BONUS MONITOR KE-37: SAAT BERKUMPUL DENGAN PUTRA-PUTRINYA, MARY STEENBURGEN MEMBIKIN SELAI BUAH DELIMA (TENDER IS THE NIGHT, FILM CERITA/TVRI – JUMAT, 24 APRIL 1988 Pkl: 22.30 WIB)

 
MARY Steenburgen, (waktu itu) 35 tahun, pemeran Nicole Warren dalam miniseri Tender Is The Night, bukanlah gambarnya bintang yang nasibnya ditentukan oleh faktor keberuntungan. Keinginan menjadi bintang panggung sudah diimpikan ketika ia masih kanak-kanak, di North Little Rock, Arkansas.

Sejak kecil, Mary mencoba mereaksi isi kisah atau bahkan mencoba membayangkan ekspresi dari tokoh yang ada dalam buku bacaan yang dibaca ibunya. “Tumpukan reaksimu lewat wajah dan mulutmu,“ ucap Mary menirukan perintah ibunya, seorang sekretaris. Dan hasilnya, putri seorang petugas jawatan kereta api ini, tahun 1980, meraih Oscar sebagai pemeran wanita pembantu terbaik, lewat film Helvin and Howard.

Pertama kali menginjakkan kaki di New York, tentu ia tak begitu saja langsugn dapta peranan. Di kota raksasa ini, Mary ikutan manggung di Neighborhood Playhouse. Sampai bertahun-tahun. Impiannya untuk jadi sri panggung tak pernah pupus, kendati Off Broadway, panggung yang dinilai lebih punya gengsi, tak juga pernah dirambahnya.

Baru ketika ia ditawari main dalam film Goin’ South, ia justru kaget. Maklum, lawan mainnya adalah Jack Nicholson yang lebih dulu sudah melambung. “Aku jadi pemeran utama.” Toh, kesempatan ini tak membuahkan jalan lebih berikut dan menguntungkan. Cukup lama ia kemudian menganggur, kecuali aktif keliling dalam rangka rehabilitasi alkoholik bersama-sama kelompok Cracked Tokens.

“Kesempatan tak untuk ditunggu, tapi harus disabet,” simpulnya kemudian. Dan ia pun menyodor-nyodorkan diri untuk diikutkan membintangi sebuah produksi. Hasilnya, ia diajak main, bahkan di posisi utama, dalam film Time After Time. Dalam film kedua ini ia didampingi aktor Malcolm McDowell sebagai pemeran pembantu.

Di sinilah faktor kebetulan ini berlangsung. Bukan terhadap karirnya esbagai bintang, melainkan terhadap status lajangnya. Malcolm-lah yang kemudian menjadi suami dan ayah dari dua putri: Lilly, (waktu itu) 7 tahun dan Charlie, (waktu itu) 4 tahun.

BLUE THUNDER. Dua-duanya bintang. Dua-duanya sibuk di dunia perfilman. Tak selalu mereka main dalam satu produksi. “Kami bisa istirahat justru kalau kami main dalam film yang sama,” ungkap Mary kemudian. Itu resep santai antara suami dan istri. Sebagai ibu rumah tangga, kapan bisa berhandai-handai bersmaa putri-putrinya?

Mary, ataupun Malcolm – dikenal terutama lewat film Cat People dan Blue Thunder – bukanlah tipe seseorang yang hanya mementingkan karir. “Karir dan keluarga seimbang,” ucap Mary. Itu bukan omongan gombal. Di hari-hari senggangnya – persentasenya sama dengan kesibukannya main film – Mary membikin selai buah delima.

“Kalau disuruh menentukan peringkat, keluarga menempati urutan pertama dibanding main film. Karena main film ada di rangking kedua, tentu tak mungkin aku melenyapkannya dari kehidupanku.

Yang jelas, aku baru merasa lengkap kalau aku berakting. Ya, karir itu tak beda dengan posisi ibuku dalam kehidupanku. Ibu menjadi bagian dari diriku. Begitulah karirku sebagai artis.” Cukup panjang penjelasannya. Cukup gamblan gkonsep dan ketegasannya. Satu kali pun ia tak hendak mengkambinghitamkan skenario atau tuntutan apapun yang ada di luar dirinya.

Karena sikap macam itulah ia kemudian membintangi judul-judul, antara lain Ragtime, Cross Creek, A Midsummer Night’s Sex Comedy, atau pentas teater bersama-sama sang suami, akhir tahun 1987, di sebuah panggung di London, lewat naskah berjudul Holiday, disutradarai Lindsay Anderson, temannya. Mary tak cuma menjadi pemain. Terakhir (kala itu), ia mencoba merangkap menjadi produser untuk film End of The Line.

“Beda posisi, beda pula yang dihadapi. Pemain hanya akan berhadapan dengan impian. Ya mimpi kaya raya, ya mimpi populer. Produser justru berhadapan dengan kenyataannya yang keras dan dingin.”

Dan Mary tak akan patah arang jika menghadapi kenyataan pahit macam begitu. Ia ibarat Miep Gies – pembantu keluarga Otto Frank – yang ia perankan, dalam film 2 jam The Hiding of Anne Frank, yang disiarkan CBS, 17 April 1988 yang (saat itu) baru lalu. Ketegaran itu pula yagn menggiringnya kembali mempertebal aksen Arkansas-nya untuk berkomedi-ria dalam produksi baru (ketika itu) yang (waktu itu) akan ‘start’ Mei 1988 ini.

Judulnya; The Miss Fircracker Contest. Dalam film ini, Mary didampingi oleh Holly Hunter dan Alfre Woodard.

Ditulis oleh: Veven Sp Wardhana

Dok. Monitor – No. 77/II/minggu ke-3 April 1988/20-26 April 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer