BONUS - SENANDUNG CINTA AYAH KANDUNG, MENGISAHKAN BERMACAM SIKAP CANGGUNG (JENDELA RUMAH KITA, TVRI PROGRAMA 1 - MINGGU, 17 SEPTEMBER 1989 Pkl: 21.30 WIB)

 Jojo dan Astuti

JOJO barangkali salah satu dari sedikit pemuda yang beruntung. Terkesan oleh tanggung jawab Jojo ketika menolong seorang anak korban tabrak lari, seorang direktur perusahaan iklan menggaetnya bekerja. Karena alasan inilah Jojo mendapat kepercayaan lebih.

Pertama, ia ditugaskan ke Borobudur untuk menyiapkan foto kalender dan ilustrasi buku yang diterbitkan oleh perusahaan minyak asing. Yang kedua, merealisasikan ide nakalnya tentang betis untuk iklan minyak wangi buatan dalam negeri. Ternyata tugas kedua lebih berat. Ia berurusan dengan para petugas satpam yang mencurigai kegiatannya. Maklum, pusat perbelanjaan atau plaza dengan segala jenisnya bukan sebuah candi yang merupakan milik dan kebanggaan suatu bangsa.

Kecuali beruntung, Jojo juga nekad. Kesempatan dan keleluasaan yang tersedia dimanfaatkan dengan tangkas. Ia tak mau kalah gertak dengan rekan-rekan seniornya. Ia tak mau kalah suara dengan tangan kanan boss yang paling disegani, Dra. Ayu Larasati, MA.

Dengan senjata keterbukaan, kepolosan, dan keterusterangan yang kadang sulit dicari batasannya, Jojo cepat menggaet simpati dari orang sekelilingnya, bahkan bu Ayu yang sangar bisa dilunakkan. Resep jitunya cuma satu: hargailah orang lain bila kau ingin dihargai. Dan bu Ayu pun merasa dihargai sebagai manusia, bukan sebagai atasan ketika Jojo meminta pertimbangan warna pakaian yang harus dikenakan di saat ‘meeting’ dengan para penentu perusahaan.

Hambatan mencari betis indah memaksa Jojo merayu pacarnya, Astuti, yang mula-mula bersikeras tidak mau memamerkan kelebihan kakinya. Jojo dengan kiat-rianya membuat Astuti bersedia. Kemudian terpilih, dan menandatangani kontrak. Tetapi terjadi sesuatu yang membuat segalanya berubah.

Ketika mendengar kabar dari Jojo bahwa Ayu seperti pernah kenal dirinya, Astuti membatalkan kontrak. Mengembalikan uang dan kertas perjanjian. Kemudian kabur dari rumah kos tanpa pamit. Jojo kelabakan. Ia pergi ke tempat kos. Ia hanya menjumpai kamar kosong, tempat tidur, potret, dan beberapa surat.

MANDIRI, JATI DIRI. Ada masalah yang tersembunyi di sini: kaitannya erat dengan diri Astuti dan asal usulnya. Jojo mengubernya ke rumah sakit kusta. Sebuah akhir yang pas. Berujud tanda tanya agar pemirsa menguber ke episode kedua, dengan menyisakan beberapa pertanyaan, siapa Astuti? Apa hubungan Astuti dengan Ayu? Dan mengapa Astuti melarikan diri dari Jojo?

Lepas dari suspens sempurna yang ditinggalkan, episode Senandung Cinta Ayah Kandung yang terdiri dari 2 bagian ini mencoba meniupkan nilai kemandirian. Nilai yang diwariskan oleh Umar Sidik. Yang bisa digarap Jojo, kendati lewat demikian saja pada Dedi yang bertitel dokter.

Hubungan antar manusia dalam lingkup sosial bisa direkam lewat semboyan praktis. Saling timbang rasa dan saling menghargai bisa dikemas rapi jali lewat dialog Jojo dengan salah seorang temannya yang malu menjadi tukang cukur kendati mahir melakukannya.

“Kamu masih malu jadi tukang cukur, Gus? Masih merasa lebih gagah nganggur, main gitar, melamun, begadang, ngomongin cewek? Kamu nggak tahu, tukang cukur itu pekerjaan yang menyadarkan bahwa manusia tak bisa hidup seorang diri. Bahwa kita perlu bekerjasama.”

Kekhawatiran Agus diejek teman-teman sebaya adalah gambaran kekhawatiran generasi canggung yang selalu berkutat pada gengsi fasilitas, dan apologi. Tanpa mau melihat prestasi, jati diri, dan kemandirian yang jauh lebih unggul dijadikan tumpuan harapan dan kemauan untuk mencoba.

Kecanggungan yang sama hinggap pada Ayu. Ia memakai topeng keangkuhan agar jadi pribadi eksklusif yang hanya bisa merasa aman di jenjang jabatan. Kecanggungan sejenis pula yang menyeret Astuti untuk lari dari kenyataan yang harus dihadapi dan diterimanya.

Seperti iklan yang menawarkan parfum lewat gambar betis, episode pertama dari SCAK mencoba melihat kerumitan pandangan seseorang terhadap dirinya dan orang lain dengan cara sederhana. Sikap Jojo dalam menghadapi ledekan teman sekantor, kekakuan bu Ayu dan konflik Astuti merupakan cara baru untuk melihat diri sendiri di tengah kehidupan sekeliling.

Seperti sebuah jendela yang memberikan kemungkinan melihat dari sisi pandang yang berbeda. Ibaratnya betis yang tak semata-mata cocok untuk iklan stoking atau sepatu. Jendela semacam ini selalu ada pada diri manusia. Jendela yang memberi kelebihan pada kita untuk melihat, memperbandingkan, mengkaji, dan kemudian mungkin membubuhkan nilai baru pada setiap peristiwa.

Ditulis oleh: Satmowi Atmowiloto

Dok. Monitor – No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan


Komentar

Postingan Populer