BONUS - MISTERI SEBUAH INTAN, VARIASI YANG TAK CUMA SLOGAN (SEPEKAN SINETRON, MISTERI SEBUAH INTAN/TVRI - RABU, 31 AGUSTUS 1988 Pkl: 21.30 WIB)
NYARIS lahir seorang Agatha Christie Indonesia – atau siapapunlah
namanya. Sinetron Misteri Sebuah Intan benar-benar punya keistimewaan. Pertama,
ia satu-satunya yang (sampai saat itu) belum pernah ditayangkan TVRI dalam
rangka sepekan sinetron HUT TVRI (ke-26, red) ini. Kedua, jenis dan tema
kisahnya juga berbeda dibandingkan kebanyakan sinetron yang diudarakan TVRI.
Soal yang kedua inilah yang hendak dicatatkan di sini. Misteri sungguh jauh dari problem-problem percintaan atau keluarga yang terdesak. Dan yang paling penting: jauh dari humas-ria penerangan slogan-sponsor. Inti kisahnya, Roseno mengundang teman-temannya – antara lain Drasono, Vicki, dan Manan – ke sebuah daerah dingin, untuk berburu. Roseno punya sebuah intan.
Pada suatu malam, untuk menghilangkan rasa dingin dan kejenuhn, Vicki menawarkan ‘gambling party’, sebuah permainan atau kepura-puraan pencurian barang berharga. Belum sampai keterangan Vicki selesai, lampu padam. Ketika lampu kembali menyala, intan liontin itu lenyap dari kotaknya. Urutan ‘gambling party’ menjadi kenyataan.
Ada lima nama yang kemudian dicurigai pensiunan reserse Jamal. Mereka adalah Manan, Vicki, Darsono, Roseno sendiri, dan Tisna. Nama terakhir ini mendadak muncul ketika lampu kembali menyala. Memang, masing-masing tokoht adi punay kemungkinan dan alasan untuk dijadikan tersangka. Roseno bukan tak mungkin ingin mendapatkan ganti rugi lantaran intan itu sudah diasuransikan, misalnya. “Mirip dnegan kebakaran rumah atau pasar,” kilah Jamal.
Manan dicurigai karena dia yang pertama kali ingin melihat bentuk intan itu. Sementara Darsono juga jadi tersangka kuat gara-gara ia menolak digeledah pakaiannya. Vicki? Sebelum lampu padam, ia mengaku merasa pusing sehingga minta izin keluar ruang. Tisna, sekretaris Roseno, yang mendadak muncul di ruangan juga menjdai salah satu alasan untuk dilibatkan sebagai pencuri.
Tentu, untuk mengetahuinya, kita perlu menyaksikan sinetron ini. Tak sebagaimana buku, sinetorn tak bisa dibaca hanya halaman depan dan belakang saja. Sinetron ini memang menyajikan sajian yang lumayan bagus jika dilihat dari tata gambar dan suntingannya.
Kekuatan kisah-kisah misteri, yang divisualisasikan, memang terletak pada detil dan efektivitas gambar, selain dari percikan-percikan dialog masing-masing tokohnya yang bisa ditafsirkan banyak macam. Cuma, yang membedakan kisah misteri ini dibandingkan dengan sebagian besar kisah misteri yang sudah baku adalah soal pengungkapan si tersangka.
Misteri terlalu gampang dipecahkan karena si tersangka mengaku. Ia mengaku bukan karena sejumlah bukti dan fakta yang diungkap sang detektif atau sang reserse. Adakah ini semacam sindiran yang teramat halus bahwa para abdi negara kita masih belum begitu canggih bermain pisau analisa, dan lebih gampang mengandalkan pentungan interogasi? Wallahualam bissawab.
Toh, Misteri ini sudah cukup menjanjikan. Tinggal Ferian Erlangga, penulis skenario, memperbanyak kisah-kisah misterinya untuk disinetronkan. Siapa tahu, ia jadi semacam S. Mara Gd, yang awalnya hanya menerjemahkan buku-buku Agatha Christie, namun di buntutnya ia justru produktif sendiri? (Pihak Monitor waktu itu mengucapkan) selamat datang, kisah misteri, selamat membuka peluang, TVRI…
Ditulis oleh: Veven Sp Wardhana
MISTERI SEBUAH INTAN
Jamal – WD Mochtar
Pak Karim – Harun Syarief
Darsono – Dadi Djaya
Vicki – Bangun Sugito (Gito Rollies)
Manan – Nizar Zulmi
Malabar – Al Qarana
Yudha – Mochtar Badillah
Roseno – Jack Maland
Tisna – Ferian Erlangga
Pengarah acara & sutradara: Irwinsyah
Tata kamera: Syahrian Rasyid dan Suparyanto
Tata artistik: Ruwono Sudarto
‘Editing’: Ilos Purba dan Ichsani
Batas usia: 13 tahun ke atas
Dok. Monitor – No. 95/II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar