BONUS - MENCATAT YANG DIDENGAR DARI YANG DILIHAT (UNYIL – TVRI, SETIAP MINGGU PAGI)

MUNGKIN begitu kalau ‘reruns’, atau siaran ulang hari Rabu sore ditempati Oshin. Itu tak mengurangi kegigihan pendukungnya, yang selama itu, sebagian hanya dikenal lewat suara. Padahal, idiom “Cepek dulu dong… Akkkku iniiii beghitu lho bbu… Unyil kucing!...” sampai dengan suara tenggorokan oom Jack merupakan ciri utama. Ya, bukan nasib buruklah kalau mereka kalah ngepop dari boneka.

Toh mereka ini, tetap artis yang “banyak bicara banyak bekerja”. Bisa ikut ‘show’ kalau perlu, atau sebagai pengisi suara film. Karena semboyan tabloid ini (Monitor-red) mencatat yang Anda dengar dan lihat setiap saat, mereka ini kita tampilkan. Syukur kalian lebih mantap menyayangi boneka, atau…. Salaaaammmm…


PAK RADEN. Drs. Suyadi, (saat itu) 55 tahun, pengisi suara pak Raden, dalam kehidupan sehari-hari hampir sama dengan tokoh yang ia isi. “Kalau pak Raden itu pandai menggambar dan menyanyi, memang sama dengan saya,” jelas sarjana dari ITB jurusan seni rupa ini.

Katanya, seorang pengisi suara sebelumnya harus mengenali watak boneka. Supaya sinkron. “Anda kaget dengan suara saya yang berbeda dengan suara pak Raden? Ini suara tidak diual. Kalau suara yang saya jual pasti berbeda.” Menurutnya, tokoh pak Raden memerlukan suara yang khas. Makanya, bila dalang memainkan boneka pak Raden, ia acapkali membaca teks skenarionya supaya gerak-geriknya lebih sinkron dengan suaranya.

 

BU UNYIL. Ivonne Rose, (saat itu) 27 tahun, yang mengisi suara boneka bu Unyil ini sering mengadakan improvisasi dalam mengisi suara. “Saya selalu mengikuti gerak boneka. Bila bonekanya masih mengangguk-angguk, secepatnya saya harus menambahkan suara. Tentunya dialognya harus klop.”

Dan ia merasa senang sekali dengan profesi sebagai pengisi suara. “Kalau ngisi di Unyil saya tidak pernah menghargai honor. Saya senang saja. Tapi, kalau mengisi suara di film, saya pasang harga,” kata pengisi suara Lasmini dalam sandiwara radio Saur Sepuh dan Ida Iasha di film Tahu Sama Tahu ini.

 

BU GURU. Aty Cancer, (saat itu) 39 tahun, pengisi suara bu guru, mengatakan, mengisi suara boneka itu paling gampang. “Dalam Unyil, saya paling pinter, lho. Lihat saja, bila ada permasalahn, saya disuruh pak lurah menghadapi.” Aty juga pernah ikut main film. Tpai, “Saya patah hati, percuma saya belajar akting sejak tahun 1964, kalau hanya sebagai figuran saja,” kata anggota Teater Saja pimpinan Ikranagara ini.

 

UNYIL. Rivaldy Zulkarnain, (saat itu) 14 tahun, pengisi suara boneka Unyil, merasa kagok bila Unyil harus berbicara macam-macam. “Unyil itu khan masih sekolah dasar (SD). Agak kurang pas gitu,” ucap pelajar SMP 3 Manggarai (era itu) ini.

Tapi, ia merasa bangga memerankan tokoh Unyil tersebut. Karena Unyil merupakan idola anak kecil. “Saya sering diledek oleh kawan di sekolah, kalau ada salah satu cerita yang menarik.” Dan tanggal 21 Januari 1988, ia (waktu itu) akan mengadakan ‘show’ di Jember dan Banyuwangi. “Kalau di panggung saya tidak membawakan tokoh Unyil, karena postur saya tidak memungkinkan,” cetus anak (era itu) yang tinggi dan berat badannya 160 dan 45 (waktu itu) ini.

 


ABLEH. Budhi Sutjipto, (saat itu) 34 tahun, pengisi suara Ableh pernah dikejar-kejar oleh sutradara gara-gara bulan madunya terlalu lama. “Saya yang menjadi dalang dan pengisi suara Ableh. Jadi waktu saya menikmati hangat-hangatnya pengantin baru, sutradara kelabakan. Hehehe.”

Dalam kehidupan sehari-hari ia mengidentikkan dirinya seperti Ableh. “Kalau orang mengenal saya sebagai Ableh, pasti ia manggil saya Ableh. Istri saya pun oleh tetangga dipanggil bu Ableh.” Untungnya? “Tokoh Ableh, Ogah, dan Ojek jadi sering ditanggap manggung. Lumayan, khan?”

 

BU RADEN. Widianingsih, (saat itu) 37 tahun, pengisi suara bu Raden ini pernah sebulan absen. Penonton protes. “Suara bu Raden itu sudah khas pakai suara saya,” katanya. Sebab, menurtunya hanya ia yang bisa mengimbangi suara pak Raden yang kasar dan pemarah itu. “Pak Raden orangnya keras. Jadi, yang mendampingi harus lembut, supaya lebih pas.”

 


PAK OGAH. A. Hamid, (saat itu) 40 tahun, pengisi suara pak Ogah, menceritakan, lahirnya tokoh pak Ogah berkat dirinya. “Waktu Unyil difilmkan, saya memerankan Penjol. Waktu itu kepala saya digundul. Eh, pak Kurnain tertarik dengan kepala saya yang antik ini. Kalau nggak ada saya, tidak mungkin boneka pak Ogah itu lahir.”

Ia pun bersyukur karena kepalanya bisa dijdaikan ladang kehidupan. “Bukan kepala Telly Savalas saja yang komersial, kepala saya juga.”

Ditulis oleh: Bujang Praktiko

Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer