BONUS - PENARI LATAR BISA NUMPANG TENAR

DATAR, LATAR. Hiburan, isian pokok televisi pada awalnya, memang tak lepas dari cuap-cuap dan tralala-trilili. Kemudian, onsep tontonan diperluas agar lebih pas. Suara penyanyi dibarengi tata lampu dan dekorasi, kesannya jadi lebih kemas dan bernas. Langsung kelihatan, perbedaan lebih khas antara medium pandang dengar ini dengan medium lainnya.

Televisi tak bisa lagi menyajikan sesuatu secara datar saja. Ciri media citra bergerak, dibarengi dengan “gerakan-gerakan” lain yang dinamis. Dan makin marak. Muncul peralatan buntu yang makin rancak dan canggih, atau teknik manipulasi gambar yang makin sangkil.

Sejalan dnegan itu, bentuk asjian mengalmai pergeseran. Atau tepatnya peningkatan. Seorang penyanyi, misalnya, tak perlu hanya muncul sendiri. Ada penari latar, ada pelengkap, atau pelengkap penderita. Pendeknya, harus ada tambahan ilustrasi.

Aneka Ria Safari, Selekta Pop, atau Kamera Ria (ketiganya di TVRI Programa 1-red) adalah contoh yang gampang sekali disebut, gencar dan gemebyar. Tak pelak lagi, acara musik TV (tepatnya TVRI-red) – waktu itu – jadi ajang tampil para penari.

Malah belakangan itu terbukti, ini jadi lahan bisnis. Ada penyanyi yang mengiklankan lagunya, ada produser yang meminta jasa koreografi. Tentu ada transaksi dan harga yang bicara. Tumbuh suburlah sejenis sanggar atau studio tari modern. Belakangan, grup lawak pun ikut serta. Yang tak cuma “memejengkan” anggotanya, tapi juga mengeduk keuntungan dari sana. Peluang pun  tercipta.

Syukur-syukur, si penari menyabet rejeki yang tak beda dari penyanyinya. Atau paling tidak, seperti diucapkan Ati Ganda, pengelola salah satu sanggar, “Memberi kesempatan anak-anak muda untuk lebih berkembang dan dapat menunjukkan kreativitasnya.”

Begitulah yang terjadi. Dari sisi pemerataan kesempatan, banyak sekali manfaat daipat. Dair sisi budaya televisi, kehadiran penari latar adalah ciri keharusan. Atau kalau mau dilihat dari konteks tari sendiri, berarti terbukanya jalan baru untuk mengekspresikan bentuk-bentuk yang tak kalah baru pula. Tak soal bahwa situasi ini merupakan ‘tularan’ dari negara “sana”, atau menyatakna diri, bahwa inilah langgam budaya baru (kala itu), yang disebut modern itu.

Ditulis oleh: Anni Setiawati, Hosanna Yahto, Slamet Riyadi

 


MENYELAM. Darah seni mengalir kuat dalam diri A.A.A. Dewi Paramita alias Mitha. Sebelum gabung dengan Studio 26, ia sudah pandai menari Bali. “Saya juga nari untuk menguruskan badan, menyelam sambil minum airlah,” katanya. Honor yang dia dapat, selain sebagian diserahkan ke ibu, juga ditabung dan buat traktir teman-teman. “Takut dibilang pelit.” Selebihnya, buat beli keperluan sendiri.

 

PENAMBAH. Bagi Djumarianto, (saat itu) 29 tahun, jadi penari latar dalam Safari atau ‘show’ ke daerah, lebih sebagai penambah penghasilan. “Apalagi sekarang (1989-red) ini ‘show’ lagi sepi. Ya, lumayanlah.”

Selama itu, ayah 2 anak ini hanya mengiringi artis-artis Gajahmada Records, dalam masa kontrak setahun, bernilai 4,3 juta rupiah. Dalam 1 bulan, minimal ia mengiringi 3 penyanyi. Baik untuk acara TV maupun ‘show’ ke daerah. Selain uang kontrak, ia juga mendapat uang saku untuk keperluan itu. Jumlahnya? “Nggak usahlah, pokoknya lumayan. Apalagi transport dan kostum sudah disediakan.”

Sebelum tampil, ia biasa latihan dengan penyanyinya. “kalau kebetulan saya ikut nyanyi, saya hafalin lagunya. Kalau nggak, ya enggak.”

 

IMEJ. Bagi Acan Rachman, sering muncul di TV juga memungkinkan seringnya tawaran datang dari luas. Ia terlanjur memtuuskan bidang koreografi untuk sandaran hidup. Mungkin, bapak 1 anak ini hanya segelintir contoh. Umumnya, katanya, ‘Boleh tanya ke semua penari atau seniman. Merek aitu sekadar hobi atau profesi, pasti jawabnya yang pertama.”

Acan yang siap-siap membentuk sanggar – meski risih kalau pakai nama – ini, selain berangkat dari nyanyi – DKSB-nya Harry Roesli maupun Golden Singers – juga getol mencipta gerakan. “Walau harus diakui, yang namanya ‘modern dance’ tak bisa lepas dari apa yang ada di luar negeri.” Dengan rencana merekrut penari, selain ingin mewadahi minat sekian banyak anak muda (era itu), Acan juga ingin mengembangkan bidang profeisnya. Syukur-syukur, bisa jadi sandaran masa depan.

“Teknik dasar, hal vital yang harus dimiliki, kebanyakan tak ada. Jadinya, yang muncul cuma keinginan dan variasi sendiri saja. Muncullah gerakan-gerakan melayang, lemah gemulai, dilakukan oleh penari pria.” Itulah yang ingin dilakukannya. Mengubah imej atau citra laki-laki genit di panggung. “Kriterianya harus selektif. Tpai susah. Karena cowok yang ‘pure’, normal, hampir nggak ada yang berminat.”

Yang penting, bagi dia, penjiwaan musik, kemudian mengekspresikannya secara benar. “Itu pun kalau memang dirasa sebuah lagu perlu diberi koreografi. Kalau memang penyanyinya kuat, dan lagunya tenang, nggak perlu ada tuh, penari latar. Sayang, produser kaset atau para pemesan nggak ngerti ini.”

 

TUA. Tenry Bau Kuneng Tentry, merasa (saat itu) sudah tua untuk jadi penari. Makanya, ia memilih peran di balik layar. “Saya bnayak menangani kostum, termasuk menjahitkannya. Di samping jahit baju untuk ‘show’, saya juga bikin baju untuk umum. Itulah usaha saya sekarang (1989-red),” katanya.

Karena ia paling tua, di Studio 26, ia dianggap ibunya anak-anak. “Saya malah sering dibilang bintang Tangkiwood.” Selain mengajar di studionya, Tenry juga mengajar di OQ Modelling School. Dan soal honor, ia bilang, “Saya pakai untuk bikin kostum dan disewakan.” Soal pensiunnya dari kegiatna nari, ia punya laasan, “Saya takut, suami nggak bisa menerima keadaan.”

 

ASYIK. Andry Sentanu, (waktu itu) mahasiswi tingkat 3 FISIP UI, (hingga saat itu) telah 6 tahun (1983 hingga 1989-red) bergabung dengn Swara Mahradhika, meski aktifnya hanya 4,5 tahun. “Sekarang (1989-red) saya jarang menari lagi. Saya baru nari kalau teman-temennya kompak dan acaranya enak.

Selain itu, saya ingin kasih kesempatan kepada yang baru-baru. Badan rasanya sudah pegel, karena selama ini selalu ikut, ke mana pun grup ini mengadakan pertunjukan,” katanya menyebut Studio 26, kelompok tari pimpinan Ati Ganda yang digabunginya.

“Honor saya seringkali habis buat traktir teman-teman, atau beli kado. Tapi saya sempat nabung dan bisnis kecil-kecilan, untuk kawin nantinya.” Lho, pensiun dan mau kawin? “Sebenarnya tujuan saya menari bukan cari uang, tapi karena santai dan asyik saja.”

 

KURSUS. Ade Ayu, selain penyanyi di Geornimo Group, juga penari. Malah, 1989, banyak hal ditanganinya, keuangan, kostum, atau komposisi tari, itulah yang dilakukannya, selain jadi anggota Cantora Paramitha, “cabang” Geronimo, yang artinya penyanyi cantik.

“Banyak hal harus dipelajari, untuk jadi penari-penyanyi yang baik,” katanya. “Teori musik, teori pernafasan, juga gerakan ‘step-by-step’.” Latihan 2 kali sehari, dan ada juga ulangan seperti di sekolah. Untuk jadi anggota, orang harus bayar uang pangkal dan bulanan, seperti lazimnya kursus. Hasilnya, Geronimo mengeluarkan sertifikat untuk mengajar.

Dan menurut Anton Issoedibyo pimpinannya, Geornimo juga menerima order secara ketengan. “Kami ciptakan 1 paket, lantas dijual kepada yang berminat,” katanya. Selain itu juga mengajar di sekolah 2 kali seminggu, atau memberi kursus-kursus kilat. “Sedang untuk TV, kami rajin mencari peluang, kalau-kalau ada acara yang bisa kami isi.”

Dok. Monitor – No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer