BONUS - JURAGAN SHAHAB MEMBEKUK TEKNOLOGI (SEPEKAN SINETRON, JURAGAN SULAIMAN/TVRI - KAMIS, 25 AGUSTUS 1988 Pkl: 21.30 WIB)

 HALUS. Dalam Juragan, teknik ‘chromakey’ dikerjakan cermat. Halus, nyaris tak berasa kalau tempelan. Beginilah Jin Langit dan Jin Kontet terbang

ALI Shahab dengan Teater September mampu menunjukkan kebolehannya dengan cerita tradisional yang diolah dengan teknologi televisi. Ini cerita Betawi tempo doeloe, zaman rakyat belum pake sepatu, juragan Leman kaya perahu, namanya beken sudahlah tentu. Begitu tembangan Lenong Betawi mengantar kisah juragan Sulaiman.

Namun, walau ini kisah tahun 1922, kisah pemain tanpa sepatu, simbol peradaban yang maju, menjadi tontonan yang mengasyikkan. Justru karena untuk pertama kali, teknologi elektronik berhasil dieksploitir, ditekuk dan dibuktikan sebagai bagian dari pementasan. Bukan lagi pajangan hiasan. Bukan sekadar mengganti mata penonton seperti kalau melihat di panggung. Imaji penonton tidak sekadar dituntun oleh kata-kata, tetapi oleh gambar.

Jin Tomang pun muncul, dengan penampilan yang tetap sebagaimana dongeng yang ada, perut segede rumah. Begitu pula Jin Langit, sehingga kalau berdiri “kepalanya diberaki burung” dan itu terlihat. Seperti juga adegan Jin langit dan Jin Kontet yang bisa terbang ala Superman. Tapi yang lebih menarik lagi, ternyata Teater September bukan sekadar menunjukkan kemampuan untuk menjinakkan teknologi dengan pongah. Kakinya tetap berada dalam pijakan kisah tradisional.

Lakon ini berawal dari judul Perawan Syaraf, garapan dan ide Ali Shahab, si empunya grup yang menuliskan sendiri lakonnya, dan juga muncul sebagai pemain. Menurut sahibul hikayat, juragan Sulaiman (S. Miharja) yang punya 30 perahu, orang paling kaya di Betawi, jadi kelabakan kayak ayam mau bertelur.

Pasalnya adalah karena anak gadisnya (Dana Christina) terkena penyakit syaraf atawa gila. Mpok Mirah alias nyonya juragan (Rahayu Effendi) pun ikut keteror. Lantaran sudah sekian lama tidak sembuh juga, walau telah mendatangkan dokter, sinshe dari seantero penjuru dunia, anak gadisnya makin berat saja syarafnya.

Untung ada Bujang (Nirin) yang bisa menghubungkan dengan seorang embah bernama embah Gambreng (Ali Shahab). Ia ini bukan sembarang embah – bukan karena bisa bilang “oke”, seperti disindir Nirin (dan menjawab: “pendidikan gue lain”) – karena bisa langsung komunikasi sama “lelembut” pengganggu.

Komunikasi dengan bahasa ‘lelembut’ terjadi, dan diagnosa bisa segera dilakukan. Pengobatannya ditemukan dengan bunga kalpataru yang ada di hutan Tomang – jarak 7 hari perjalnaan dari Betawi ke arah kiblat.

MONUMENTAL. Harus diakui kalau Juragan merupakan karya monumental Dedi-Ali. Para pemain istirahat syuting. Dari kiri: M. Toha, yang berdiri Rahayu Effendi dan Dana Christina 

Dongeng pun mengalir. Lengkap dengan sayembara: siapa yang bisa mengambil dan menyembuhkan si syaraf, bakal dijadikan menantu, kalau lelaki. Dan akan diberi separuh ‘harte’, kalau perempuan. Romli (Eki Kristi), pemuda alim yang lagi tamat mengaji berhasil menemukan, tapi kena tipu licik jagoan lain. Tak usah khawatir, di akhir kisah dnegan mudah yang benar adalah yang menang, yang salah jadi pecundang.

Ali Shahab dengan Teater September mengambil bentuk lenong Betawi seperti yang biasa dikenal. Semua pemain dengan voltase tinggi, penuh tanda seru, lirik musik yang menyertakan adegan, pembagian pentas “keluar kiri masuk kanan”, beberapa pemain juga pemain lenong yang sudah merajai dunianya.

Kelebihan Shahab – tentu saja dengan kehadiran pengarah acara terbaik Dedi Setiadi dan bantuan dua asistennya – menggabungkan yang bukan pemain lenong dengan yang berpengalaman dengan baik. Terutama sekali penampilan S. Miharja sebagai juragan Sulaiman, yang secara konstan memperlihatkan sejak awal sampai akhir ketangguhan aktingnya.

S. Miharja, dalam lakon ini, bukan sekdaar bintang. Ia adalah aktor yang kokoh dan ketat. Sesuatu yang tak muncul pada penampilan yang lain, dan ini merupakan penampilannya terbaik selama itu. Rahayu Effendi juga sensual dengan lirikan dan tarikan bibir “yang menawarkan sesuatu”, tanpa harus dieksploitir kebahenolannya – seperti pakaian minim atau rambut terurai dalam kebanyakan film dan panggung yang dibintangi.

Tetapi yang juga benar-benar hidup dan bergaya jaya adalah Nirin – pemeran Bujang yang tetap dipanggil Nirin sebagaimana kebiasaan dalam dunia pentas tradisional, seperti lenong atau Srimulat – dengan bekal dan dialog yang mewarnai seluruh pertunjukannya.

Skenario dan juga spontanitasnya, menjadi darah bentuk komedi. Ia misalnya, sebagai Betawi tulen, masih saja harus mengucapkan ‘penasarin’ untuk penasaran. Ia masih bersetori soal jalan yang akan dilalui dengan pemain lain, masih sempat mengobarkan sodokan samping. Misalnya ketika lagi menyapu dan berkomentar: “Kebersihan pangkal kesehatan”, lalu dijawab Rahayu Effendi, “Itu sudah tahu”, langsung ditukas sendiri: “Iye, sudah tahu kok diomongin?”

Sesuatu yang segar dan enak dalam mempermainkan tema-tema formal dalam kebanyakan lakon-lakon TVRI. Unsur menggali tawa yang umum masih dipertahankan di sini.

Baik dalam bentuk dialog atau gerak. Omongan yang panjang dari juragan kepada Nirin menanyakan orangtua (yang tidak segera ditangkap sebagai embah dukun, tapi orangtua Nirin yang sudah meninggal), pak penghulu (Dorman Borisman, jangan keliru jadi Doris) yang main teriak saja, serta tingkah Nirin menggerakkan sapu secara tak sengaja yang membuat juragan terkapar.

Atau polah si syaraf memaksa orangtua makan daun dan berbaring (berdasarkan perintah priwitan ala aba-aba pandu) adalah contoh-contoh kecil untuk tidak menyebutkan merata di hampir semua adegan. Shahab berhasil membekuk teknologi elektronik jadi miliknya. Ia bisa memuaskan diri dengan penguasaan itu. Bahkan karakter Jin yang angker (dari sosok ditampilkannya) jadi akrab. Jin Tomang (Jack John) adalah jin asli Betawi.

Yang kalau bicara dimulai dengan assalamualaikum serta bicara bahas prokem – bahasa anak muda yang mengganti saya dengan ‘ogut’, ‘laming’ untuk sebutan maling atau penjahat. Bukan hanya begitu cara memanusiakan jin. Jin Tomang juga keliru comot perempuan. Serta, ini dia, biar sakti kayak apa kalau gatal kakinya ya perlu digaruk pula – walau barangkali saja cuma karena digigit nyamuk.

Nampaknya lakon ini cukup melegakan, misalnya saja, bisa dipertukarkan dengan negara ASEAN yang lain. Diambil dari kacamata secara umum, lakon ini bisa disebut sandiwara Melayu terbaik. Juga untuk ukuran Malaysia dan Singapura.

Satu-satunya yang agaknya harus dipertimbangkan adalah garis bawah dari Ali Shahab, akan pilihan naskah dan olahan ceritanya. Setelah suasana digenggam, setelah asyik menikmati barulah kita bisa bertanya: bukankah Ali Shahab dengan segala pengalaman dan kemampuannya bisa menghadirkan tontonan lain?

Di mana sikap, posisi, serta pandangan-pandangannya tentang dunia sandiwara atau masalah-masalah sosial lebih menemukan bentuknya? Jawaban dari pertanyaan seperti ini bukan selalub erarti naskah-naskah modern. Cerita-cerita tradisional pun bisa dibentuk kembali.

Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto (diambil dari buku Telaah Tentang Televisi, PT Gramedia, Jakarta, 1986)

JURAGAN SULAIMAN

Juragan Sulaiman – Jaja S. Miharja

Mpok Mirah – Rahayu Effendi

Mimin – Dana Christina

Nirin – Nirin

Mbah Gambreng – Ali Shahab

Romli – Eki Kristi

Jin Tomang – Jack John

Jin Langit – Nasrul Giant

Jin Kontet – Mat Tuyul alias Sani

Jagoan Toing – M. Toha

Jagoan Nacing – Nasir

Jagona Maing – Jamin

Ibu Warung – Wolly Sutinah

Mila – Iin Marlina

Penghulu – Dorman Borisman

Si Silet – Jaman

Pengarah acara: Dedi Setiadi

Pengatur laku: Ali Shahab

Skenario: Ali Shahab

Penata artistik: Riesca Ristandy, Benny Ham, Rahayu Effendi

Penata musik: Kelompok Ngamen September

Judul lagu: Perawan Syaraf (sesuai judul pentas)

Lirik: Ali Shahab

Pendukung laku: Teater September

Produksi: TVRI Sta. Pusat Jakarta

Batas usia: 13 tahun ke atas

Dok. Monitor – No. 95/II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer