BONUS MONITOR 24 - OSHIN (TVRI): "AIR MATA ANAK-ANAK YANG MASIH ASIN"
MISKIN. Gadis kecil miskin yang bernama Oshin, kembali lagi disiarkan TVRI. Serial yang megnuras air mata ini masih meninggalkan kenangan (sampai saat itu) bagi penontonnya. Terputus sejak Maret 1987, bulan Desember 1987 masih menduduki urutan ke-8 dalam angket M. (Monitor) mengenai film seri yang digemari. Tetap berada di atas Unyil, urutan ke-12, dan Small Wonder, urutan ke-13. Boleh juga pilihan TVRI kali ini.
Tapi, apa kaitannya dnegan acara untuk anak-anak (era itu) secara keseluruhan? Saat itu, selama setahun, TVRI Stasiun Pusat – yang sebagian acarnaya direlai stasiun-staisun daerah, mempunyai 26 judul acara yang secara langsung ditujukan kepada penonton anak-anak (era itu).
Termasuk di dalamnya jenis-jenis Ayo Menyanyi, Aneka Ria Anak-Anak Nusantara, Gemar Menggambar, Ayo Menggambar, Unyil, film seri kartun, dan non-kartun yang menghabiskan 420,333 jam selama setahun. Berarti setiap hari ada 1 jam 15 menit. Hanya satu jam lima belas menit! Bisa dimengerti, kalau kemudian anak-anak (era itu) itu lebih melirik acara yang lain. Yang ditujukan untuk kelompok umur lebih dewasa, seperti acara musik, atau film seri, maupun drama dan lawak.
RUTIN. Ini tantangan yang mendasar, jika memang TVRI betulan mau membentuk “citra mansuia Indonesia”, sebab sejak berusia 2 tahun, si bayi mulai mengenali acara, dan sudah menunjukkan reaksi jika acara “favoritnya” nongol. Pada usia sekolah dasar (SD), menurut penelitian di seantero jagat, waktu yang dihabiskan untuk menonton lebih besar dari waktu di sekolah yang hanya sekitar 3 jam.
Hasil penelitian yang dianggap fundamental dari jawara-jawara yang bergabung seperti Schramm, Lyle, dan Parker dalam ‘Television in The Lives of Our Children’ di tahun 1961, menunjukkan nantinya di usia sekolah menengah, ada perbedaan. Yang bisa aktif mengembangkan diri, jam nontonnya berkembang, sementara anak yang rada bego menjadi lebih banyak.
Begitu dahsyat pengaruh hasil penelitian ini sehingga dianggap buku induk untuk menyusun acara terutama bagi penonton anak-anak (era itu) yang (waktu itu) akan menjadi mangsa terbesar sajian televisi. Sejak itulah, acara untuk anak-anak tak bisa dianggap sampingan atau disajikan secara rutin. Film-film kartun yang disajikan ‘Sunday Morning’, secara drastic diteliti. Hasilnya? Tontonan model kartun Hanna Barbra dilenyapkan dari siaran.
Para jawara dunia pendidikan dan kesenian menghabiskan duit lebih banyak untuk riset. Hasilnya, film kartun Walt Disney yang dianggap bagus diteruskan, dan muncul jenis Sesame Street sampai dengan Captain Kangaroo dan The Muppet Show. Di Amerika saja, 2.300 eksperimen dan riset yang diadakan, saling melengkapi apa yang “ditemukan” Schramm, Lyle, dan Parker.
JALIN. Revolusi sikap mendasar ini masih berlangsung sampai bacaan ini dimuat Monitor (1988-red). Bahkan The Cosby Show diteliti, bagaimana kesannya pada anak-anak (era itu) yang bukan kulit hitam. Adakah unsur rasial di dalamnya? Jawaban sementara: meskipun dimainkan oleh seluruhnya pemain kulit hitam, tapi tak ada unsur rasialis dalam cerita maupun humornya.
Ini menunjukkan betapa sungguh-sungguhnya “Dewan Siaran Nasional Amerika”, untuk terus menjalin dan menjamin amannya tontonan untuk anak-anak (era itu). Evaluasi judul acara itu (waktu itu) belum dilakukan di sini. Bahkan perhitungan keseluruhan juga belum. 1988, saatnya untuk lebih memantapkan dasar-dasar penyusunan, pemilihan, dan penyajian acara untuk anak-anak (era itu).
Oshin (waktu itu) telah dikembalikan. Tapi Oshin ini bukan lagi gadis kecil, ia telah dewasa. Meski tetap bisa menguras air mata yang – kali saja – rasanya asin. (Harapan waktu itu) mudah-mudahan ini pertanda kembalinya perhatian acara untuk anak-anak Indonesia. Secara bersungguh-sungguh dan terus menerus. Gila! Betapa dahsyat beban itu. Menyiapkan satu generasi! Ouiiii.
Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto
Dok. Monitor – No. 62/II/minggu ke-2 Januari 1988/6-12 Januari 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar