BONUS - SERI BARU 1988, BARUNA. ADA DOKTER YANG JATUH CINTA. ADA PENUMPANG YANG GILA. SEMUA TERJADI DI ATAS LAUT (DRAMA SERI BARUNA, TVRI - MULAI RABU, 13 JANUARI 1988 Pkl: 21.30 WIB)
SEBUAH drama seri baru (era itu) muncul di awal Tahun Baru 1988, Baruna, Dewa Laut. Muncul setiap bulan seperti juga dengan Losmen dan Pondokan (keduanya juga di TVRI-red), seri Baruna seharusnya menyajikan yang lain. Bayangkan saja. Pengambilan adegan seluruhnya lokasi luar. Tidak itu saja, sekitar 70% dari setiap seri, diambil di lautan. Persisnya di atas sebuah kapal ferry yang hilir mudik setiap hari di selat Sunda pulang pergi Merak-Bakauheni.
Bukan saja cerita, gambar segar tentang dunia di luar lokasi studio TVRI, malah di luar daratan bisa diharapkan. Dan banyak hal bisa digali dari kapal ferry yang baru dibeli dan beroperasi tahun 1987 lalu. Kapal modern dengan panjang sekitar 90 meter dan lebar 17 meter selain bisa memuat 350 penumpang juga menampung 45 truk dan 30 mobil.
Betapa kayaunya dunia yang amat jarang ditampilkan ini.
Sesuatu yang oleh perfilman Indonesia pun jarang disentuh. H. Imran Musa,
produser pelaksana serial ini, terus terang mengatakan, “Kalau saya harus sewa,
bisa dua juta rupiah per harinya.”
Ongkos produksi per seri dihitung rata-rata Cuma menghabiskan 150 juta rupiah. Tidak lebih dari biaya produksi TVRI. Kenapa? Inilah kemurahan hati sang pemilik kapal, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Menyambut ide besar dari adik iparnya, Sri Sultan membeirkan kebebasan buat H. Imran Musa untuk menuangkan dienya dan memanfaatkan fasilitas kapalnya. Tidak ada batasan-batasan. Pesan Sri Sultan juga sederhana saja, “Lingkungan sekitar kapal bisa dikembangkan.”
BEBAS. Desember 1986, berdirilah PT Shwarna Bhumi Bhahana Film. Impian Imran Musa 10 tahun sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1978-red) terlaksana. Jadilah ia direktur sekaligus produser pelaksana. Pernah main dalam beberapa film cerita, termasuk Atheis, H. Imran mulai menghubungi beberapa teman lama. Berdasarkan ide cerita dari dia, skenario dibuat.
Begitu kru komplit, April 1987 syuting dimulai. Lahirlah tiga produksi sekaligus. Ini memang salah satu cara menghemat biaya. Toh, ketiganya akhirnya diakuinya tidak bisa bicara apa-apa. Kurangnya pengalaman, kru yang bleum matang, menjadi penyebab utama Perombakan dilakukan. Sutradara CM Nas ditarik. Ananto Widodo dari TVRI menulis skenarionya. Juru kamera senior, Lukman Hakim Nain, ditarik.
Selain paket baru (era itu), tiga paket lama (ketika itu)
menjadi tugas sutradara baru (era itu) untuk merevisi. Terjadi pula pergantian
pemain tetap. Pong Hardjatmo menggnatikan Hendra Cipta. Peran dokter juga
dibuat berganti-ganti: Ade Irawan atau Rini S. Bono.
Kerepotan kerja mereka menjadi penyebabnya. Padahal, aslinya, Imran sudah meng-‘casting’ Widyawati. Sayang, hari kosong Widya cuma Sabtu dan Minggu. Pemain tetap lainnya: Imran sendiri sebagai kapten Ponco, Moch. Yunus sebagai kepala kamar mesin (KKM), dan Lia Aristantra sebagai suster Lia.
Gadis (era itu) berusia (waktu itu) 17 tahun ini cuma punya masalah sedikit dengan sekolahnya kalau harus syuting. Harus izin. Ia anak keenam Imran. Bersama CM Nas, episode berikutnya, Ibunda, digarap cepat. Toh, harus diulur-ulur.
Penyebabnya, Sri Sultan, setelah melihat hasil ‘editing’,
menyayangkan pertemuan sang kapten yang sudah lama merindukan ibunya
diselesaikan begitu cepat. Skenario dijabarkan kembali oleh sutradara merangkap
penulis skenario. Dan pemain-pemain yang biasa muncul di layar perak maupun
layar gelas bermunculan. Antara lain bibi Supi, Roldiah Matulapessy, dan
Awaluddin.
Dengan penyunting gambar Joni, putra pertama Imran, dan ilustrasi musik garapan keluarga H. Imran plus diskotek, beberapa seri Baruna lolos sensor BSF (Badan Sensor Film). Pihak TVRI juga memuji. “Lebih bagus dari produksi TVRI.” Sampai seri keberapa? “Sejauh seri ini disenangi pemirsa dan sejauh kmemapuan yang pada saya,” jawab Imran.
BEBAN. Dua beban ini memang harus ditanggung. Apalagi Baruna
pasti (waktu itu) akan dibanding-bandingkan dengan seri lain yang sudah mapan.
Menyimak tayangan pertama, Tabir-Tabir, naskah yang ditulis oleh Ananto Widodo dan kemudian direvisi kembali oleh CM Nas, selain bicara kasus seorang penumpang, introduksi para pemain tetap dimunculkan. Sepertinya memberikan janji perkembangan berikutnya. Kapten Ponco, dalam umur sekitar setengah abad, ternyata (waktu itu) masih membujang.
KKM Bustomi (Pong Hardjatmo) ingin membunuh ayahnya sendiri. Lalu dokter Media (Rini S. Bono), selain suka mendalami psikologi, tampaknya jatuh hati kepada sang kapten. Kisah utama sendiri tentang Manan (Anwar Fuadi), penumpang yang sinting. Penyebabnya terbuka sedikit demi sedikit. Sang ayah (Harun Syarif) menyusul. Ada janji ketegangan setelah dilontarkan keterangan bahwa si anak yang gila ini selalu menyimpan senjata tajam.
Adegan demi adegan terjadi selama perjalanan yang kurang lebih satu setengah jam antara Merak-Bakauheni. Dalam waktu singkat itulah, pak Suto, ayah Manan, bisa mengambil keputusan yang bijaksana. Apakah memang harus begitu penyelesaian sebuah film Indonesia?
Begitulah, kalaupun masih terjadi beberapa kejanggalan, jangan terlalu kecewa. Ini (waktu itu) baru pertama. (Kala itu) masih bisa dilakukan perbaikan-perbaikan untuk seri berikutnya. (Waktu itu) masih ada harapan. Sayang sekali kalau kapal Baruna tidak bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menambah visi wawasan perfilman kita.
Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi/Rachmat Riyadi
CM NAS, SUTRADARA BARUNA (TVRI), TANPA TIKET KAPAL, BERLAYAR KE JAKARTA
SUTRADARA, SUMATERA. Ada banyak pantun didendangkan dalam dialog antar pemain tetap Baruna (TVRI). Termasuk Pong Hardjatmo, asal Solo, yang kemudian sedikit kerpeotan. Lidah Jawanya belum membuatnya lancar benar berpantun-ria. Semaunya memang ulah sutradara merangkap penulis skenario: CM Nas.
Orang bisa mengira, Nas adalah singkatan Nasution, mengingat logat Medan yang kental di lidahnya. Nyatanya, bapak 11 anak ini kelahiran Salatiga, 55 tahun yang sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1933-red), dan asli dilahirkan dari bapak dan ibu Jawa. Hanya karena besa rdi Medan berasma ibu, yang kemudian ternyata adalah istri pakdenya, budaya tanah perantauan inilah yang memberi warna kehidupannya kemudian.
Lulus SMP, Cah Mitra Nassurun kemudian jadi guru. Menonjolnya murid satu ini dalam bahasa Indonesia dan sedikitnya guru waktu itu, jadi penyebab utama anak muda (era itu) ini menjadi satu profesi dengan seorang guru seniornya, Probosutedjo.
Nyatanya, ia tidak lama dinas jadi guru. Pernah bercita-cita jadi pilot pesawat tempur, Nas yang (kala itu) memiliki tinggi 1,56 m dengan berat (waktu itu) 81 kg, tertarik dengan dunia film. Ia berangkat ke Padang, begitu mendengar sebuah perusahaan film berdiri di sana.
Harapan yang kosong. Perusahaan itu sudah mati sebelum berdiri. Terdampar di Padang, berkat bantuan teman, tidak lama kemudian, “perusahaan” cuci foto kilat yang didirikannya berkembang pesat. Komentarnya dengan ketawa terkekeh, “Itung-itung khan masih ada kaitannya dengan dunia film?”
Mendengar teman kecilnya, Sukarno M. Noor berada di Jakarta, Nas kembali terusik. Hanya berbekal uang sekadar bisa untuk makan di kapal ia nekad berlayar dari Jakarta. Sibuklah ia lari ke sana kemari menghindari pemeriksaan karcis di kapal. Nasib pula yang membutanya lolos di Priok yang ketat. Padahal, waktu itu, penumpang gelap yang tertangkap, bisa dijatuhi hukuman penjara 3 bulan.
Jakarta menempanya dalam dunia film. Kerja, kuliah, dan penataran dilakukannya. Cerita pendek dan novel yang lebih bicara soal dunia anak-anak di tempat ia dibesarkan, lahir pula selama kurun waktu itu.
Memulai karir sebagai sutradara tahun 1972 dalam Laskar Pajang, Nas tergolong sutradara yang tidak terlalu produktif. 10 tahun setelah film pertamanya, sebuah film anak-anak Lima Sahabat dibuatnya. Tidak masuk nominasi dalam FFI, toh film ini mendapat penghargaan dari PWI sebagai film anak-anak terbaik waktu itu.
Nas lalu terjun ke dunia film dokumenter. Peralatan video mulai digelutinya. Lalu sebuah film cerita lagi dibikin. Judulnya, Merindukan Kasih Sayang, tahun 1984. Akhirnya, ia terjun juga ke film seri sinetron Baruna. Diajak oleh H. Imran Musa, ia tertarik dengan gagasan besar ini. Dan sebuah skenario dibuatnya. Naskahnya ditolak. Baru setelah tiga produksi gagal, Nas ditarik kembali dan naskahnya dipakai lagi. Serinya, lalu berjudul Ibunda.
Laki-laki yang belakangan (ketika itu) ini selalu berpeci, yang lebih merasa Melayu daripada Jawa, selain mencoba menciptakan tokoh-tokoh di Baruna punya watak, juga menyisipkan unsur religi di dalamnya. “Kalau film barat bisa, kenapa kita tidak?” Begitu harapannya, seperti juga harapna pribadinya sendiri, yang sampai 1988 belum juga terlaksana, naik haji.
Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi/Rachmat Riyadi
Dok. Monitor – No. 63/II/minggu ke-3 Januari 1988/13-19 Januari 1988, dengan sedikit perubahan







Komentar
Posting Komentar