BONUS - MATAHARI DI BULAN MARET TERHALANG HUJAN DAN PULANG (TVRI) TERHAMBAT DI JALAN SABANG

SEBENTAR. Teguh sedang memberikan pengarahan kepada dua pemain Pulang, Rima Melati dan Arswendo Atmowiloto. Perlu kejelian melihat akting kedua pemain ini, karena mereka cuma main sebentar saja

LAMA. Sinetron Pulang mungkin produksi TVRI yang paling lama diproduksi. Praktis diperlukan satu bulan penuh untuk syuting. Hampir 90% dikerjakan di studio TVRI dan sisanya – cuma satu hari – syuting di Sukabumi. Adegan malam hari di Sabang, Jakarta, dan satu hari lagi di rumah yang empunya cerita, markas Teater Populer di Kebon Pala.

Apa karena kerja Teguh yang selalu detil, cermat sampai ke hal yang sekecil-kecilnya? Pengarah acara Dedi Setiadi menganggap bahwa sebetulnya semuanya bisa ditekan sampai 60%. “Tapi, bagaimana kalau para pemain kebetulan punya tugas utama yang lain?”

Alasan lain yang bisa diterima adalah karena Pulang merupakan kerja Teguh yang pertama setelah sekian tahun hilang dari studio TVRI. Belum lagi peralatan TVRI. Beberapa kru memang kerja keras dibandingkan biasanya. Tapi yang namanya kamera, enak saja dia ngadat – tidak cuma sekali. Atau karena soal banyak tamu yang datang. Biasalah kalau yang datang kru TVRI yang melongok – iseng atau mau belajar, bukan soal.

Tapi pejabat tinggi juga banyak mampir. Dan ngobrollah sang sutradara dengan mereka. ‘Break’ sebentar atau dua bentar terjadi. Pola yang diterapkan Teguh kepada kru dan artis tidak diktator-diktatoran. Dedi atau bahkan kameramen boleh ngotot mempertahankan idenya. Diskusi pun terjadi.

Memang seperti buang waktu. “Tapi inilah suasana baru,” begitu beberapa kru TVRI berkomentar. Pulang juga melakukan improvisasi pemain secara dadakan. Herman Felani tiba-tiba punya kesibukan lain. Cok Simbara pun muncul. Soal mencari Cok, itu memang risiko. Begitu juga nongolnya Piet Pagau. Mau syuting di jalan Sabang, tiba-tiba Teguh minta tokoh satu ini. Pontang-panting lagi kru jadinya. Normal.

DEBAT. Teguh Karya (kiri) sedang berbicara dengan Dedi Setiadi (kanan). Diskusi dan debat mmang bukan barang tabu di Pulang 

LAIN. Lain gaya, tapi ‘setting’ rumah tidak jauh beda dengan markas Teguh di Kebon Pala. Rencananya memang syuting dilaksanakan di sana. Tapi atas pertimbangan tertentu, dipindahkanlah rumah itu ke studio. “Saya akan mencoba untuk sebanyak saya bisa memindahkan rumah Kebon Pala,” kata Teguh ketawa.

GEMBIRA. Pengarah acara T. Afyudin (bertopi), tampak dengan ceria mengatur adegan. Wahyu Sihombing, kiri, setelah mengatur bloking pemain

Yang lain lagi: makan siang selalu masakan Padang. Penutupannya berkesan. Sambil menyantap ikan bakar, Teguh Karya bicara, “Saya minta maaf pada kru televisi bila saya berbuat kampungan. Pada prinsipnya saya ingin belajar banyak pada Anda. Saya beharap, kerjasama semacam ini tidak berhenti dengan saya saja, tapi juga dengan rekan-rekan lain. Jangan salah sangka, kru TVRI telah membuktikan mampu menyajikan yang terbaik dan sanggup bekerja keras.”

Hanya dengan satu kamera, pgangguannya paling-paling hujan. Pernah mereka satu hari sama sekali tidak rekaman di Pondok Indah gara-gara suara air yang mengganggu rekaman suara langsung ini. Bahwa setelah sembilan hari mereka rekaman di luar studio dan kemudian pindah ke studio TVRI selama 2 hari. “Ini masalah teknis.” Sang pemilik rumah sebetulnya merelakan kamar tidurnya dipakai, tapi Wahyu menolak, “Ini soal ‘privacy’, jadi saya buatlah di studio.”

AJAR. Ada adegan nyanyi yang dibawakan Marini. Biasa, Teguh mengajarkan bentuk persisnya. Antara lain, siku tersandar di ujung piano, yang dimainkan Idris Sardi, penggarap ilustrasi musik sinetron Pulang

Pemilik rumah yang dipakai syuting Matahari Di Bulan Maret kebetulan usahawan yang sudah lama kenal artis. Koleksi lukisan seniman top ada segudang. “Begitu tahu bahwa syuting ini dibuat untuk menyambut Supersemar, saya langsung terima saja.”

Praktis, cuma 12 hari dipergunakan Hombing untuk rekaman gambar. Pengarah acara T. Afyudin juga tenang-tenang yang cuma kebagian waktu 8 hari sebelum drama ini ditayangkan untuk ‘editing’, pengisian musik, dan ‘title’, tampak santai, gembira, dan ketawa. Padahal, Embie C. Noer, naga-naganya (waktu itu) belum menyampaikan bentuk ilustrasi musiknya. Sudah biasa kerja mepet, Fy?

Ditulis oleh: Syamsudin Noer Moenadi/Rachmat Riyadi

Dok. Monitor – No. 71/II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer