BONUS - MANAJEMEN TVRI (3): "MEMPRIORITASKAN PEMBENAHAN CARA KERJASAMA, ARTINYA MENGHENTIKAN SEMUA ACARA"

LANGKAH. Koordinasi yang menjadi kata kunci dalam manajemen produksi, sering terabaikan dan langka terasakan. Situasi kerjasama itu, seringnya berjalan sendiri-sendiri. Seperti yang dilakukan Dedi Setiadi dan kru sinetron Pulang ini.

INTEGRASI, KOORDINASI. Bagaimanapun keadaannya, TVRI yang (waktu itu) sudah 26 tahun beroperasi, (ketika itu) sudah dituntut bermacam-macam harapan dan keinginan. Ya dari pemerintah, ya dari 115.400.000 pemirsanya di seantero negeri. Tuntutan dan harapan yang paling dominan adalah bagaimana TVRI menyajikan acara-acara yang bermutu. Artinya, yang digugat adalah visi dan produksi TVRI. Baik sebagai muara komunikasi atau sebagai sarana dan hiburan.

TVRI memang diharapkan bisa menjadi salah satu sumber bagi khalayak pemirsanya, untuk menjadi cermin orientasi hidup. Karena apapun yang ditayangkan atau disajikan TVRI, diakui atau tidak, telah mencerminkan sosok kondisi kemasyarakatan kita secara keseluruhan. TVRI adalah tampang lain dari masyarakat.

Soalnya, barangkali sejauh mana TVRI menyadari hal ini. Sekaligus menyadari, untuk bisa mencerminkan khalayaknya secara lebih pas, tentu kreativitas dan kepekaan TVRI untuk menangkap setiap gejala yang ada dan tumbuh di tengah masyarakat harus selalu prima. Tanpa begitu, boleh jadi, yang ditampilkan hanyalah mozaik dari kondisi sosial semata.

Selebihnya, ketika telah sampai pada tahap pengejawantahannya, pengertian kerja TVRI sebagai kerja kolektif perlu ditengok kembali. Kerja yang melibatkan banyak unsur dan unit kerja, yang kesemuanya mesti berpegang pada acuan yang baku.

Celakanya, sampai 1988 acuan baku tentang mekanisme kerja, penataan fungsi unit kerja, belum jelas, belum merata. Lantaran (waktu itu) baru dibenahi. Walaupun pembenahan itu dilakukan sambil lalu dan sambil jalan.

Kita bisa pahami alasan yang dikemukakan Ishadi. “TVRI tak mungkin menghentikan kegiatannya untuk membenahi mekanisme kerjanya.” Lepas dari soal itu, apapun acara yang disajikan TVRI, tak akan pernah berhasil baik, bila hubungan kerja antar unit dan unsurnya bekerja menurut dirinya sendiri-sendiri. Aneka Ria Safari, salah satu acara yang paling digemari pemirsa, namun paling buruk mutunya – seperti diakui sendiri oleh Ishadi – dapat disebut sebagai misal.

Acara ini tak akan pernah bisa menampilkan mutu yang prima, bila kondisi kerja yang sendiri-sendiri, 1988 ini, masih terus berjalan. Meski penanggung jawab acaranya hebat. Untuk itulah, dibutuhkan suatu sistem manajemen. Walaupun sistem itu sendiri, seperti turu George S. Odiorne, bukanlah hal yang Istimewa. Tapi, sistem yang bagaimanapun sederhananya, menunjukkan kepada kita apa yang seharusnya dikerjakan lebih dulu.

Sistem mempunyai suatu cara, alat atau proses yang dilalui dalam mengolah keputusan memprioritaskan atau tidak memprioritaskan sesuatu. Sistem membantu dalam melihat hasil usaha yang dilakukan. Sehingga bisa mengukur seberapa berhasilnya usaha itu.

Apalagi, manajemen itu sendiri, menurut Milon Brown, berarti penggunaan orang-orang, uang, perlengkapan, dan bahan-bahan serta metode-metode yang efektif untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Untuk TVRI, manajemen yang efektif, sebenarnya tak begitu rumit. Karena kuncinya juga sederhana, yakni bagaimana orang-orang yang menjadi unsur penting keseluruhan geraknya memperoleh rejeki yang merata terbagi di semua lini. Lantas, dilengkapi perlengkapan yang memadai.

Itu artinya, distribusi tugas, wewenang, dan tanggung jawab mesti jelas dulu. Sehingga setiap lini dan fungsi yang ada dalam keseluruhan organisasi TVRI bisa terintegrasi, terkoordinasi, untuk akhirnya bergerak dalam suatu sinkronisasi yang lebih padu. Sehingga dapat menjadi modal dasar bagi pengembangan simplikasi upaya yang lebih jauh.

Secara operasional, koordinasi lantas terasa menjadi amat penting. Meski koordinasi berarti hubungan kerjasama yang harmonis dari setiap lini atau unit kerja prakteknya tidak mesti berhenti di situ saja. Ada tuntutan lain, yakni kesadaran dan keberanian untuk bekerjasama secara fungsional. Termasuk kemauan dan kemampuan merumuskan hubungan kerjasma, yang semacam apa yang dikehendaki.

Bila tidak, sistem manajemen yang bagaimanapun diterapkan, sulit akan mengubah situasi dan kondisinya.

Selesai

Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy

Dok. Monitor – No. 99/II/minggu ke-3 September 1988/21-27 September 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer