BONUS - MARDIAH, WANITA TEPROJOK ATAU WANITA DALAM KISAH NYATA MAJALAH WANITA (SEPEKAN SINETRON, MARDIAH/TVRI - MINGGU, 28 AGUSTUS 1988 Pkl: 21.30 WIB)
TETAP menjadi bahan pertanyaan, benarkah sosok wanita yang tampil dalam sinetron adalah gambaran kaum yang terpojok? Pertanyaan ini memang
mesti diuji validitasnya. Tetapi, bukan tidak mungkin dari sejumlah sinetron
yang diamati M. (Monitor) menunjukkan sisi gelap persoalan itu. Ambil contoh
sinetron Laki-Laki (garapan almarhum Tiar Muslim), Karina, Gelas Retak, Apa
Yang Kau Cari Adinda, bahkan Mardiah. Plus sederet jadul lain.
Khusus untuk sinetron Mardiah, rasanya kok menjadi drama yang berlebih-lebihan. Atau boleh dibilang macam kisah tragedi yang kerap dimuat pada majalah-majalah wnaita. Trauhlah hal tersebut suatu yang mencekam untuk dibaca, juga menghanyutkan bila ditonton, tapi kesannya ketengan jadinya.
Memang Mardiah bukan hanya terbaik yang lahir dari tangan dingin almarhum Tiar Muslim. Masih bertumpuk karya Tiar yang apik. Menyebut satu judul, yaitu Laki-Laki. Anehnya, kenapa justru bukan sinetron itu yang ditayangkan? Bukan lantaran mau mengkili-kili, justru Mardiah tergolong sinetron kelas dua.
Kalau toh dalam forum sepekan ini, terdapat itikad menghormati kiprah almarhum Tiar Muslim, maka jelas tidak ada salahnya kalau karya terbaik dialah yang mesti diudarakan. Itulah makin tidak tahu kriteria apa yang jadi patokan dalam menentukan pilihan sepekan (belakangan itu) ini. Berdasarkan tema cerita juga tidak. Lantas, dari kacamata penulis skenario, kenyataannya tidak satu penulis memborongnya.
Bintangnya? Kalau mau teliti mungkin harun Syarif yang
banyak terlibat. 3 sinetron dia ikuti, termasuk dalam Mardiah. Jadi pemilihan
ini meraba-raba. Dan salah satunya yang menempati urutan akhir adalah Mardiah,
diambil dari nama seorang wanita yang hidupnya ngenes. Sosok Mardiah ini
rupanya tidaklah sekukuh seperti yang diduga. Segalanya serba keterlaluan dan
kebetulan.
Keterlaluan ini bisa diartikan cengeng. Sedang kebetulan dapat diterjemahkan mengada-ada. Sebenarnya ada adegan yang menarik, tapi sayang tak tergarap. Sehingga bneang merah Mardiah jadi lepas begitu saja. Saat Mardiah marah terhadap suaminya, Burhan terasa meledak-ledak.
Kok gitu gambaran orang marah? Bisa jadi karena sumbernya dari suami yang menyeleweng, mengawini wanita lain. Akibat kemarahan itu, benda dapur menyambut sekenanya. Burhant ertimpa petaka. Menghindar dampratan si istri, kepalanya terbentur tembok.
Peristiwa marah yang wah ini sangat dibuat-buat. Nggak wajar. Semakin tidak wajar pula – ringkasnya – Mardiah menyesali dirinya. Wanita itu kehilangan apa yang lama diidamkan, yakni suami maupun anak. Mardiah termehek-mehek hidupnya. Ia menyesal, pasrah, dan terpojok. Tidak ada jalan lain yang ditempuh.
Mardiah hanya sekadar mengikuti garis nasib. Mengikuti apa yang ditulis penulis skenario. Mengikuti saja bila ditayangkan ulang tanpa dilihat seksama. Padahal, banyak karya Tiar yang menarik. Tapi soal itu luput dari intipan tim seleksi TVRI. Apa boleh buat, toh terjadi jua.
Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi
MARDIAH
Mardiah – Eva Rosdiana Dewi
Burhan – Nizar Zulmi
Dokter – Doddy Sukma
Dibantu: Harun Syarif, Wieke Widowati, dan Teater Pena
Pengarah acara: Tiar Muslim
Skenario: Rustam Effendy Tjotjona
Produksi: TVRI Sta. Pusat Jakarta
Batas usia: 17 tahun ke atas
Dok. Monitor – No. 95/II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar