BONUS - RAHASIA KETOPRAK SAYEMBARA SUDAH TERBUKA. INI JAWABNYA (KETOPRAK SAYEMBARA, TVRI YOGYA - SABTU, 8, 15, 22, 29 APRIL 1989 Pkl: 20.05 WIB)
PERNYATAAN kepsta TVRI Yogya, Drs. Semyon Sinulingga bahwa ketoprak sayembara Sirnaning Satru Bebuyutan, “Pasti lebih gampang dan menghibur,” ternyata bukan isapan jempol. Bukan saja model tebakannya ‘checkpoint’, tetapi bahkan jawabannya pun telah diketahui banyak pihak. Tak ada rahasia, tak ada yang disembunyikan rapat-rapat. Semua pemain, kru TVRI Yogya, sutradara, telah tahu siapa sesungguhnya anak Ki Bongol.
Bukan saja model tebakannya ‘check-point’, tetapi bahkan jawabannya pun telah diketahui banyak pihak. Tak ada rahasia, tak ada yang disembunyikan rapat-rapat. Semua pemain, kru TVRI Yogya, sutradara, telah tahu siapa sesungguhnya anak Ki Bongol.
Maklumlah, selain naskah episode keempat tidak disegel, syuting untuk tayangan akhir pun telah pula dikerjakan. Jadi, sebagai sebuah sayembara yang idealnya merangsang pemirsa untuk mengutak-atik tebakan, Sirnaning tidak menyisakan tantangan. Beda dengan dua tayangan sebelumnya, Prahara dan Ampak-Ampak Kaligawe, yang jawabannya cuma diketahui sang penulis cerita. Karenanya, tak salah jika sayembara yang “sama juga bohong” ini kita sebut: arisan.
Ini lebih pas. Pemirsa tinggal mengirim kartu pos dengan jawaban yang “tepat”, lantas di-arisan-kan untuk merebut pesawat televisi berwarna. (waktu itu) kirimkan jawaban selambat-lambatnya, ditunggu sampai 23 April 1989. Alamatnnya: TVRI Yogyakarta, jalan Magelang Km 4, Yogya, 55284.
Berikut ini sekadar analisa jawaban versi M. (Monitor), yang – alhamdulillah – tak beda dengan yang telah diketahui para pemain. Semoga cukup menolong bagi yang menadambakan hadiah. Kupon sebagai persyaratan tinggal gunting dan ditempelkan.
·
WINIH dan WIJI. Wanita kakak beradik ini, status
formalnya adalah Lurah Jati. Padahal, mereka cuma anak angkat. Ditemukan tatkala
suatu hari – di masa silam – Ki Lurah menolong seorang wanita yang
dikejar-kejar perampok. Wanita yang kemudian tewas akibat perampokan itu adalah
ibu mereka.
Siapa ayahnya, tak pernah jelas – betapapun wanita ini sempat menyisakan warisan sebuah cincin. Ihwal cincin ini, tampaknya sekadar kamuflase untuk mengecoh pemirsa. Jika tebakan disasarkan kepada mereka, kok argumentasi kurang kuat. Singgungan emosional ke sana sangat lemah.
·
TEGUHJIWA. Sejak episode awal, semestinya dia
pantas disangka sebagai anak Ki Bongol. Indikatornya, selain diketahui bahwa
dia sesungguhnya bukan putra Ki Lemahsih, Teguhjiwa cukup kerap berseteru
dengan Ki Bongol.
Bukankah, biasanya, yang semula bertentangan akhirnya malah rukun? Untungnya kisah ini tak terlalu klise, banyak penggambaran yang meruntuhkan praduga. Misalnya, jika Ki Bongol mengetahui dia anaknya, mosok dia tega mencederai Teguhjiwa?
·
TANPA ARAN DAN WELAS. Nama pertama artinya: “tanpa
nama”. Dia tokoh yang agka misterius, yang ke mana saja selalu meniup seruling.
Identitas dan silsilahnya tak pernah jelas. Begitu pula halnya Welas yang
dipungut anak angkat Lurah Mayong.
Konon, Welas ditemukan ki Lurah tatkala Sungai Tuntang dilanda banjir. Jika dua tokoh ini sama-sama mempunyai seuntai kalung, kabarnya peninggalan orangtuanya, kita kok lantas curiga: jangan-jangan mereka punya hubungan darah.
Apalagi ketika akhirnya mereka memadu cinta, Ki Bongol tampak sekali gusar. Ayah yang linglung kehilangan anak ini, terlihat tak bisa menerima kenyataan itu. Jangan-jangan…. Analisa dari pertanyaan kedua, lambang pemberantasan apakah tindakan Ki Lurah Jati terhadap Ki Satru, tampaknya tak perlu tuntutan.
Dari tiga alternatif jawaban: kejahatan, kemunafikan, dan bebas 3K (kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan) – sudah sangat ketahuan mana yang harus dipilih. Apalagi mengingat ketoprak ini secara sadar memuat pesan-pesan pembangunan. Kita tinggal memilih mana di antara tiga jawaban yang kerap meawrnai pidaot pejabat kita. Gampang, to?
Ditulis oleh: Butet Kartaredjasa
Dok. Monitor – No. 129/III/minggu ke-3 April 1989/19-25
April 1989, dengan sedikit perubahan






Komentar
Posting Komentar