BONUS - PARA JAWARA SANDIWARA DILIBATKAN DI TVRI. TAK ADA ALASAN LAGI UNTUK BILANG "SINETRON TVRI BURUK, KARENA NASKAHNYA SEMUA JELEK."
KELUH, PELUH. Boleh jadi (perkiraan waktu itu), sebentar
lagi (dari kala bacaan ini diturunkan Monitor-red) keluhan kurangnya naskah
yang baik tak akan meluncur lagi dari Vick Hidayat, kasi perencanaan drama,
TVRI Pusat Jakarta. Sejumalh penulis, amsing-masing Tatiek Maliyati, Emil
Sanossa, Putu Wijaya, Teguh Karya, N. Riantiarno, Arifin C. Noer, Asrul Sani,
dan lain-lain sudah mengikatkan kontrak dengan TVRI.
Direktur Televisi, Drs. Ishadi SK, M. Sc., sudah memastikan, 40 naskah drama (waktu itu) akan digarap para jawara yang selama itu melatari drama-drama TV yang enak ditonton. Selama itu, keluhan terhadap kurangnya naskah drama yang baik dijadikan alasan untuk menghadapi kritik dan keluhan pemirsa terhadap kualitas sinetron yang rata-rata tak cukup pantas dibilang baik.
Harapan memang boleh digumpalkan. Tapi bagaimana kenyataannya, ya (waktu itu) silakan saja tunggu. Sejauh mana para pekerja di TVRI mau mengucurkan peluh, bekerja secara kreatif, dan profesional.
Penulis yang diandalkan pun cuma yang itu-itu saja. Bila tak Asrul Sani, ya Alex Suprapto Yudho atau Ananto Widodo. Meski ada juga penulis lain semacam Sirjon de Gaut yang tampak asyik dengan naskah-naskah saduran. Belakangan, Rita Zaharah yang punya semangat untuk menjadi sutradara, pun (waktu itu) mulai menulis naskah drama TV.
Harapan memang boleh digumpalkan. Tapi, bagaimana kenyataannya, ya (waktu itu) silakan saja tunggu. Sejauh mana para pekerja di TVRI mau mengucurkan peluh, bekerja secara kreatif, dan profesional.
Karena tak semua pekerja bisa menangkap kebutuhan kreatif itu dengan kemauan kerja keras, bahkan boleh dibilang kurang punya idealisme kpeorfesian seperti yang pernah dimiliki Tiar Muslim. Dari begitu banyak pengarah acara drama yang sering disebut sebagai andalan, cuma Dedi Setiadi dan Irwinsyah saja yang memang bekerja bersunggun=sungguh. Selebihnya?
Dedi dan Irwin tak jarang mengeluh. Bahkan, untuk drama seri Pondokan, kesinambungan kerja kreatif terasa centang-perenang. Pembaruan dan perubahan yang dilakukan Irwinsyah, misalnya, “tenggelam” begitu saja, ketika paket itu digarap pekerja yan glain.
Akankah keterlibatan para penulis beken ini punya manfaat untuk orang dalam TVRI sendiri? Ini suatu pertanyaan yang serta-merta mencuat mengingat fenomena yang ada selama itu. Bagi Dedi, dengan kesadaran bahwa inisiatif orang dalam TVRI memang kurang, keterlibatan itu punya dampak positif. “Bagi gua, ya keuntungan besar.”
Apalagi bila tradisi menggarap naskah, digarap langsung oleh mereka. Seperti yang biasa dilakukan Riantiarno, Teguh Karya ataupun Putu Wijaya. “Mereka mempertunjukkan bagaimana bekerja dan mau nongkrongin terus. Itu yang hebat.” Selebihnya, ada pengakuan bahwa potensi mereka lebih besar. Tidak hanya dalam mematut cerita menjadi sebuah paket drama yang baik. Tapi lebih dari itu. Proses dan tata cara kerja mereka menggarap suatu paket perlu dicontoh.
Banyak faktor yang membuat mereka andal. Selain naskahnya memang baik, kerjasama internnya juga mantap. Supaya segalanya mantap, ada suatu hal yang disebut sebagai kata kunci: “Idealisme internnya di sini perlu dibetuli dulu. Dibenahi, maksud saya.”
Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy
Dok. Monitor – No. 99/II/minggu ke-3 September 1988/21-27 September 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar