BONUS MONITOR KE-43, KARMILA: "HATI BAJA YANG LULUH JADI HATI IBUNDA" (FILM CERITA AKHIR PEKAN, TVRI - SABTU, 4 JUNI 1988 Pkl: 22.30 WIB)
KARMILA adalah gadis yang keras hati, juga keras kepala. Ia
dibesarkan dalam lingkungan yang kerat agama, begitu pun pergaulannya. Sehingga
sikap-sikapnya mencerminkan suatu kemauan yang tulus untuk menjadi manusia yang
berbakti kepada Tuhan dan kemanusiaan.
Pengarang Marga T yang menulis kisah Karmila. Awalnya dimuat secara bersambung dalam lembaran surat kabar. Lalu diterbitkan menjadi buku, dan memperoleh sambutan pembaca. Juga tidak kalah menariknya, para kritikus sastra ikut membicarakan. Malah ada yang memberikan catatan kaki bahwa novel Karmila cukup memiliki bobot sebagai bacaan sehat.
Lantas gayung pun segera bersambut. Sutradara Ami Priyono memfilmkan, tahun 1975. Sebelumnya, si Ami menelurkan film pertamanya berjudul Dewi (1974). Sudah dapat ditebak, dengan memfilmkannya Karmila, pasti ada sangkut pautnya dnegan soal pasar.
Terbukti dalam peredarannya di Jakarta (Oktober 1976), Karmila mampu menerobos bioskop tertentu yang dianggap terlemah bagi pemutaran film nasional. Media massa kala itu menyebutkna pula, Karmila merupakan titik terang ubat kebangkitan kembali film Indonesia. Tetapi apakah film tersebut juga merupakan titik terang bagi Ami Priyono sendiri? Boleh jadi, karena setelah mengerjakan film itu Ami begitu produktif.
Film-filmnya yang lain dibuat setelah itu, yakni Cintaku Di
Kampus Biru (berdasar novel Ashadi Siregar) dan Kenangan Desember. Di tangan
Ami, Karmila tidak menjadi tontonan yang murahan. Film itu enak ditonton. Cukup
padat dan utuh. Dengan kata lain, sang sutradara sanggup bercerita secara konstan.
Gambar-gambar yang ditampilkan mampu menerangkan gagasan-gagasan sang
sutradara.
Juga berkat skenario yang ditulis Narto Erawan, Ami tidak pretensius. Segalanya berjalan riil. Dan sepertinya sang sutradara sudah menyadari kalau memindahkan sebauh novel ke dalam film, toh tetap akan berhadpaan dengan banyak risiko.
Dengan irama penuturan yang manis, Ami telah mengemas Karmila, ia tidak macam-macam. Ia menyadari visualisasi novel tidak bakalan terhindar dari unsur keterbatasan – baik teknis ataupun idiil. Memang, menonton filmnya terasa ada bagian yang hilang, ketimbang membaca novelnya. Jika membaca novelnya kita dapat membayangkan dengan segala imajinasi. Hal ini tidak mungkin dipindahkan ke dalam wujud lain secara nyata.
SESAL, SEDIH, SAKIT. Cukup nyaman dan tanpa beban menikmati
film Karmila ini. Dan pemirsa (waktu itu) tidak akan rugi menyaksikan meskipun
untuk kedua kalinya ditayangkan di TVRI. Pertama, disiarkan sekitar 7 tahun
sebelumnya (1981-red). Penayangan kembali ini tentu dengan suatu perhitungan
tertentu.
Barangkali karena seusai memutar Badai Pasti Berlalu yang novelnya juga ditulis Marga T, maka ada kelanjutan untuk memutar kisah-kisah dari penulis wanita itu. Atau karena minimnya persediaan film-film bioskop untuk TVRI? Kita sebaiknya risau atas nasib tragis yang menimpa Karmila saja. Pesta muda-mudi itu memang laknat.
Betapa memalukan semuanya. Karmila, mahasiswi kedokteran, yang mampu menjaga diri jelas tidak bisa melupakan peristiwa naas tersebut. Malam yang mahakejam, dan kejadiannya adalah pukulan yang mesti dipikul. Betapa brengseknya laki-laki yang memperkosa Karmila.
Kejadian yang menimpa Karmila adalah awal pemirsa direbut
simpatinya. Padahal, penonton mengetahui kalau film ini berkisah mengenai
sesuatu yang enteng-enteng saja. Tentang mahasiswi yang diperkosa, hamil,
lantas terpaksa kawin, sementara kekasihnya (bernama Edo) masih setia menunggu.
Toh, simpati yang disodorkan masih diperas menjadi melodrama. Bayi yang dikandung Karmila bakalan digugurkan? Tegakah bila seorang ibu menelantarkan bayi kandungnya karena ia membenci si pemerkosa (Faisal) yang sudah resmi jadi suaminya?
Konflik yang memang memeras air mata, sampai anaknya Karmila sakit keras. Penyesalan, kesedihan, akhirnya berputar haluan. Hati Karmila berubah jadi hati seorang ibu. Karmila tidak lagi bersikap egois. Film pun berakhir di situ. Karmila berjalan beprutar, memandang ke arah suaminya. Suasana sudah mencair. Karmila dengan keharuan menatap anaknya, fanny. Dan Ami menutup filmnya ini secara terbuka.
KARMILA
Muriani Budiwan sebagai Karmila
Drs. Purnomo/mang Udel – ayah Karmila
Awang Darmawan – Faisal
Umar Kayam – ayah Faisal
Sri Widiati – ibu Faisal
Farida Arriani – ibu Karmila
Nani Wijaya – bibi Karmila
Rosihan Anwar – pengacara
Ami Priyono – Edo
Sutradara: Ami Priyono
Penata artistik: Iri Supit
Penata musik: Idris Sardi
Penata kamera: M. Soleh
Penyunting: Cassim Abbas (almarhum)
Batas umur: 17 tahun ke atas
Dok. Monitor – No. 83/II/minggu ke-1 Juni 1988/1-7 Juni 1988, dengan sedikit perubahan






Komentar
Posting Komentar