras. Tapi ya, inilah kenyataan yang harus saya terima. Sebetapapun mengecewakannya.”
Lief mengawali debutnya ketika berumur lima tahun dalam film Bob & Caorl & Ted & Alice. Lalu berlanjut sampai tahun 70an lewat Cade’s Country, Gunsmoke, The Odd Couple, Family, dan yang (waktu itu) paling menonjol adalah Walking Tall. Pada tahun 1977, Lief yang lahir di Hollywood, 8 November 1961 ini mulai menjajal bakatnya sebagai penyanyi.
Dua tahun ia ber-‘rock ‘n roll’ dan sempat melejitkan ‘single’ Surfin USA, sebelum akhirnya semuanya hancur ketika kecelakaan terjadi. “Semua masalah yang saya hadapi adalah hukuman bagi diri saya. Jauh di dasar hati, saya merasa, saya tidak berhak mendapatkan apa yang telah diberikan pada saya. Pada akhirnya, saya sangat tidak suka pada diri saya sendiri.” Penyesalan Lief memang berkpanjangn, sampai 8 tahun kemudian ia merasa menemukan dirinya lagi.
MASAK, ANAK. Lewat Pary Line ia ingin bangkit kembali.
Namun, sesungguhnya yang berperan banyak dalam menyembuhkan jiwanya adalah Justine
Bateman, istrinya yang terkenal lewat serial Family Ties – film ini (waktu itu)
tengah ditayangkan RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). “Di samping itu,
karakter tokoh yang saya mainkan itu seperti yang terjadi pada diri saya dulu:
orang yang mengalami gangguan psikologis. Bedanya hal ini diakibatkan
obat-obatan.”
Lief rupanya sadar. Untuk kemali setelah beberapa lama vakum, (waktu itu) akan banyak kesulitan. “Bagi saya rasa canggung pasti ada. Tapi yang terutama, sulitnya mengubah ‘image’ sutradara tentang diri saya. Mereka sudah terlanjur menganggap saya ini penyanyi rock yang liar, bukan seorang yang bisa juga berakting. Mereka kayaknya belum memahami kalau saya kembali lagi ke film seperti sekarang (1989-red) ini benar-benar serius. Saya ingin juga suatu saat bisa meraih Oscar.”
Kalau mengingat anggapan-anggapan itu, Lief hampir putus asa. Ingin rasanya meninggalkan film selamanya. Lagi-lagi istrinya yang menumbuhkan semangat. Karena itu, tentang istrinya, Lief berkomentar, “Dia berperan banyak pada diri saya. Dia cerdas, paling cerdas dibanding wanita-wanita yang pernah saya temui.”
Pasangan ini bertemu ketika Justine Bateman mengadakan pesta ulang tahun pada 19 Februari 1987. Dari situ mereka lalu mengadakan kencan untuk merayakan hari Natal di Aspen, Colorado. Menurut Lief, ia pertama tertarik pada Justine pada matnaya. “Kemudian, saya dapatkan lebih banyak lagi segi menariknya dari dia.”
Kalau Justine? “Saya mulanya tertarik pada gayanya. Di balik sikapnya yang tampak dingin itu saya melihat ada kekecewaan dalam dirinya.” Soal satu hal yang kurang pada diri Justine, menurut Lief, “Sayangnya, dia tidak bisa memasak.”
Ketika pertanyaan yang sama ditujukan pada istrinya, Justine justru menjawab, “Tidak ada. Saya tidak mendapatkan kekurangan pada dirinya.” Belebihan? Bisa jadi. Tapi, ya biar saja. Memuji suami sendiri khan nggak ada yang melarang.”
Pasangan yang (waktu itu) tengah bahagia ini lalu mengutarakan rencannaya. Lief yang mewakili bicara. “Kami akan coba main film televisi bersama. Kalau mungkin, kami juga akan masuk dapur rekaman. Tapi yang lebih penting lagi kami ingin segera punya anak.” Masa suram (waktu itu) telah berganti. Lief Garrett (belakangan itu) memang tengah menikmati kehidupan yang (waktu itu) baru.
Ditulis oleh: Tavip Riyanto
Dok. Monitor – No. 135/III/minggu ke-5 Mei 1989/31 Mei-6 Juni 1989, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar