BONUS - RRI INGIN MENGHIDUPKAN LAGI PANGGUNG GEMBIRA
Maka, dengan wajah berseri-seri, Lukman Hakim, salah satu panitia berkata, “Benar-benar menggembirakan. Kita nggak menyangka kalau seperti ini. Semua pihak yang kita mintai bantuannya, bahkan memberikan lebih dari yang kita minta.” Lukman memang sempat was-was. Bayangkan, dua minggu sebelumnya dia dan teman-teman lainnya baru mulai bergerak. Ya cari sponsor, mengontak para pengisi, menyusun jadwal latihan, susunan acara, dan sebagainya.
“Kita terima kasih banyak pada Monitor yang bersedia jadi penyandang dana. Sungguh kok, dengan adanya sponsor kita jadi lebih lega dan enak bergeraknya.” Bukan hanya itu yang membuat Lukman dan kawan-kawan tersenyum. Besarnya perhatian pada para artis yang kebanyakan tak menolak waktu diminta, juga membuat panitia bisa bernafas lega. “Malah jumlah artis yang bersiap, jauh melebihi dari yang kita duga.”
Bagaimanapun caranya, RRI memang ngotot untuk tetap menyelenggarakan panggung gembira. Alasannya, seperti yang dikatakan R. Baskara, kepsta RRI Nasional Jakarta, “Panggung Gembira sejak lama sudah menjadi ciri kami. Dengan acara itu jugalah salah satu upaya kami dalam mendekatkan diri pada masyarakat.”
Bisa jadi, untuk menyelenggarakan panggung Hari Radio tahun 1989 ini, bagi RRI sedikit lebih repot dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebab, kali ini RRI bekerja sendiri, tidak seperti tahun 1988 lalu, misalnya. TVRI ikut terlibat. Tidak hanya membantu menyiarkan asja, tetapi juga mencarikan pengisinya. Soal tidak dilibatkannya TVRI, salah seorang dalam RRI mengatakn, “Kita memang coba untuk bekerja sendiri.”
Jika demikian, mungkinkah untuk tahun 1989 ini acara tersebut (waktu itu) tidak akan disiarkan TVRI? “Kita tetap minta pada TVRI untuk merekam, dan menyiarkan nantinya. Biarpun cuma sebentar, dan bukan acara khusus seperti tahun lalu (1988-red).”
Sedang acaranya sendiri tak jauh dari nyanyi, tari, dan lawak. Soal ini, kata Lukman, “Kami memang pernah mendapat masukan, supaya acaranya dibikin agak lain dari biasanya. Cuma, masalahnya ya kalau dibilang klasik, memang klasik: waktunya mepet. Dua minggu untuk menyelesaikan segalanya, sangat terasa kurang.”
RRI tampaknya tak bermaksud membuat hiburan yang gemebyar. Malah ada kesan begitu sederhana, bahkan tersirat kesimpulan yang penting acara murah-meriah itu ada.
Padahal, kalau ditilik dari para pengisinya yang sebagian besar punya nama besar dan punya nilai jual, sesungguhnya acara ini bisa dikemas dengan lebih serius. Artinya, dari paket itu RRI sebenarnya bisa menarik simpati dengan, misalnya, penyelenggaraannya secara rutin dan tempatnya tidak cuma seputar Jakarta dan sekitarnya. “Ya, memang telah ada rencana seperti itu, kami tengah menjajaki kemungkinannya,” ucap Lukman (waktu itu).
Entah mengapa, kegiatan rutin Panggung Gembira RRI-TVRI yang diselenggarakan sebulan sekali dan tempatnya bergiliran, (belakangan itu) tak ada lagi. Kalau memang benar RRI (waktu itu) akan menghidupkan lagi – meski tanpa melibatkan TVRI – ini merupakan langkah yang baik. Sebab, dengan cara seperti inilah, kemungkinan besar RRI (perkiraan waktu itu) bisa merangkul pendengar. Dengan adanya kegiatan besar, tentu (saat itu) akan banyak diliput dan disebut-sebut.
Persoalannya memang tidak sederhana. Banyak faktor yang bisa jadi hambatan. Namun, taka da salahnya bila tetap dicoba untuk direalisasikan.
Ditulis oleh: Tavip Riyanto
Dok. Monitor – No. 151/III/minggu ke-4 September 1989/20-26 September 1989, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar