BONUS - PENYABET GATRA BUDAYA BERJUDUL KUMANDANG GARAU ITU MELANGGAR KONVENSI
JUARA II GATRA BUDAYA: KUMANDANG GARAU. Untuk urusan paket
Gatra Kencana, TVRI Medan merasa yakin masuk nominasi. Nyatanya, dalam paket
kebudayaan mereka yang berjudul Kumandang Garau dan Rentak Di Kakit Bukit
Barisan menyabet urutan terbaik ke-2. Bagi TVRI Medan, menang atau kalah adalah
hal yang biasa.
“Kalau menang, ya karena kami telah menggarapnya habis-habisan. Kalau ternyata kalah, kami merasa gembira. Itu bisa diartikan, saingan semakin ketat. Berarti, TVRI secara keseluruhan telah mengalami kemajuan yang berarti,” ujar H. Kamaruddin Kasah, S.H., kepsta TVRI Medan, tanpa ada maksud jumawa.
Kumandang Garau yang bermaterikan kesenian Sumatera Utara ini dikerjakan selama 20 hari dan menelan biaya sekitar 5,3 juta rupiah. “Sebetulnya kami mempersiapkan Ketoprak Dor dengan masa putar 25 menit. Tapi ketika ternyata ada perubahan dari Pusat (Jakarta-red), terpaksa kami mencari materi lain yang masa putarnya 55 menit,” ujar Drs. Zaenal Arifin Yusup, kasie siaran TVRI Medan.
Pembengkakan biaya (direncanakan cuma 4 juta rupiah) ini diakibatkan karena adanya penambahan hari dan jauhnya lokasi yang dipilih. Seperti ke Sipirok, Prapat, Palipi, Tongkoh Brastagi – yang untuk perjalanannya saja memakan waktu 5 sampai 8 jam.
“Kami ingin membuat sesuatu yang terbaik. Sumatera Utara ini daerahnya cukup luas dan potensial untuk diangkat sebagai daerah pariwisata. Untuk mencapai program yang dicanangkan, ya kita harus mau bersusah-susahlah,” ucap Albert Youmin, pengarah acara yang selama itu menjadi salah satu andalan TVRI Medan. Dalam Kumandang Garau, Youmin memang tidak mau main-main. Segalanya telah dirinci sebelumnya.
Mulai dari persiapan tari, musik, maupun ‘shoot’ yang bakal diambil. Menyadari bahwa materi tarian yang tak banyak digeser dari sebelumnya serta terasa kering (seperti yang juga diakui oleh Rizaldi Siagian, dosen etnomusikolog Universitas Sumatera Utara, yang menangani tata musik), Youmin mencoba membungkusnya dengan ‘shoot-shoot’ pendek yang terus mengalir, hingga bisa menjadi tontonan yang menarik.
Namun, apa yang dikerjakannya bukanlah hal yang gampang
seperti waktu menontonnya. “Kalau mau seadanya, saya bisa menyelesaikan dalam
waktu setengah atau satu hari. Tapi ini lain. Saya ingin mencoba sesuatu yang
selama ini belum pernah kita coba. Saya memang melanggar konvensi yang telah
ditentukan, dan saya akui saya mendapat gambaran ini dari hasil kerja orang
luar negeri. Tak apa. Toh selama ini kita juga berkiblat ke sana.”
Kesulitan di lapangan tentu sjaa tetap ada, meski saat itu alam cukup bersahabat hingga intensitas gambar tetap terjaga, namun kekayaan gambar yang ingin dicapai Youmin yang setiap lagunya lebih dari 50 ‘shoot’ – telah membuat pengisi acara ini kecapain. Bisa dimaklumi, karena Youmin memang selalu berpindah tempat pada setiap ‘shoot’-nya guna mengganti pemandangan latar agar tampak berbeda.
Sementara penggunaan satu kamera yang dioperasikan secara dipanggul memungkinkan adanya pengulangan. Di sisi lainnya lagi, perbedaan antara Rizaldi yang mementingkan seni pentas dengan Youmin yang lebih berpatokan pada seni elektornika, sering menimbulkan benturan-benturan yang kadang cukup menghambat kelancaran pengambilan gambar.
“Pijakan kami memang berbeda. Untung antara saya dan Rizaldi
akhirnya dapat ditemukan kata sepakat.” Tanpa adanya kerelaan untuk
bercapek-capek yang terkadang harus begadang sampai 2 hari 2 malam nonstop,
atau untuk saling menekan rasa keangkuhan diri, maka – sekali lagi – hasil karya
yang maksimal tak mungkin dapat tercapai. Iklim seperti inilah yang seharusnya
dikembangtumbuhkan dalam pertelevisian kita. Ada berapa orang yang bersedia
untuk demikian?
Ditulis oleh: Gregorius “Gege” Sarsidi
MASA MUDA RIZALDI SIAGIAN UNTUK MENGEMBARA
JUARA II GATRA BUDAYA. Sudah 3 kali (sampai saat itu) ini,
Rizaldi Siagian, (saat itu) 39 tahun, ikut untuk menangani paket Gatra Kencana
untuk TVRI Medan. Tahun 1987, sempat menyabet juara I bidang kebudayaan. Tahun
berikutnya juara III dan tahun 1989 ini melalui Kumandang Garau dan Rentak Di
Kaki Bukit Barisan menduduki peringkat II untuk bidang yang sama.
“Untuk menulis naskah paket Gatra ini gampang-gampang susah. Gampangnya karena saya memang hobi mengamati kebudayaan Sumatera Utara, khususnya soal musik. Jadi, materi cukup banyak persediaan. Susahnya, di sini saya harus bisa mengangkat segala aspek kebudayaan yang ada. Ini perlu porsi yang adil semetnara waktunya sendiri dibatasi sekian menit.” Karena itu, kemudian dosen Universitas Sumatera Utara (USU) yang juga musikolog ini merangkumnya menjadi 3 bagian.
Yaitu musik daerah yang berbau atau telah dipengaruhi budaya Islam (musik Melayu), musik yang dipengaruhi budaya Kristen (musik Batak-Andung Mangandung), dan musik “asli” yang biasa dinyanyikan oleh penduduk daerah pegunungan. “Pada dasarnya saya mengambil pijakan dari 3 bagian itu, meski ada sedikit perubahan dari kreasi saya yang masuk di dalamnya.”
Bapak 3 putra, yang lahir di Binjai, 25 April 1950, ini sejak kecil memang sudah tertarik dengan musik-musik tradisional. Tak mengherankan bila masa mudanya banyak dihabiskan untuk mengembara di beberapa daerah Sumatera Utara, untuk kembali menggali musik-musik tradisional yang (belakangan itu) Terasa hilang tertelan musik modern. Gelar MA-nya sendiri diraih di San Diego State University, AS.
Ditulis oleh: Gregorius “Gege” Sarsidi
JIKA OMONG SOAL HONOR, YOUMIN MENYARANKAN UNTUK MUNDUR
JUARA II GATRA BUDAYA: KUMANDANG GARAU. Mengawali karir sebagai
pemusik. Albert Youmin, (waktu itu) 46 tahun, mencoba menaklukkan Jakarta
dengan bermain gitar di tengah berkecambahnya klub malam. Di sini ia merasa menemukan
dunianya. Selain uang yang terus mengalir ke kantongnya, ia juga merasa jiwa
kesenimanannya terwadahi.
Kalau kemudian orangtuanya memanggilnya kembali ke tanah kelahirannya, Youmin tak lagi bisa menantang. “Soalnya, waktu itu saya harus sering berpisah dengan anak dan istri saya. Mama tak menginginkan hal itu. Jadi, ada kerjaan atau nggak ada, saya harus kembali ke Medan.”
Beruntunglah, bapak 4 anak ini masih bisa bermain musik di klub malam setempat (waktu itu). Bahkan ia juga (waktu itu) mulai mengisi musik di TVRI Medan, dan tak lama kemudian, ia masuk jajaran keluarga besar TVRI Medan, sebagai pengarah acara musik. “Awal saya masuk TVRI Medan, gaji yang saya terima hanya sepertiga hasil bermain di klub malam. Untuk membayar minuman saja saya masih harus nombok.”
Maklum, yang diminum bukanlah teh manis atawa sebangsanya, melainkan bir yang memang menjadi kesukaannya. Biar begitu, Youmin tetap bertahan sampai saat itu (1989-red). “Sudah menjadi prinsip saya, bila sudah terlanjur mau menerima suatu pekerjaan, apapun keadaan dan kondisi pekerjaan itu tetap akan saya kerjakan dengan segenap kemampuan saya.”
Karena itulah, ia paling tidak suka kalau ada teman sekerjanya yang sama-sama menggarap satu paket mengeluhkan soal honor. “Kalau tidak sanggup, lebih baik mengundurkan diri saja. Toh zaman sekarang (1989-red) masih banyak orang yang cari kerja…”
Beruntunglah Youmin bahwa yang ia kerjakan, 1989 ini, selalu mendapat dukungan penuh kepsta TVRI Medan. Dengan mendapat kepercayaan ini ia merasa dapat menyalurkan segenap gagasannya secara total. “Kalau kita harus dibebani pikiran yang macam-macam, mana kita bisa kerja? Mikir lapangan saja sudah setengah mati kok masih harus mikir yang lainnya.”
Mengenai hubungannya dengan pengisi acara, Youmin cuma bisa bilang, “Kita tahu bahwa TVRI tak banyak mempunyai dana untuk memberi honor yang pantas bagi pengisi suara. Untuk itu sebagai PA, saya tidak bisa main perintah seenaknya saja, harus ada pendkeatan sebelumnya agar bisa diajak bekerjasama.”
Ditulis oleh: Gregorius “Gege” Sarsidi
Dok. Monitor – No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan







Komentar
Posting Komentar