BONUS - SEBELUM WAFAT, F. SCOTT FITZGERALD SEMPAT MAKAN COKLAT

Scott Fitzgerald, 1918 

MUNCUL tiba-tiba menggantikan serial The Nurse, Thender Is The Night sepertinya cuma cerita biasa yang kadar mutunya tidak jauh dari pendahulunya. Ditambah lagi, pemainnya bukan wajah yang sudah dikenal. Sean Young sebagai salah satu tokoh, (waktu itu) baru nongol di No Way Out. Tapi, (waktu itu) cobalah tengok ‘credit title’ di akhir film yang jarang diperhatikan pihak TVRI maupun pemirsa. Ada nama F. Scott Fitzgerald di sana, dialah salah satu penulis dunia kelahiran Amerika.

Beberapa karyanya juga (waktu itu) sudah difilmkan. The Great Gatsby-nya dibintangi Robert Redofrd dan Mia Farrow. Sebagai “hero” Gatsby, pakaian yang dikenakan Redford, sempat menjadi trend dunia waktu itu. Juga novelnya yang setengah selesai The Last Tycoon, difilmkan lama setelah Scott mati. Disutradarai Elia Kazan, film ini diramaikan dengan Robert de Niro, Tony Curtis, Robert Mitchum, Jack Nicholson, dan Jeanne Moreau.

Lebih dari sekadar novelnya difilmkan, Scott boleh dibilang penulis novel terkenal pertama yang pernah dikontrak oleh produser raksasa waktu itu, MGM, untuk menulis skenario pesanan. Termasuk salah satu film yang ikut direvisi, film klasik Gone With The Wind. Tender adalah novel yang diidam-idamkan penulisnya sebagai novel terbaik Amerika pada zamannya. Scott mulai menulis ketika ia tinggal di Riviera, akhir musim semi tahun 1925.

Malcowl Cowley, menilai Fitzgerald sebagai penulis yang tidak pernah sampai pada kesempurnaan. “Ia terlalu lama bekerja dan rencananya terlalu sering berubah, seperti juga si penulis yang terus saja berubah dari tahun ke tahun, sejak ia pertama tinggal di Riviera.”

 

Zelda Sayre, sang istri

Panjangnya waktu Scott menulis dan memperbaiki buku ini akhirnya mencerminkan kehidupan sang penulis. Tentang masalah keuangan yang selalu menghantui dirinya. Perbedaan derajat di masyarakat Amerika. Perjuangan melawan minuman keras. Penyakit istrinya. Semuanya dipelajari lewat dokter di Amerika maupun Swiss yang mengobati istrinya. Kepahitan hidup yang tidak bisa ditanggulangi, semuanya dilampiaskan di situ.

NOMOR DUA. Kemiskinan memang menghantui Franscis Scott Key Fitzgerald yang lahri 15.30, 24 September 1896, di Laural Avenue Minnesota. Umur 1 setengah tahun, bisnis ayahnya bangkrut. Tumbuh sebagai laki-laki tampan dengan warna mata campuran biru, hijau, dan kelabu. Scott kecil sadar bahwa dialah nanti tumpuan keluarganya nanti.

Gambaran seorang hero yang romantic akhirnya mewarnai hampir seluruh novelnya. Cinta pertamanya kepada seorang gadis kaya. Bahwa kemudian ia kaya dari tulisannya, ia tetap saja “miskin”. Di sebuah pesta dansa ia bertemu dengan Zelda Sayre.

Begitu akan menikah, Zelda menulis, sekarang legenda akan berakhir sudah. Toh, nyatanya perkawinan mereka masih saja sebuah legenda cinta. Mereka keliling ke mana-mana. Kata sang istri, “Hidup saya penuh warna bersama dia, tamasya dan tawa.”

 

WANITA. Fitzgerald – tahun 1915 – berdandan wanita 

Semuanya berakhir setelah Scott tidak bisa menghilangkan kecanduannya pada minuman keras. Orang bisa mengira ia kecewa karena MGM tidak memperpanjang kontrak. Tapi aslinya, semuanya berasal dari penghancuran diri Scott sendiri. Katanya, suatu saat dalam sebuah ceritanya. “Dengan beberapa teguk minuman saya menjadi lebih berani dan punya kemampuan untuk menyenangkan orang.”

Konflik batin lain, ia seorang Katolik. Tapi secara spiritual, ia tidak pernah merasa masuk ke dalam. Ia suka popularitas, tapi ia tak pernah yakin akan kemampuannya. Kepada seorang temannya, John Biggs, ia mengaku, ia mabuk karena ia tidak pernah bisa menjadi penulis nomor satu. “Saya selalu di puncak, tapi sebagai nomor dua.”

Rumah tangga mereka mulai retak. Zelda mencoba melarikan pada balet. Dan ambruk. Dokter akhirnya melihatnya sebagai masalah kejiwaan. Zelda mencoba melarikan diri dari kenyataan di rumahnya, tapi tidak bisa.

Pada masa-masa itulah Scott menyelesaikan revisi Tender Is The Night. Dengan kesendiriannya, Scott semakin kesendiriannya, Scott semakin menyiksa dirinya. Sore hari, November 1940, pulang dari sebuah apotek, ia mengalami serangan jantung. Ia sudah merasa, hari-hari terakhirnya sudah dekat. “Cuma tinggal saat-saat untuk menghitung dosa saya.”

Sebuah serangan jantung lagi bulan Desember. Besoknya Scott tampak sehat dan gembira. Dokter datang sore itu. Ia masih makan coklat dan membuat sebuah catatan ketika tiba-tiba ia berdiri tegak dan kemudian jatuh ke lantai dengan mata tertutup sambil menghembuskan nafas yang terakhir. Tujuh tahun kemudian istrinya menyusul.

Sebuah catatan ia tulis buat suaminya. Ia seorang yang baik sekali. Ia selalu berusaha membahagiakan Scottie, anak kami, dan saya. Buku untuk dibaca dan tamasya. Meskipun belakangan kami tidak dekat lagi, Scott adalah sahabat saya yang terdekat.” Mendekati akhir cerita Tender, Dick berpisah dengan Nicole. Nicole berkata bahwa ia tidak pernah disakiti dan Dick selalu berusaha menyenangkan dia.

Ditulis oleh: Rachmat Riyadi

Dok. Monitor – No. 77/II/minggu ke-3 April 1988/20-26 April 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer