BONUS - KARENA DRAMA TELEVISI DIHARGAI MURAH, SENIMAN FILM DAN TEATER OGAH IKUT BERKIPRAH

H. Misbach Yusa Biran

BAKU, BUKA. Kualitas drama televisi, termasuk sientron, rasanya (waktu itu) belum bisa dibanggakan. TVRI (waktu itu) belum memiliki standar mutu yang bisa dijadikan tolok ukur. Kalaupun kemudian drama seri Losmen disebut, karena drama seri yang digarap Wahyu Sihombing ini sepertinya tampil sendirian. Bolehlah dikatakan, yang bisa dianggap terbaik selama itu – kendati ada pula Pondokan dan Baruna.

Chaerul Umam, sutradara film, menilai begitu, sambil hendak mengusik, sebaiknya TVRI memiliki standar baku. Karena tiadanya standar baku itulah, tutur Umam, kualitas drama TV kita tak berkembang. Banyak memiliki kelemahan dan kekurangan di sana-sini. Antara lain, kering ide seperti ungkap Titie Said Sadikun, novelis.

Bagaimana mungkin tak kering kalau kebebasan menulis meluncurkan ide-idenya, sering berbenturan dengan batas-batas. Termasuk kuatnya pesan sponsor, seperti ungkap Tatiek Maliyati WS, penulis cerita Losmen.

Tapi mau ngomong apa? Direktur TVRI sendiri, Ishadi SK, M. Sc., juga melihat sulitnya mengangkat batas itu. Walaupun dia berjanji akan mencoba menghampiri dan redialog dengan para pemancang batas. Lalu sepakat pesan-pesan itu tak mesti disampaikan secara verbal, apalagi dengan visualisasi yang “mencolok mata”.

“Mulai April (1988-red), kita sudah coba tayangkan fragmen yang tak terlampau vulgar penyampaian pesannya,” ungkap Ishadi (waktu itu). Ishadi tampak sejalan dengan pikiran Tatiek agar pesan-pesan itu sebaiknya diluncurkan melalui nafas cerita. Karenanya, ia membuka pintu bagi penulis lain. Lemahnya mutu naskah-naskah drama TV selama itu, terletak pada penulisnya, menurut Asrul Sani, penulis skenario. “Para penulis naskah tak memiliki fantasi,” katanya.

SAMBUT, SUMBAT. Keterbukaan TVRI untuk mengundang penulis naskah, skenario, sutradara, dan pekerja film yang baik untuk memperbaiki keadaan dan mutu TVRI, disambut dengan sikap berbagai.

Ikranagara, dramawan, menyambut dingin saja. “Ngapain ke TVRI, kalau kebebasan berekspresi dan berkreasi tersumbat oleh pesan-pesan sponsor?,” tungkasnya. Beberapa dengan Ikra, Chaerul Umam memandang keterbukaan dan bahkan netralitas TVRI untuk menerima keterlibatan profesionalis dari kalangan teater dan film sepantasnya disambut baik.

“Ngapain sih, mesti mengambil jarak dan terus berada di luar? Toh pentas-pentas teater yang ada, kini (1988-red) amatlah terbatas jangkauannya. Realistis sajalah, seperti yang dilakukan Teguh Karya yang menggarap drama TV Pulang,” ucap Umam (waktu itu).

Keterbukaan itu, dipandang positif oleh Nurhadie Irawan, sutradara film. Setidaknya, untuk memperbaiki standar mutu drama TV itu. Selain TV itu sendiri, menurut pembuat film dangdut ini, sama seperti film dan video. “Masuk kategori ‘moving image’ – citra bergerak dalam standar UNESCO,” tuturnya.

Tindakan realistis Teguh Karya, juga disebut Nurhadie, sebagai suatu upaya yang positif. Banyak orang, memang memuji langkah Teguh. Itulah cara yang terbaik untuk mengubah keadaan. Lantas, mencoba membakukan standar mutu drama TV. Tindakan Teguh membuat Ishadi bangga dan terharu. Sambil berharap (waktu itu) mudah-mudahan) bisa menularkan kerja profesional di kalangan awak TVRI sendiri, yang cuma beberapa gelintir saja yang baik.

Tapi, bagi H. Misbach Yusa Biran, ketua KFT (Karyawan Film dan Televisi), yang ditularkan Teguh (waktu itu) belum akan memberi perubahan yang baik bagi kondisi di dalam TVRI. Karena yang penting dilakukan, memang bukan sekadar terlibat. Tetapi, bagaimana ditentukan suatu sistem kerja yang memang ‘feasible’ untuk TV di Indonesia. “Kemudian ‘rationable’ di lapangan,” sambung Misbach.

Selain itu, “Ya, keleluasaan berkreasi itu. Karena tanpa begitu, mana mungkin bisa lahir kualitas yang baik?" 

BAHAYA, BAHAGIA. Sekalipun begitu, keterbukaan TVRI untuk bekerjasama dengna karyawan film di luar lingkungannya, boleh jadi membahagiakan orang film. Betapapun, ungkap Nurhadie, ini gejala terbalik dari Eropa dan Amerika. “Di sana, orang TV yang beralih ke film.”

Keterbukaan dan kerjaama itu, baru akan membahagiakan orang film, bila program-program TV – drama TV maksudnya – itu dipaketkan pada karyawan film. Tentu jelas Misbach, sambil diberi kebebasan bekerja. Hanya patokan targetnya saja yang ditentukan. “Ini penting, agar jangan sampai mekanisme yang sudah ada, mengganggu kerja karyawan dari luar.”

Bila sampai mengganggu, ada bahyaanya bagi karyawan TV. Setidaknya, bisa terjadi benturan. Walaupun karyawan TV itu (sendiri anggota KFT. Supaya tak membahayakan dan malah membahagiakan, menurut Misbach perlu disusun suatu konsep mekanisme kerjasama, yang memungkinkan orang TV dan orang film bekerjasama dalam suatu sistem kerja yang terpadu.

Di samping itu, Misbach berharap, baik karyawan TV maupun film, sudah mulai belajar lebih jauh dengan perangkat teknologi film. Ini hendaknya, sudah sejak jauh hari kita sadari. Setidaknya, kita sudah mengikuti perkembangan dengan ‘action’, apalagi (waktu itu) akan munculnya “sisa TV” (siaran saluran terbatas televisi, RCTI-red).

Kalau sudah saling sambut dan menghindari sikap saling sambit, memang bukan mustahil sumbatan-sumbatan yang dianggap sering menjadi ganjalan bagi tumbuhnya mutu drama TV untuk menjadi baik, bisa disingkirkan.

Walaupun pada akhirnya akan kembali juga kepada kesadaran diri masing-masing pihak. Ya TVRI, ya sutradara, penulis skenario, dan dramawan itu sendiri. Termasuk kesadaran memprebaiki honor yang kecil, penghargaan terhadap kreativitas dan karya cipta seperti yang dikeluhkan N. Riantiarno. Pendek kata, keperdulian yang membahagiakan, begitu.

Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy

Dok. Monitor – No. 71/II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer