BONUS: MENAWARKAN SANDIWARA INDONESIA KE PHILADELPHIA
PERU, PERLU. Hidup memang barangkali dari kata “mudah-mudahan”.
Kata itu bisa jadi terjemahan bebas dari insya Allah. Atau mungkin kata pasti
dari sikap bahasa timur yang samar. Dan itulah perhitungan penulis bacaan ini
(Sandy Tyas) sebagai peserta INPUT 88, ketika berada di ruang A, B, C, dan D,
gedung sekolah komunikasi Annenberg, Universitas Pennsylvania, mengumandangkan
nama Indonesia, dalam kesempatan tanya jawab, seusai pemutaran sebuah karya
sinetronik.
Sebuah di antaranya adalah ‘Ways of Liberation’ dari TV Peru. Empat baris kalimat tuntunan untuk melihat karya tersebut menginformasikan, bagaimana teologi pembebasan beraksi di Peru, sebuah negara yang dilanda krisis berat dalam kemelaratan, kekerasan, dan ketidakadilan.
Mereka dan para miskin bergerak di jalanan umum, dan pimpinan mereka berkhotbah di mimbar agama. Suasana panas, dikipas-kipas untuk menjadi bara dan revolusi. “Rata-rata karya dari Amerika Latin berwarna kelabu dan gelap?,” tanya penulis bacaan ini (Sandy Tyas). “Dengan karya-karya demikian, terus terang, saya jadi ragu untuk datang ke negeri Anda. Apakah tidak ada cara lain buat berekspresi?”
“’No way’,” jawaban enteng seorang ibu yang mewakili Grupo Chaski, Peru. Belakangan itu, baru penulis bacaan ini (Sandy Tyas) mendengar cerita, karya-karya yang kelabu gelap itu diperlukan sebagai bagian perjuangan politik mereka.
JAKARTA, YOGYA. Buntut kumandang Indonesia rupanya tak sia-sia. Ini terbukti dari pertemuan penulis bacaan ini (Sandy Tyas) dengan Andrea Traubner, ‘manager program acquisitions/co-productions’. Pertemuan 13 Mei 1988 di New York itu berkat jasa baik Ms. Muriel Peters, seorang wanita yang mengaku sering ke Indonesia dan punya banyak kenalan di Jakarta dan Yogya.
Nona Andrea bekerja di TV-Thirteen, kanal 13, sebuah stasiun penyiaran di bawah PS. Sudah 3 tahun ia membeli produksi ‘features’, ‘magazine’, dan drama dari negara-negara lain. “Ya, saya sudah kenal nama Anda di Philadelphia. Ketika penutupan konferensi, ‘U’ mengatakan dari Indonesia, dan ‘next year’ pengen ikut lagi di INPUT Stockholm.”
Lalu, penulis bacaan ini (Sandy Tyas) menawarkan kemungkinan produksi-produksi drama TVRI bisa juga dibeli oleh Thirteen. Prinsipnya: setuju.
“Bagaimana syarat-syaratnya?”
“Yang penting, bukan propaganda pemerintah. Natural.
Penyutradaraan sederhana, bukan ‘trick’. Plot cerita tidak ruwet.”
“Antara 5.000 sampai 15.000 dolar AS.”
“Lain-lain?”
“Masa putar antara 30 sampai 90 menit. Format lebih
dikehendaki 1 inci video tape, walau terbuka pilihan lain, yakni film 16 mm
maupun 35 mm.”
PRODUKSI, PROFESI. Penulis bacaan ini (Sandy Tyas) yang tidak pandai berdagang sudah bersorak dalam hati. Jika ini bisa terwujud, paling tidak bisa mengembalikan biaya produksi drama TVRI yang nilainya kira-kira sama dengan jumlah yang disebut Andrea.
Soalnya, apakah TVRI responsif atau tidak? Agar penulis bacaan ini (Sandy Tyas) lebih memahami keinginan Thirteen, diputarkan sebuah produksi drama yang (waktu itu) baru dibeli dari Inggris, tentang seorang anak laki-laki yang hidupnya brutal, menentang masuk sekolah, membongkar rumah, ditangkap polisi dan….
Contoh produksi itu mengusik pikiran, betapa Thirteen pengen lain dari stasiun penyiaran manapun di Amerika. Ini bisa dimengerti, mengingat persaingan terbuka yang ksatria di TV Amerika, bagaimana agar mereka tidak kehilangan pasar penonton? Prinsip yang harus disadari, jika tidak pengen mati. Sebab, para penontonlah yang memberi hidup mereka. Tidak peduli apakah TV komersial atau PBS.
Dari New York terbuka pasaran baru (kala itu) lagi, selain RTM, Brunei, Singapura, atau Thailand, dan lebih membuka kesadaran, bahwa ternyata orang lain pun memerlukan TVRI bukan basa-basi, melainkan profesi. Sekali lagi, apakah kita responsif, trengginas, atau memble? Tapi, bukankah hidu pberkait dengan kata “mudah-mudahan”, agar kita memiliki harapan masa depan?
Dok. Monitor – No. 96/II/minggu ke-5 Agustus 1988/31 Agustus-6 September 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar