BONUS - MARINA MENCARI ADINDA. ASRUL SANI MASIH BERTANYA-TANYA (FILM CERITA AKHIR PEKAN, TVRI - SABTU, 3 SEPTEMBER 1988 Pkl: 22.30 WIB)
MINGGU-MINGGU belakangan (ketika itu) ini skenario Asrul
Sani tampak sekali mencari rumusan ideal sosok seorang wanita. Awalnya
dicetuskan melalui sinetron Apa Yang Kau Cari Adinda – diputar TVRI, red (M. 95
– Monitor No. 95/II/24-30 Agustus 1988), lalu dilanjutkan lewat Marina.
Kedua sinetron tersebut dibintangi aktris andal dari sanggar Pelakon, Mutiara Sani, alias nyonya Asrul. Muti sebagaimana biasa tampil menonjol. Toh, ia justru menemukan kegairahan berakting dalam Adinda.
Di situ kelihatan bagaimana Muti menjaga emosi sebagai sosok wanita karir yang sibuknya nggak kepalang tanggung, sehingga kehilangan kemesraan dengan suami maupun anak. Sentuhan itu menorehkan bekas yang mendalam. Kedudukan seorang wanita digugat, benarkah Adinda tidak menyalahi kodrat?
Pertanyaan demikian juga ada pada Marina. Sebaliknya, dalam sinetron itu, Muti sepertinya kehilangan pegangan. Sosok Marina tidaklah muncul. Terasa sinetron yang dibestu pengarah acara Yossie Enes ini menjadi kering. Kata lain pesan yang ingin disampaikan Asrul mendadak berhenti di permukaan saja.
Bisa ditebak kenapa begitu? Bisa dipahami juga bahwa kekuatan naskah Asrul terletak pada konstruksi cerita yang kokoh. Konstruksi ini penuh dengan simbol, bak puisi yan gmeletupkan berbagai sudut dimensi. Di sinilah diperlukan suatu interpretasi, di sini pula dibutuhkan pengarah acara yang bertangan dingin.
Setidaknya, dalam membesut lakon-lakon karya Asrul diperlukan latihan. Sedang Yossie yang memiliki tenaga menggebu-gebu, tidak menyadari semua yang terdapat di balik puisi itu. Yossie (waktu itu) masih terlena dengan gagasan besar, tapi melupakan sesuatu yang menukik. Praktis Marina kehilangan visi.
Praktis dialog-dialog Marina – padahal ini kekuatan pokok lakon Asrul – jadi beku. Pemirsa tidak tersengat dengan omongan Marina yang menggedor-gedor itu. Tidak ada arti ucapan semacam ini. “Jalan satu-satunya buat seorang gadis adlaah menikah. Tapi itu dulu (jauh sebelum 1988-red). Kini (1988-red) terbuka jalan lain. Kita bisa buktikan bahwa kita juga bisa mandiri. Kita sanggup mencapai apa saja yang menurut orang dulu (jauh sebelum 1988-red) hanya bisa dicapai oleh laki-laki.”
Renungan terhadap seorang wanita, bagi Asrul, segalanya tumpah pada Marina dan Adinda. Dan gambaran kedua sosok wanita itu adalah potret realitas sat itu. Bahwa wanita yang berkarir tetap dipertanyakan eksistensinya.
Kendati (waktu itu) kedudukan wanita dan laki-laki sudah sejajar, tetapi kenyataan banyak orang yang belum mau menerima sikap itu. Seorang wanita adalah seorang istri setia yang harus berada di rumah, seorang yang hanya meladeni sang suami jika pulang dari kantor dan ibu yang mengasuh anak-anak.
Itulah yang membuat Marina galau dalam menentukan jalan hidupnya. Ia bekerja di hotel dan memperoleh jabatan penting. Namun, kondisi kerja di hotel mengundang umpatan negatif, lebih-lebih orangtua Marina yang jelas-jelas tidak setuju. Mereka ingin Marina sebagai guru atau pegawai kantoran.
Karir Marina melejit. Ia masih tetap meneruksan kuliahnya, di jurusan publisistik. Marina punya pesona kuat, lantas ia tak cuma dikagumi keponakannya tapi juga sang dosen. Toh apa sebenarnya yang dicari Marina?
Orangtuanya mengehendaki Marina cepta-cepat menikah. Buat Marina, pernikahan itu bisa jadi omong kosong. Ia lebih mementingkan karir ketimbang harus bersibuk-sibuk mengurus tetek-bengek rumah tangga. Bukankah langkah yang ditempuh Marina tanda kemajuan kaumnya?
“Saya banyak mengenal wanita yang sebelum menikah memperlihatkan potensi dan kecerdasan yang luar biasa. Tapi begitu mereka menikah, mereka berhenti berkembang. Kehidupan mereka memang lebih makmur. Ibarat bedak. Bedak dingin sudah mereka ganti dengan bedak impor.
Penampilan mereka menarik. Tapi, mereka tidak tumbuh lagi. Mereka hanya mengalami pemekaran ekonomi,” begitu suara hati Asrul yang diwakili Rahman, sang dosen. Batin Marina memang tersiksa. Ia ingin menuruti kehendak orangtuanya, tapi hatinya tidak menyetujui. Sedang getaran cinta yang diletupkan sang dosen (telat menikah) tak ditanggapi.
Saking sibuknya, ia pun lupa mengajak orangtuanya jalan-jalan keliling kota. Padahal, Marina sengaja mengundang mereka ke kota. “Rasanya di sini kita seperti tmau, tidak seperti datang ke rumah anak,” cetus bu Hamid, ibu Marina.
Marina benar-benar bimbang dalam memandang hidupnya. Dan sinetron tersebut berakhir dengan suasana bimbang pula. Dari kampung, lewat surat, Marina mendapat berita kalau ibunya sakit keras. Marina tahu penyebabnya, bahwa ibunya terlalu memikirkan dia. Sang ibu ingin cepat-cepat menggendong cucu. Menghadapi situasi itu, Marina tidak meratap-ratap, ia mulai mencoba merenungi perjalanan dirinya, sembari bergumam, “Kenapa begitu sulit untuk jadi wanita?”
Ya, kenapa begitu sulit? Yossie memang tidak bisa memberikan jawaban. Pemirsa yang diminta merenung, meski sajian sinetron yang pernah ditayangkan ulang ini (3 tahun sebelum bacaan ini dimuat Monitor – 1985, red) hambar. Paling tidak, kita diingatkan bahwa lewat gumam panjang Marina maupun Adinda itu, ada sesuatu yang belum selesai.
Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi
MARINA
Marina – Mutiara Sani
Bapak – Hasan Sanusi
Ibu – Roldiah Matulessy
Rakhman – DJ Nawi
Pengarah acara: Yossie Enes
Skenario: Asrul Sani
Produksi: TVRI Sta. Pusat Jakarta
Batas usia: 17 tahun ke atas
Dok. Monitor – No. 96/II/minggu ke-5 Agustus 1988/31 Agustus-6 September 1988, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar