BONUS - NASIB YANG PAHIT, KERJASAMA YANG HANGAT, ADA YANG LUKA. ITU LAKU LAKON PULANG (PULANG, TVRI - SABTU, 12 MARET 1988 Pkl: 22.30 WIB)
SEORANG wanita muda bernama Nina (Rini S Bono) bergegas seperti mengejar sesuatu agar tiak terlambat. Kemudian dijumpai seorang lelaki, berdialog sejenak menanyakan tentang janji yang dispepakati. Namun terbersit wajah kekecewaan. Nina lalu melangkah lagi. Ia pun melewati deretan toko-toko. Lantas masuk ke sebuah pub. Pub itu ramai dikunjungi orang. Ruangan penuh asap an kisah Pulang dibuka dengan kesederhanaan.
Sebuah informasi yang singkat, toh akhirnya kita tahu siapa sosok Nina sebenarnya. Menit-menit berikutnya tambah jelas, pemirsa bakal mengenal beberapa pemeran dengan watak yang berbeda. Dan karena kepiawaian Teguh Karya, penulis skenario, dan penyutradaraan dibantu Dedi Setiadi, Pulang pun memberikan sentuhan mendalam.
Kesederhanaan sinetron ini pun menghadirkan keceriaan sekaligus kejenakaan dalam menghadirkan situasi. Tentu hal ini tidak luput dari proses pembuatan sinetronnya. Bukan sekadar yang tampak di layar televisi. Ketegangan, kegembiraan, dan kejengkelan melebur menjadi satu.
Satu keluarga besar dari kelompok Kebon Pala – nama lain kelompok Teater Populer atau Cap Ikan. Semua kru merasa memilikinya. Semuanya bekerja tuntas dengan kapasitas masing-masing. Dengan gaya yang berbeda, entah secara sekelebatna maupun ‘lamaan’. Semua juga ingin memberikan yang terbaik. Itulah sinetron Pulang (TVRI).
Ditulis oleh: Gunawan Wibisono/Syamsuddin Noer Moenadi
SOLEK. Dari kiri: Ayu Azhari, Rini S. Bono, dan Rima Melati.
Bersolek dulu sebelum berakting. “Dandanannya mesti menor, dong,” ujar seorang
kru. Maklum, untuk adegan di pub
WAJAR. Soal kecermatan, Teguhlah orangnya. Ia tak ingin
setiap adegan tersaji gambar yang hambar. Untuk itu selalu memperhatikan detil
para pemain. Termasuk rambut Niniek L. Karim yang basah. “Yang saya inginkan
itu sesutau yang wajar-wajar saja,” kata Teguh
HANGAT. Searah jarum jam: Amin (oom Dan), Niniek L. Karim,
Dewi S. Matindas (tante Ema), Didi Petet (pak Loddy), dan Alex Komang. Mereka
ngumpul, makan malam berasma. Sebuah kehangatan keluarga, juga sebuah kerinduan
terhadap sosok Nina
LARI. “Hujan sudah berhenti. Ayo, pulang. Kalau adikmu yang
menurtumu rusak itu sekarang ini sudah di rumah, aku tidak mau sekarang melihat
kamu yang lari dari kenyataan ini,” cetus Tono (Alex Komang) kepada Lisa
KORBAN. “Aku dibohongi lagi. Padahal, semalam aku sudah
berikan semuanya. Dia berjanji menemui aku lagi dan merencanakan ke Paris. Dan
aku sudah mengorbankan rencanaku pulang,” gerutu Nina (Rini S Bono) pada Myrna
(Ayu Azhari)
SENDU. Lagu yang dibawakan penyanyi bar ini terasa sendu.
Marini Sardi, pemerannya, melantunkan dengan indah
LUKA. “Kamu harus pulang, Nin, biar nanti aku yang bicara
dengan bapak. Aku takut melihat keadaanmu. Sekarang ini belum terlambat,” ujar
Lisa memandangi adiknya yang tergolek di ranjang rumah sakit. Nina luka hati,
lelaki yang menghamili. Leo (Cok Simbara), ternyata kabur
PAHIT. Pertemuan yang mengharubirukan, antara bapak dan anak
setelah 3 tahun tak menjenguk rumah. “Aku mengerti hidupmu pahit. Tidak semua
orang mengalami. Dan kamu tahu, di rumah ini pintu masih terbuka. Itu untukmu,”
ucap pak Loddy terbata-bata
Dok. Monitor – No. 71/II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988, dengan sedikit perubahan











Komentar
Posting Komentar