BONUS - ROBERT CONRAD MELARANG ANAKNYA PACARAN SEBELUM USIA 16 (A MAN CALLED SLOANE, TVRI - TIAP SELASA MALAM Pkl: 22.30 WIB)

Conrad dan istri, La Velda, beserta Chelsea (kiri), Camille (tengah), dan Kaja

KALAU saja tidak bertemu dengan Nick Adams, aktor The Rebel, barangkali jalan hidup Robert Conrad tidak seperti 1988 ini. Conrad, kelhairan Chicago, 1 Maret 1935, semula cuma seorang penyanyi dan petinju amatir, yang prestasinya masih jauh untuk dibilang cemerlang.

Dari pertemuan yang tidak sengaja itu membuahkan rentetan panjang dalam hidup Conrad. Diawali dari tokoh Tom Lopaka dalam serial Hawaiian Eye. Kendati tidak membuat dampak luar biasa sekali, tapi 4 tahun nama tokoh itu lekat pada dirinya.

Satu hal yang membuat dirinya pantas disaluti, yakni upayanya yang tak pernah kendor. Conrad rupanya sadar jika ia bukanlah aktor yang berlatarbelakangkan pendidikan seni peran. “Maka dengan jalan itulah aku berusaha untuk menutupi kelemahan.”

Conrad baru benar-benar bisa menikmati hasilnya dalam film seri keduanya, The Wild Wild West (di Indonesia kemudian diputar RCTI/SCTV-red). Sayangnya, hanya film tersebut yang tergolong berhasil. Sesudah itu tidak ada lagi. Termasuk A Man Called Sloane, yang (belakangan itu) diputar TVRI. 

Conrad yang (waktu itu) masih tegap (tinggi-berat – waktu itu – 175-80) di usia (yang asmpai saat itu) lebih dari setengah abad, tampaknya (sampai saat itu) masih belum mau menyerah. Sebuah serial berjudul High Mountain Rangers (di Indonesia kemudian diputar RCTI/SCTV-red), ketika itu – tengah dikerjakan. Menariknya, hampir semau anak-anaknya ikut terlibat. Joan, putri tertuanya, bertindak sebagai produser. Pemain, selain dirinya, adalah 3 anak kandung dan 1 anak angkat.

Hanya 1 putrinya, Nancy, yang tidak ikutan, karena harus kuliah di Pepperdine University. “Aku ingin mereka punya karya. Kerja keras dengan dasar moral.”

Bukanlah berarti juga pemaksaan ambisi pribadi? “Sama sekali tidak. Mereka justru ingin merasakan bagaimana jika kami sekeluarga bekerja secara bersama-sama.” Benar begitu? “Ya, hanya saja ‘dad’ sangat disiplin. Dia akan marah besar bila di antara kami ada sesuatu yang tidak beres. Mungkin kalau dengan orang lain dia agak sabaran sedikit,” ucap Joan.

Dua putranya, Christian, (waktu itu) 23 tahun, dan Shane, (waktu itu) 16 tahun, juga mengeluarkan nada yang sama. “Jangan coba-coba bercanda saat bekerja kalau tidak mau mendengar bentakannya!”

 

TINJU. Salah satu hobi Conrad yang tak bisa hilang adalah tinju. Sementara Christian memegangi sanzak, Conrad siap melayangkan pukulan. Sedangkan Shane menonton dari belakang 

KENANG, KENCANG. Anak-anak tersebut dari perkawinan Conrad dengan Joan Kenlay. Perkawinan mereka bertahan selama 25 tahun. Dari istri kedua, La Velda, (waktu itu) 28 tahun, yang ia nikahi 5 tahun sebelumnya, (waktu itu) telah membuahkan Kaja, (saat itu) 4 tahun, Camille (waktu itu) 2 tahun, dan Chelsea, (waktu itu) 1 tahun.

Conrad mengenal La Velda ketika istrinya ini baru saja menyabet Miss National di bawah usia 17. Pertemuan pertama, Conrad meninggalkan janji akan mengajaknya main film. La Velda diberi waktu seminggu untuk mengambil keputusan. 6 tahun setelah itu, mereka menikah. “Dia cukup sabar dalam memburu. Malah dia dulu seringkali memberikan nasihat bila aku berselisih dengan pacar atau teman kencanku,” kenang La Velda.

Di mata anak-anak dari istri terdahulu, Conrad merupakan figur ayah yang dikagumi. Tegas, keras, tapi selalu bersikap hangat. Aturan-aturan dalam rumah tangga yang telah ia tetapkan, tidak ada salah satu anaknya yang berani melanggar. Termasuk peraturan anaknya tidak boleh pacaran sebelum umur 16.

“Kadang-kadang kami ingin protes juga. Tapi kami lalu sadar bahwa segala aturan itu sebelumnya tentu telah dipikirkan benar-benar oleh ayah,” kata Joan. “Biar agak kolot, namun kami senang menaatinya,” tambah Christian. Sudah menjadi sikap Conrad bila ia mengambil keputusan, dengan ngotot (waktu itu) akan tetap ia pertahankan. Wlaaupun tidak selamanya keputusannya itu menguntugnkan dirinya.

Seperti waktu ia bertekad untuk melakukan salah satu adegan yang berbahaya, tanpa mau diganti ‘stuntman’ dalam Assignment Vienna dan The Wild Wild West. Akibatnya, ia mengalami cedera leher. Alasannya, kala itu, “Sebelum di film, pekerjaanku malah mengandung risiko yang jauh lebih tinggi.”

Begitu pun saat pembuatan High Mountain Rangers. Saran kru agar ‘break’ lantaran cuaca tidak mengizinkan, ditolak Conrad. Hampir saja terjadi pemogokan, jika Conrad tetap bersikeras. Sesungguhnya dasar dari kengototan Conrad dalam film terbarunya (kala itu) ini tak lain karena keinginannya yang besar untuk menaikkan diri, setelah beberap lama “tenggelam”, di samping mengangkat anak-anaknya, tentu saja.

“Ada tiga fase dalam dunia ‘showbiz’. Mulanya Anda tidak dikenal. Lalu Anda dipuja, dan kemudian Anda ditinggalkan. Nah, kini (1988-red) aku telah memulainya lagi.”

Ditulis oleh: Tavip Riyanto

Dok. Monitor – No. 77/II/minggu ke-3 April 1988/20-26 April 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer