BONUS - MESKI HASIL SELEKSI, BOCAH-BOCAH DI TELEVISI MASIH BANYAK YANG NGOMPOL DAN BERDANDAN MENOR

 

BAKAT. Contoh biasa dalam pergelaran acara bocah: deklamasi. Terkadang rada dipaksakan, meski tak sedikit bakat yang mencuat. Inset: Dyah Sukorini 

ANAK, ACAK, AGAK. 26 adalah jumlah yang tak bisa dibilang sedikit. Sebegitulah banyaknya acara TVRI (Pusat) yang dikonsumsikan untuk anak-anak (era itu). Mungkin bisa dihitung-hitung durasi keseluruhan untuk dibilang dominan ataukah miskin dalam jumlah.

Setidak-tidaknya, acara anak-anak hadir setiap hari. Dengan daerah operasi jam-jam awal penyiaran, dengan berbagai judulnya: yang berkepala Bina, Aneka, Ayo, Gemar, Taman, sampai pembedaan kriteria remaja-non remaja dalam acara berciri ilmu pengetahuan seperti Cepat Tepat dan Cerdas Cermat.

Penekanan pada tingkat usia yang dituju pun bisa bergeser, manakala kita melihat tayangan lain yang melibatkan anak-anak, seperti Kuis Keluarga, atau semacam pelengkap penderita – mendampingi penyanyi dalam Aneka Ria Safari – atau yang lainnya.

Alhasil, bingkai yang membatasi keikutsertaan anak-anak (era itu) dalam acara TV bukan lagi pendidikan saja, karena akhirnya bisa berkembang ke mana-mana. Coba lihat dalam sehari siaran, berapa drama, musik/hiburan, acara agama/pendidikan, olahraga, atau malah berita tentang anak-anak. Mereka ada, begitu terasa. Dan mau tak mau, orang akan sampai pada penilaian, bahkan pertanyaan: hendak dibagaimanakah mereka?

Itu kalau diingat sekian tahun perjalanan acara bocah, sekian lama impor yang ditujukan buat mereka, serta sekian lama hasrat untuk menaikkan tingkat ‘technical production’ itu ada. Tapi, kalau mau bicara soal batasan – usia maupun tingkat sekolah – maksud untuk mencapai tujuan, lewat jalan kemudahan, belum tentu berhasil.

Seperti batas usia anak-anak yang dilbiatkan dalam Kuis Keluarga, misalnya, antara 8 sampai 12 tahun, alias kelas 3-4 SD. Tapi, standar itu belum tentu bisa dipakai buat patokan, seberapa jauh mereka mewarnai kuis itu.

 

SPONTAN. Ekspresi spontan seperti ini mungkin agak jarang. Yang lebih banyak, gerak kaku serasa dibuat-buat 

Acara lain, pun belum tentu bisa mengambil bocah (era itu) – TK atau SD – secara acak saja. Yang jelas, hampir semuanya memberlakukan mekanisme undian dan antrean. Kavling yang tersedia, berbanding dengan kapasitas yang ada, ditambah jumlah frekuensi siar setahun, berhadapan dengan membludaknya jumlah (calon) peserta.

Taman Indria adalah salah satu contoh. Tayangan yang diasuh oleh bu Kasur, untuk anak-anak prasekolah (era itu) ini, berbeda dengan Taman Kanak-Kanak. Dituturkan oleh Ny. Eni Bambang, staf bapersi bapora, jumlah siaran setahun 28 biji.

 

Ny. Enny Bambang 

Sedangkan sekali siaran, studio cuma bisa menampung sekitar 50 anak (era itu). Pun hasil dari antrean lumayan lama. Dan sudah cukup jamak, di sana sini muncul teriakan-teriakan atau reaksi ngambek. Pipis di atas gulungan kabel. Atau mengeluh ada bau kentut. Karenanya pernah tercetus saran dari kru TV agar bu Kasur membawa pispot saja. Juga tak sedikit di antara mereka yang menangis.

Acara Taman Kanak-Kanak agak mendingan. Minimal ia memberlakukna mekanisme tinjauan, sebanyak 2 kali, sebelum sebuah Taman nongol di televisi. Sekalipun begitu, yang muncul di TV, ya pola anak-anak dari itu ke itu. Bocah (era itu) yang berdeklamasi dengan bahasa muluk-muluk, dengan ekspresi merintih-rintih, sementara ia sendiri tak tahu maksudnya, sembari kehilangan spontanitas di sana-sini.

Ini pun tak kalah lumrah dengan semakin banyaknya anak-anak (era itu) datang ke studio dengan dandanan menor gaya karnaval. Padahal, sudah ada ketentuan, bahwa seorang bocah (era itu) yang akan mengisi acara seperti itu tak boleh didandani keterlaluan.

Persoalan lanjut, barangkali dalam hal pembawa acara. Perbedaan metodik antara kak Alex dan pak Tino Sidin dalam Gemar Menggambar dan Mari Menggambar, misalnya, menghasilkan pemahaman yang berbeda pula. Yang satu lebih menekankan pemupukan kemampuan lewat teknik yang lebih “tinggi”, seperti perspektif dan komposisi, sementara satunya lebih menggugah minat gambar.

Tak berlebihan kalau semua gambar yang menumpuk di rumah Tino Sidin, antre menunggu untuk dikomentari: “Bagus (belajarlah anak-anak, gambar menggambar untuk seni)!” Dari acara pendidikan, yang paling menegangkan adalah Cerdas Cermat. Di samping menjadi ajang gengsi-prestasi, acara asuhan Dyah Sukorini, staf bapersi bapora ini sering dijadikan “guru” oleh para anak didik, berhubung materi soal yang diambil, sebagian juga dari buku-buku sekolah.

Dan ajang adu kecepatan bereaksi dan cekat memecahkan persoalan pun bergulir dari jenis itu ke itu. Sekali setahun ada babak final, dan awal tahun siaran berikut, mulai dengan penyisihan baru, berasal dari sekolah-sekolah yang sebelumnya sudah mengajukan permohonan dan melakukan latihan. Kalaupun ada perkembangan, barangkali berupa variasi gaya dan peralatan tambahan.

Kalau dirunut-runut, mungkin ini persoalan klasik acara pendidikan. Seperti sering diungkapkan banyak orang. Kesulitan membungkus fundamen masa depan bangsa, dalam kemasan yang, bagaimana caranya, supaya menarik. Alhasil pula, sebagaimana acara-acara anak-anak lainnya, paling banyak ditonton oleh kerabat atau lingkungan si bocah (era itu) yang muncul dalam tayangan.

Untuk lebih dari itu, nanti dulu. Entah yang berciri drama, musik/hiburan, atau pengtetahuan, anak-anak (era itu) memang (waktu itu) belum bisa dipermanis banyak-banyak. Di sinilah soalnya. Mungkin stasiun daerah seperti Surabaya mampu memberi warna lain, lewat Ketoprak Anak-Anaknya.

Barangkali pula, stasiun lain (sesama TVRI daerah-red) punya satu-dua gaya. Tak usahlah terlalu orisinal, asal upaya melibatkan para bocah (era itu) dalam kemasan acara bagus, benar-benar terwujud. Agaknya, kemunculan Julius Sitanggang dengan Balada Anak Nelayan (lagu karya Louis Kumala-red) dalam Aneka Ria Anak-Anak Nusantara di awal karirnya dulu (1983-red), perlu dijadikan bahan renungan.

Itu cukup, sebelum kita sampai pada yang lebih luas, semacam Ratapan Anak Tiri-nya Dewi Rosaria Indah dan Faradila Sandi, Si Doel Anak Betawi-nya Rano Karno, Jenderal Kancil-nya Ahmad Albar, atau drama musikal sekelas filmnya Heintje Simmons. 

Ditulis oleh: Irene Suliana/Slamet Riyadi

Dok. Monitor – No. 62/II/minggu ke-2 Januari 1988/6-12 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer