BONUS - PAKET MUSIK TERBAIK: PESONA NADA. ADA BUKTINYA (PESONA NADA, TVRI PROGRAMA 1 - MINGGU, 11 JUNI 1989 Pkl: 21.30 WIB)

 Koes Hendratmo

JIKA janji Hoedy (Hudiono Drajat-red), seksi perencana acara musik tepat, Pesona Nada (TVRI Programa 1) kali ini (waktu itu) bakal meriah lagi. Penampilan kedua menghadirkan ekpserimen: menggabung kemampuan bermusik senior dan yunior. Tokohnya adalah Maryono, peniup saksofon dan Elfa Secioria pada keyboard.

Pesona Nada adalah paket musik yang baru muncul sekali. Dan pertama kalinya TVRI menyajikan yang bisa mengajak pemirsa hanyut, bahkan berkomentar puas. Penampilan pertama itu tajuknya ditambah lagi, Dia Yang Kembali. Tokohnya: Bill Saragih. Sungguh, ini sajian langka. Koes Hendratmo yang muncul sebagai pembawa acara, mampu menggiring tayangan ke bentuk ‘entertain’ sungguhan. Begitu pula Bill Saragih yang serba bisa, terutama di jalur jazz.

Malam itu, jazz memang menjadi “raja”. Bill menampilkan kemampuannya bermusik (suling) dan bernyanyi, di samping menonjolkan kemampuannya sebagai pembawa acara. Akhirnya, antara dia dan Koes terjalin kesepadanan, yang melahrikan acara yang begitu akrab dengan pemirsa.

Bill adalah sosok – yang kalau melihat pengalaman – tak perlu diragukan. Dia tidak hanya mampu berkoar di negerinya sendiri, tapi juga di negara orang macam Australia. Pengetahuan dan kemampuannya berjazz-ria pun sudah begitu terasa. Selain itu, dia memang hidup dari kemampuan itu yang setiap saat terus terolah.

Bill Saragih

Tak heran kalau dia akhirnya mampu menyajikan sesuatu yang tidak terpikirkan orang lain. Dan kejelian pihak televisi (TVRI-red) menangkap ini punya poin tersendiri. Bahwa kemudian Pesona Nada berkembang, ini perlu dijaga. Jangan sampai hanya pada saat Bill saja yang meraih, sesudahnya adem-ayem. Ingat perjalanan Chandra Kirana yang berangkat dari puncak tertinggi sampai akhrinya merosot lagi pada posisi yang terlalu wajar.

“Kita akan mencoba terus mengembangkannya. Pemikiran kami, menggabung kemampuan anak muda kayak Elfa dengan senior macam Maryono bakal meriah. Dan pembawa acaranya, kita harapkan Bill Saragih berkenan,” kata Hoedy. Ide ini pantas dipuji. Pesona Nada memang harus digarap lebih matang. Bisa jadi, paket inilah yang membuat pemirsa makin terikat. Di mana ada sajian yang bisa dinikmati dan ada apresiasi yang pantas ditangkap.

Tengok lagi apa yang dilakukan Bill Saragih. Menyanyi dan bertutur tentang warna yang disajikan. Lantas mengajak Ermy Kullit menyanyikan lagu Batak dengan begitu mempesona. Na Sonang Do Hita Nadua. Selain Koes Hendratmo pun hadir dengan suara seraknya menirukan vokal Lewis Armstrong. “Ini memang kita ciptakan untuk wadah eksperimen, tidak terpatok pada satu jenis tayangan,” kata Hoedy.

Ermy Kullit 

Ada baiknya. Jika dua sajian telah menghadirkan bentuk jazz, apa salahnya kemudian melirik jenis musik yang lain? Bahkan bila perlu ini pula tempat pemirsa bisa melihat komponis atau vokalis kita yang pernah ada, dan (belakangan itu) entah di mana. Sehingga mereka tak sekadar muncul pada saat TVRI berulang tahun, lengkap dengan apresiasinya.

Jika Elfa dan Maryono tampil, maka pasti ini pun menarik perhatian. Apalagi Bill Saragih ikut campur, (waktu itu) akan lebih menarik dan meriah lagi. Dia (kala itu) belum mengeluarkan kartu truf. Bill adalah pembawa acara yang hebat. Dia sudah buktikan dengan bisanya bertahan di negara kangguru.

Bahkan di sini, ketika tahun 1988 lalu ada Jak Jazz, Bill muncul sebagai MC. Bukan main. Kemampuan berbahasanya, ‘joke-joke’ yang dicuatkannya, mulai dari produk dalam negeri sampai luar negeri cukup menyegarkan. Nah, kalau di layar kaca dia hadirkan pula yang demikian, cuma satu kata, ‘bravo’ perancang musik TVRI.

Ditulis oleh: Hans Miller Banureah

Dok. Monitor – No. 136/III/minggu ke-1 Juni 1989/7-13 Juni 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer