BONUS - MENONTON SINETRON DI AMERIKA, MASUK KE DALAM LUMPUR RAWA, MENYIBAK CAKRAWALA. AH, KAYAK BERSAJAK SAJA
KONTAK, OTAK. Seminggu di Washington DC mengikuti ‘International Visitor Individual Program’, rasanya terdesak waktu ketika tiba-tiba sudah setengah mnggu terpakai untuk ketemu para pejabat ‘United States Information Agency’ di ‘Voice of America’ (VOA) yang auditif sampai ke Worldnet yang audiovisual – suatu jaringan informasi pemerintah yang bersumber di Washington DC diperuntukkan bagi kedutaan-kedutaan besar Amerika di seluruh dunia.
Hari pun sudah 1 Mei 1988, saat kereta api membawa penulis bacaan ini (Sandy Tyas, kasi produksi acara drama TVRI Sta. Pusat Jakarta) ke Philadelphia.
Selama seminggu di kota tempat deklarasi kemerdekaan Amerika ditandatangani 4 Juli 1776, otak agak tercuci bersih berkat kontak langsung dengan para sutradara televisi, penulis, para produser independen, instruktur pendidikan, juru kamera, dan lain-lain lagi dari Amerika, Eropa, Afirka, Amerika Latin, dan Asia yang diwakili Jepang dan TVRI.
Temu karya televisi yang disebut sebagai ‘screening conference’ itu merupakan pertemuan tahunan yang penyelenggaraannya selalu berpindah-pindah negara. Kali ini, pertemuan ke-11 yang diimpikan sebagai satu dekade baru, dihadiri oleh lebih 500 peesrta dari 100 organisasi ‘public television’ non-pemerintah dan non-komersial, dikenal di negara-negara yang berbahasa Inggris seperti PBS atau ‘Public Television Service’.
‘International Public Television Screening Conference’ atau INPUT 88, merupakan besaran pertemuan antar produser tahun 1977, yang telah melihat betapa tidak sehatnya kotak ajaib yang bernama televisi itu dipenuhi gambar-gambar komersial yang sangat berlebihan sifat komersialnya.
Salah seorang yang dihormati, Sergio Borelli, berasumsi bahwa acara-acara televisi di banyak negara yang memiliki jam iklan dianggap timpang siarannya dan didominasi oleh acara komersial yang menuntun ke satu situasi di mana kualitas acara tidak menggambarkan atau tidak memberi pengeritan kebudayaan yang luas. Reaksi terhadap kenyataan inilah yang menegarkan PBS untuk siaran tanpa iklan, walau ada acara mereka yang menerima sponsor dari suatu badan usaha.
Penulis bacaan ini (Sandy Tyas) jadi ingat ketika semobil dengan seorang profesor yang mengajar ilmu politik dunia ketiga, yang menyatkan kesebalannya terhadap acara-acara TV komersial – sebab sesungguhnyalah sebagai ilmuwan, ia sangat sedikit memperoleh makanan “rohani”.
Ia lebih simpati kepada PBS, sehingga ikhlas menyisihkan sedikit gajinya untuk PBS. Yang dijagoinya pun menciptakan kompetisi terbuka dan ksatria. Ini tercermin dalam INPUT 88, yang mengombinasikan pemikiran bahwa acara hendaknya inovatif dalam bentuk dan isi. Program dikehendaki asli, berani, dan eksperimental. Produksi diusahakan kontroversial dan tidak kacangan. Penggunaan teknologi baru harus didemonstrasikan.
PERSPEKTIF, POSITIF. INPUT 88 yang memutar 88 karya televisi di empat ruangan sekolah komunikasi Annenberg, Universitas Pennsyvlania, setiap hari bekerja selama 9 jam. Karya-karya yang diputar di layar lebar (bukan di ‘receiver’ TV), bermasa putar antara 15 sampai 100 menit. Ada dokumenter murni, ada dokumenter rekonstruksi. Ada karya eksperimental, di samping politik dan agama, ada masalah sastra dan seni pertunjukan.
Setiap peserta boleh memilih sinetron mana yang memikat, yang bisa dibaca di bundel acara. Penulis bacaan ini (Sandy Tyas) sengaja menghindarkan produk Amerika ataupun Inggris atau Kanada, karena sudah meraba kemajaunnya. Perancis masih kuat memikat, lantaran meski termasuk negara maju, namun sering memiliki pikiran-pikiran yang aneh dalam pengeritan kreatif, juga Swedia. Spanyol menarik – walau Eropa, tetapi terasa memiliki jiwa timur.
Rasanya tidak keliru nonton ULELE, Spanyol, suatu ekspresi kesenian kontemporer yang tampil secara ritual dekat dengan gambaran api, bumi, udara, air, dan mengandung pemberontakan terhadap surealisme serta pandangan ‘post-apocalyptic’. Fourteen Days In May membetahkan orang duduk di kursi selama 90 menit.
Sinetron dokumenter ini mendokumentasi nasib seorang pemuda kulit hitam, umur 26 tahun, yang dituduh membunuh orang kulit putih. Yang menarik adalah masalah yang diungkap dengan ritme waktu yang dilalui gambar-gambar perkembangan perjalanan kematian. Nonton produksi ini, seperti masuk ke dalam lumpur rawa. Semakin detik kian menjerat leher, dan akhirnya: maut.
Namun, inilah pula irama sinetron itu: begitu sang tertuduh lewat tengah malam menjalani hukuman mati di kursi listrik, karena sia-sia dibela oleh pembelanya sampai detik-detik terakhir, paginya muncul berita bahwa sebenarnya dia bukan pembunuhnya. Surat seorang wanita dipublikasikan, wanita yang mengaku mengerti betul siapa pembunuh marshal, orang kulit putih iut.
Seusai pemutaran, seperti pemtuaran-pemutaran yang lain, para peserta aktif berdiskusi. Di luar ruangan, rupanya mereka yang berminat terhadap sesuatu karya bisa ‘bargaining’ untuk membeli atau menjual. Sampai pada hari penutupan, gumam itu masih terdengar, sudah tentu (waktu itu) akan bersambung tahun 1989 di Stockholm, Sewdia.
TVRI yang diberi waktu untuk ngomong di hari penutupan mengatakan, bahwa INPUT 88 mencatat sejarah lagi bahwa di tahun ke-11 konferensi, Indonesia hadir. Hendaklah nama TVRI dicetak. (Harapan waktu itu) mudah-mudahan tahun 1989 (waktu itu) akan hadir lagi dengan karyanya.
Terbayang sampai Agustus 1988, bahwa pergaulan TVRI dengan ABU, AIBD cukup menggembrakan, namun pergaulan internasional dengan INPUT juga memiliki perspektif yang positif yang perlu dimulai saat itu juga.
Menyisihkan waktu seminggu dari 360 hari dalam setahun untuk suatu manfaat yang inspiratif sungguh tidak bala melainkan laba, lebih-lebih jika menyadari tekanan produksi saban hari, yang mendorong pertanyaan apakah seenarnya TV itu? Kenpaa TV penting, bagaimana homo kreator televisi melayani publik lebih baik?
Organisasi itu sendiri mulai memperoleh bentuknya setelah konferensi di Bellagio, Italia, yang menyadari perlunya pertukaran acara-acara kebudayaan yang melewati batas-batas nasional. Dan…. (penulis bacaan ini, Sandy Tyas, awktu itu mengucapkan) ‘welcome’, TVRI!
Dok. Monitor – No. 94/II/minggu ke-3 Agustus 1988/17-23 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar