BONUS - MATAHARI DI BULAN MARET, TRAUMA KEKEJAMAN KOMUNIS 23 TAHUN YANG (WAKTU ITU) TELAH LEWAT (TVRI - JUMAT, 11 MARET 1988 Pkl: 00.25 WIB)

 

BINGUNG. Sikap Rini juga membingungkan Siska, sahabatnya yang sama-sama merencanakan mendirikan perusahaan pakaian jadi 

JUDUL Matahari Di Bulan Maret adalah sebuah drama yang khusus dibuat untuk menyembut HUT Supersemar (ke-23, red). “Pesanan khusus Direktur Televisi (Ishadi Sutopo-red),” ungkap Wahyu Sihombing, pengatur laku. Toh, katanya, tak ada batasan-batasan tertentu yang disodorkan oleh Ishadi. “Malah beliau menawarkan fasilitas.”

Lepas dari fasilitas yang kemudian, kata Hombing, tidak dimanfaatkan, Tatiek Maliyati sebagai penuis naskah tidak begitu saja mentah-mentah menggodok Supersemar sebagai alat penerangan atau propaganda murahan. Bukan saja soal politik ia taruh samar-samar, Tatiek pun mencoba menggali lebih dari sekadar sesuatu yang tampak di permukaan. Ia bicara soal yang lebih dalam lagi: kejiwaan.

Ide dasar cerita ini, seperti kemudian dikemukakan oleh suaminya, cuma sebuah pertanyaan: “Apakah masalah PKI sudah selesai dan dimaafkan atau masih menjadi trauma nasional?” Tatiek memaparkan semuanya ini dalam sautu format kecil, sebuah keluarga.

 

TRAUMA. Semuanya lalu jadi jelas. Ibunya menyerahkan segala keputusan kepada anaknya. Rini harus memilih. Meneruskan cita-citanya atau tetap dihantui trauma

Sang istri dilanda persoalan yang kemudian membelit sang suami. Kehadiran ibu kandung sang istri tetap saja tidak memecahkan misteri yang dipendam. Dalam suasana menjelang peringatan Supersemar, 11 Maret 1966, kisah ini berlangsung.

Semuanya dari perkara suami-istri. Ramadhan jengkel atas sikap istrinya yang mendadak aneh. Menutupi sesuatu hanya untuk dirinya sendiri. Ramadhan putus asa. Dan ibu sang istri datang. Rini, tetap saja teguh pada sikapnya, memendam diri. Bukan itu saja, langkah selanjutnya justru mengagetkan. Ia memutuskan hubungan kerja dengan partnernya dalam suatu usaha pakaian jadi, tanpa suatu alasan yang jelas.

Siska, sang ‘partner’, juga kaget. Ramadhan tahu persis perusahaan pakaian jadi adalah obsesi istrinya. Dalam suasana yang membingungkan suami, ibunya dan juga anaknya, Rini – malah menjadi tenang setelah mengambil keputusan. Ia bisa tidur pulas – sesuatu yang tidak bisa ia lakukan beberapa hari yang lalu. Tapi, Siska yang tidak bisa menerima keputusan yang mendadak dan tak masuk akal itu mencoba mencari penyebabnya.

Ia datang ke rumah Rini. Membawa sebuah foto. Ia tahu Rini pernah kaget melihat foto tersebut. Bukan saja Rini, ibu Rini pun ikut kaget. Juga Sutarman, tetangga ibu Rini di Solo yang diajak ke Jakarta. Foto itu mengingatkan Rini pada kejadian 23 tahun yang lalu. Foto seorang lelaki, tetangga mereka di Solo, yang bersama orang-orang PKI lainnya membunuh ayahnya secara sadis.

 

DAMAI. Suasana damai sebentar terjadi ketika ibu Rini dan bu Hendro datang. Memeluk cucunya disaksikan Ramadhan dan Sutarman, tetangga bu Hendro yang diajaknya di Jakarta 

Sebuah cerita keluarga biasa dengan kasus yang bisa terjadi pada siapa saja. Sebuah penjabaran sederhana dari ide dasar persoalan kepala sendiri oleh Rini kecil itu masih saja membekas. Laki-laki itu ternyata pakde Siska.

Di situ, Rini terombang-ambing antara dua pilihan. Meneruskan usaha bersama dengan Siska sambil terus menerus tersiksa trauma sang pembunuh ayahnya, atau memutuskan hubungan yang berarti mengubur semua cita-cita yang belum sampai terlaksana? Seperti adegan Sutarman, bekas anggota KAMI yang bernostalgia sambil “napak tilas” Supersemar.

 

TUTUP. Sang suami, Ramadhan, marah akan ketertutupan istrinya 

Sebagai orang kecil, ia naik bus, nonton mobil yang keluar dari halaman gedung MPR, melihat kembali istana, Markas Besar, Kostrad, dan mengunjungi seorang sahabat seperjuangan yang sekarang sudah menjadi pejabat tinggi. Ternyata, bukan saja sang pejabat masih ingat, Sutarman malah diajak “napak tilas” Supersemar. Ia diajak ke Lubang Buaya, rumah kediaman pak Harto (Presiden Suharto-red) di jalan H. Agus Salim 98 dan Istana Bogor.

Sayang, semuanya ini berhenti pada kata-kata. Pada dialog pak Sutarman kepada suami Rini saja. Oh ya, sinetron ini diudarakan malam hari, setelah siaran ulang sidang umum MPR.

Ditulis oleh: Rachmat Riyadi

Para kru:

Tuti Indra Malaon – ibu Hendro

Anna Tairas – Rini

August Melasz – Ramadhan

Ully Artha – Siska

Priyo S. Winardi – Sutarman

Sena Utoyo – pak Hendro

Penulis naskah: Tatiek Maliyati

Pengatur laku: Wahyu Sihombing

Pengarah acara: T. Afyudin

Ilustrasi musik: Embie C. Noer

Dok. Monitor – No. 71/II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer