BONUS - SEJAK 1954, UNYIL DITUJUKAN UNTUK ANAK-ANAK YANG TAK BERKEMBANG (TVRI - MINGGU PAGI DAN RABU SORE)
PADA mulanya, direktur PFN (Perusahaan Film Negara), Drs.
G.S. Dwipayana prihatin, karena film seri yang disiarkan TVRI untuk anak-anak
(era itu), impor melulu. Serba luar negeri. Lalu, diundangnyalah Kurnain
Suhardiman dan Drs. Suyadi, pengarang dan perupa yang sudah terlanjur dekat
dengan anak-anak (era itu).
Kepada kedua orang ini, Dwipayana alias pak Dipo minta dibuat film anak-anak. Syaratnya: dapat disiarkan dalam waktu singkat dan biayanya relatif murah. Kurnain dan Suyadi, yang pernah melakukan eksperimen teater boneka menawarkan gagasannya. Dengan gagasan itu, memang, syarat yang diajukan pak Dipo bisa sekaligus dijawab. Tidak terlampau rumit. Gagasan diterima, cerita disusun, tokoh-tokohnya “dilahirkan”.
13 November 1979, syuting pertama berupa uji coba dilakukan.
52 judul diproduksi selama setahun. 5 April 1981, empat hari setelah siaran
niaga (iklan di TVRI-red) dihapuskan, disiarkanlah untuk pertama kalinya film
boneka si Unyil. Dan menjadi idola jutaan anak-anak Indonesia (era itu),
sehingga merangsang UNICEF menjadikannya sebagai pola film pendidikan yang
layak untuk negara-negara berkembang. Karena diawali dengan keprihatinan, si
Unyil juga lahir prihatin.
Ia tidak dilahirkan di studio khusus, tapi di gudang milik PFN yang lama tak dipergunakan. Dan di bekas gudang itulah sampai hari itu (hari-hari di tahun 1988, red), si Unyil beserta ibu-bapak, kerabat, dan tetangganya bersemayam.
Keseluruhan proses, mulai dari penulisan skenarionya yang dilakukan Kurnain Suhardiman, pembuatan boneka, properti, dan ‘design’ perupaan oleh Suyadi, pengambilan gambar yang dikomandani Agus, sampai pengisian suara dna ‘editing’, ya diselenggarakan di bekas gudang itu.
SUARA. Proses pembuatan film boneka si Unyil tidak jauh
berbeda dengan pembuatan film biasa. Bahkan kalaupun ada perbedaan, ya hanya
pada aktornya. Film biasa aktornya sudah terima jadi. Sedang si Unyil, aktornya
mesti dilahirkan dulu. Bonekanya dibikin. Memang bukan tanpa kerumitan. Ketika
pertama kali harus menciptakan tokoh-tokoh film boneka ini, Suyadi sempat
pusing juga.
“Bagaimana ya rupanya? Supaya benar-benar mewakili sosok anak Indonesia di desa namun peka terhadap perubahan masyarakatnya. Tapi nggak mewakili daerah tertentu.” Juga begitu ketika akan memvisual pak Raden, tokoh antagonis pensiunan ‘amtenaar’ zaman Belanda yang mudah marah, pemalas, dan tak berjiwa gotong-royong.
“Walaupun ketika membaca skenario kita sudah tahu bagaimana karakter tokoh-tokoh itu untuk ketepatan visualisasinya, tentu mesti banyak dicoba sampai ketemu yang paling tepat.” 1988, usai skenario ditulis, langsung bisa dibuat sketsanya, yang juga bisa langsung dicetak dengan cetakan dari tanah liat. Seterusnya, bisa langsung diambil gambarnya. Setelah itu, diisi suara. Kecuali untuk adegan menyanyi dengan musik hidup. Yang ini menggunakan sistem ‘playback’.
Pengisian suaranya, termasuk efek suara yang memberi suasana dan nuansa sesuatu adegan, dilakukan dengan sistem ‘dubbing’. Untuk tuntutan skenario menyangkut berbagai-bagai mimik, dibuat siasat tertentu.
Misalnya, untuk tokoh si Unyil dibuat sampai 15 boneka dengan berbagai mimik. Juga untuk tokoh-tokoh yang sering muncul, dibuat lebih dari satu. Sedang untuk figuran, cukup satu saja. Perubahan mimiknya, kalau dalam suatu seri ia ditampilkan lagi, cukup dengan mengubah ‘make up’-nya.
SENSOR. Pembuatan si Unyil digarap dengan model kerja
borongan. Mulai dari pembuatan skenario, boneka, dan pengambilan gambarnya.
Bisa sampai 10 seri. “Supaya efisien,” jelas Kurnain. Melalui kerja borongan,
pembuatan film boneka ini menjadi tidak perlu menunggu satu seri selesai, baru
dilanjutkan seri lainnya. Karena bisa dilakukan, adegan-adegan yang terdapat di
dalam beberapa seri, baik berurutan atau tidak berurutan, digarap sekaligus.
Begitu seterusnya. Termasuk penataan dekor yang menjadi ‘setting’-nya. Secara keseluruhan, proses pembuatan si Unyil ini menjadi terasa sederhana. Juga dalam pembuatan bonekanya, yang diciptakan dari kertas koran bekas yang diberi perekat. Kemudian diberi ‘plameur’ atau dempul, supaya mudah diamplas dan diberi warna dengan cat air.
Kesederhanaan juga tampak dalam konstruksi boneka, yang tidak dapat digerak-gerkakan seperti boneka ‘muppet’. Kecuali untuk boneka raksasa. “Kita tidak menggunakan boneka model ‘muppet’, karena mesti menggunakan ruang yang besar, seukuran orang yang memainkannya,” ulas Suyadi.
Padahal, untuk film boneka si Unyil ini, boneka-boneka hanya digerakkan dengan menggunakan tangan para dalang. Mereka, para dalang, ini memainkan boneka dari bawah properti, yang tingginya persis seukuran tinggi rata-rata manusia. Hanya letak kamera saja yang diletakkan lebih tinggi. Setinggi 30 sentimeter di atas kepala rata-rata orang dewasa.
Sehingga posisi boneka, persis berada dalam batas ruang bidik kamera. Seukuran ruang bidik kamera video ‘shooting’, yang memang dipergunakan untuk pengambilan gambar. Setelah semua proses rampung, seluruh seri film si Unyil masuk, sensor PFN. Baru kemudian dikirim ke TVRI untuk ditayangkan, sesuai dengan jadwalnya. Bisa dua, bisa juga sepuluh seri sekali kirim.
Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy
UNYIL DI PINGGIR JALAN DIBIARKAN, UNYIL DI GEDONGAN DIPERSOALKAN
KOMERSIAL, KONSUMSI. Mungkin karena terlanjur terkenal dan menyabet perhatian jutaan anak-anak Indonesia (era itu), tokoh si Unyil ternyata bukan cuma tokoh film boneka. Dia sudah menjadi label berbagai macam barang untuk konsumsi anak-anak (era itu). Keberadaan seperti itu, mengundang dirinya menjadi komersial. Tapi, “bapaknya”, Kurnain Suhardiman tidak tahu menahu soal komersialisasi “anaknya” itu.
“Dari semula kita bekerja di sini demi anak-anak. Karena kita memang mencintai anak-anak. Bila anak-anak senang, kita sudah puas. Kita gembira sekali kalau ternyata si Unyil disambut anak-anak.” Namun, jika komersialisasi itu dilakukan oleh pihak lain? “Itu di luar jangkauan kami.”
Untuk menghindari komersialisasi oleh pihak lain, semestinya si Unyil dilindungi hak cipta. Tapi soal ini ternyata tak diketahui oleh pencipta tokoh ini. Pun tidak diketahui pembuat bonekanya. “Hak cipta itu semestinya ada pada PFN dan para penciptanya. Tapi, untuk mengurus itu semua, terutama ketidakwajaran mereka yang mengkomersialisasikan si Unyil, mana kami ada waktu?,” ungkap Suyadi, yang biasa memerankan tokoh pak Raden melalui suaranya.
Dia mengatakan, seharusnya PFN yang bergerak kalau yang meniru itu mereka yang berada di pinggir jalan, Suyadi bilang, “Kami rela dan tidak keberatan.” Tapi, kalau yang melakukan duplikasi dan pembajakan itu para pengusaha besar dan pengusaha kaset, menurut Suyadi, “Ya mesti dituntut ke pengadilan.”
Menurut dia, mereka juga tidak keberatan kalau tokoh dan sosok visual si Unyil dipergunakan untuk poster-poster pendidikan dan pembangunan, seperti yang diminta dan dibuat oleh UNESCO. Nah, kapan PFN menuntut para lanun yang mengkomersialkan si Unyil?
Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy
DI GUDANG, TEMPAT LAHIR SI UNYIL
TOLOL. Setelah disiarkan (sampai saat itu) hampir tujuh tahun (1981 hingga 1988-red), selain memperoleh pujian, film boneka si Unyil juga banyak dikritik orang. Ada yang bilang, sang tokoh utama film ini tolol amat, nggak pernah naik kelas, SD terus. Ada lagi yang bilang, Unyil terlalu sok tahu segala hal. Ada juga yang bilang, banyak sekali pesan pemerintah masuk ke setiap seri.
Ternyata, tokoh Unyil memang sengaja dibuat begitu. Karena yang dikehendaki dari tokoh ini, ya memang itu. “Serba tahu, lincah, penuh inisiatif, berperikemanusiaan. Jadi, walaupun anak desa, dia tidak tertinggal perkembangan zaman pembangunan,” kata Kurnain, sang pencipta tokoh yang dijuluki “bapaknya si Unyil”.
Ceritanya memang dikehendaki begitu, supaya bisa menjadi teladan bagi anak-anak (era itu) dan remaja (era itu). Lalu, bisa dijadikan gambaran cara hidup anak Indonesia masa 80an. Tapi, mengapa dia sekolah di SD terus?
“Mulanya film ini memang untuk anak-anak. Jadi, sampai sekarang (1988-red) pun, sasarannya tetap anak-anak. Bukan anak-anak yang kemudian berkembang menjadi remaja terus dewasa. Jadi, si Unyil memang tidak mengikuti perkembangan usia dan tahap kejiwaan pemirsanya. Supaya dia bisa ditonton anak-anak masa kapan saja.”
Lha, kalau untuk anak-anak (era itu), mengapa mesti diselipkan pesan pemerintah segala? Apalagi sampai ke soal KB segala. “Bapaknya si Unyil” ini cuma tersenyum. Dia bilang, karena film ini film pemerintah, dan kita orang pemerintah, tidak ada salahnya diselipkan pesan-pesan tertentu dari pemerintah. “Anak-anak sekarang (1988-red) harus tahu segala macam masalah pembangunan secara dini. Termasuk tentang KB atau perkembangan lainnya.”
TOPANG. Lagipula, ini film, film pendidikan. “Ya, untuk apa harus ditutup-tutupi? “Lalu, ia menunjuk contoh anak-anak Jepang (era itu) yang diberitahu segala perkembangan pembangunan sejak dini. Karena sejak kelahirannya dimaksudkan sebagai film pendidikan, film boneka si Unyil lalu dibuat dengan pertimbangan-pertimbangan yang bisa menopang dunia pendidikan. Makanya, di film boneka ini dipergunakan pertimbangan instruksional khusus.
Supaya cerita yang ditampilkan bisa memberi motivasi anak-anak (era itu) untuk berbuat sebagaimana mestinya. Cerdas, lincah, dan berkepribadian. Juga mendorong anak-anak (era itu) bisa memiliki kreativitas. Tapi, apa nama tokoh Unyil bisa menopang pertimbangan-pertimbangan itu? Kurnain tak banyak bicara. Kecuali katanya, nama tokoh itu nama yang tidak umum. Jadi, kecil kemungkinan orang terisnggung dengan kehadiran tokoh itu.
Lain kalau diberi nama si Maman, misalnya. Lagipula, nama tokoh si Unyil sudah diciptakan dan dipakai Kurnain sejak tahun 1954. Ketika ia mengasuh majalah Suluh Pelajar. Jadi, dengan nama tiu pun, bisa menopang misi pendidikan yang diembannya? Kurnain cuma bilang, ada niatan membuat film boneka dengan tokoh lain. “Tapi waktunya nggak ada. Juga terbatas sarana dan prasarananya.”
Karena itu, yang dilakukan (waktu itu), ya meningkatkan segi teknis. Untuk itu pula, mereka, para pembuat film boneka ini, (waktu itu) akan istirahat selama sebulan. Membenahi boneka dari aksesorisnya. Supaya kelihatan lebih pas dan lebih sesuai dnegna perkembangan. Mungkin juga, supaya lebih sok tahu.
Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy
Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan







Komentar
Posting Komentar