BONUS - MENCATAT YANG DIDENGAR DARI YANG DILIHAT (UNYIL – TVRI, SETIAP MINGGU PAGI)
MUNGKIN begitu kalau ‘reruns’, atau siaran ulang hari Rabu sore ditempati Oshin. Itu tak mengurangi kegigihan pendukungnya, yang selama itu, sebagian hanya dikenal lewat suara. Padahal, idiom “Cepek dulu dong… Akkkku iniiii beghitu lho bbu… Unyil kucing!...” sampai dengan suara tenggorokan oom Jack merupakan ciri utama. Ya, bukan nasib buruklah kalau mereka kalah ngepop dari boneka.
Toh mereka ini, tetap artis yang “banyak bicara banyak bekerja”. Bisa ikut ‘show’ kalau perlu, atau sebagai pengisi suara film. Karena semboyan tabloid ini (Monitor-red) mencatat yang Anda dengar dan lihat setiap saat, mereka ini kita tampilkan. Syukur kalian lebih mantap menyayangi boneka, atau…. Salaaaammmm…
Katanya, seorang pengisi suara sebelumnya harus mengenali watak boneka. Supaya sinkron. “Anda kaget dengan suara saya yang berbeda dengan suara pak Raden? Ini suara tidak diual. Kalau suara yang saya jual pasti berbeda.” Menurutnya, tokoh pak Raden memerlukan suara yang khas. Makanya, bila dalang memainkan boneka pak Raden, ia acapkali membaca teks skenarionya supaya gerak-geriknya lebih sinkron dengan suaranya.
BU UNYIL. Ivonne Rose, (saat itu) 27 tahun, yang mengisi suara boneka bu Unyil ini sering mengadakan improvisasi dalam mengisi suara. “Saya selalu mengikuti gerak boneka. Bila bonekanya masih mengangguk-angguk, secepatnya saya harus menambahkan suara. Tentunya dialognya harus klop.”
Dan ia merasa senang sekali dengan profesi sebagai pengisi suara. “Kalau ngisi
di Unyil saya tidak pernah menghargai honor. Saya senang saja. Tapi, kalau
mengisi suara di film, saya pasang harga,” kata pengisi suara Lasmini dalam sandiwara
radio Saur Sepuh dan Ida Iasha di film Tahu Sama Tahu ini.
UNYIL. Rivaldy Zulkarnain, (saat itu) 14 tahun, pengisi
suara boneka Unyil, merasa kagok bila Unyil harus berbicara macam-macam. “Unyil
itu khan masih sekolah dasar (SD). Agak kurang pas gitu,” ucap pelajar SMP 3 Manggarai
(era itu) ini.
Tapi, ia merasa bangga memerankan tokoh Unyil tersebut. Karena Unyil merupakan idola anak kecil. “Saya sering diledek oleh kawan di sekolah, kalau ada salah satu cerita yang menarik.” Dan tanggal 21 Januari 1988, ia (waktu itu) akan mengadakan ‘show’ di Jember dan Banyuwangi. “Kalau di panggung saya tidak membawakan tokoh Unyil, karena postur saya tidak memungkinkan,” cetus anak (era itu) yang tinggi dan berat badannya 160 dan 45 (waktu itu) ini.
ABLEH. Budhi Sutjipto, (saat itu) 34 tahun, pengisi suara
Ableh pernah dikejar-kejar oleh sutradara gara-gara bulan madunya terlalu lama.
“Saya yang menjadi dalang dan pengisi suara Ableh. Jadi waktu saya menikmati
hangat-hangatnya pengantin baru, sutradara kelabakan. Hehehe.”
Dalam kehidupan sehari-hari ia mengidentikkan dirinya seperti Ableh. “Kalau orang mengenal saya sebagai Ableh, pasti ia manggil saya Ableh. Istri saya pun oleh tetangga dipanggil bu Ableh.” Untungnya? “Tokoh Ableh, Ogah, dan Ojek jadi sering ditanggap manggung. Lumayan, khan?”
BU RADEN. Widianingsih, (saat itu) 37 tahun, pengisi suara
bu Raden ini pernah sebulan absen. Penonton protes. “Suara bu Raden itu sudah
khas pakai suara saya,” katanya. Sebab, menurtunya hanya ia yang bisa
mengimbangi suara pak Raden yang kasar dan pemarah itu. “Pak Raden orangnya
keras. Jadi, yang mendampingi harus lembut, supaya lebih pas.”
PAK OGAH. A. Hamid, (saat itu) 40 tahun, pengisi suara pak
Ogah, menceritakan, lahirnya tokoh pak Ogah berkat dirinya. “Waktu Unyil
difilmkan, saya memerankan Penjol. Waktu itu kepala saya digundul. Eh, pak
Kurnain tertarik dengan kepala saya yang antik ini. Kalau nggak ada saya, tidak
mungkin boneka pak Ogah itu lahir.”
Ia pun bersyukur karena kepalanya bisa dijdaikan ladang kehidupan. “Bukan kepala Telly Savalas saja yang komersial, kepala saya juga.”
Ditulis oleh: Bujang Praktiko
Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan









Komentar
Posting Komentar