BONUS - JRK DIBAGI DUA, JADWALNYA MELAR (JENDELA RUMAH KITA, TVRI PROGRAMA 1 - MINGGU, 17 SEPTEMBER 1989 Pkl: 21.30 WIB)

 Jojo dan Agus bicara soal kemandirian

TIDAK seperti episode (yang waktu itu telah) lalu, Senandung Cinta Ayah Kandung terdiri dari 2 seri, bukan sesuatu yang baru. Kendati bagi JRK (Jendela Rumah Kita, ditayangkan TVRI Programa 1-red) sendiri hal ini (waktu itu) baru pertama kali dilaksanakan. Tentu ada alasan tertentu. “Memang telah direncanakan sejak awal. Karena tuntutan cerita harus demikian. Tak bisa selesai, tuntas, dengan hanya 60 menit seperti episode lain,” kata Dedi Setiadi, sutradaranya.

“Ceritanya lumayan bagus. Sayang kalau hanya dibuat dalam 1 seri. Nekad sih bisa-bisa saja, tetapi terlalu singkat, terlalu dipaksakan, iram atak bisa dipelihara, hingga jalan ceritanya meloncat-loncat. Hal ini sudah kami perbicnangkan dengan produser dan penulis skenarionya. Ada beberapa cerita yang bisa diringkas, tetapi episode ini tidak. Makanya kami membuatnya jadi 2 bagian. Karena hanya dengan cara itulah episode ini jadi utuh.”

Bila bicara tentang irama, hal semacam ini sulit dihindari. Alur cerita bisa diringkas, tetapi soal ritme bisa merusak segalanya. “Setiap cerita punya irama sendiri-sendiri. Kebetulan SCAK tak bisa diganti dengan irama yang lebih cepat. Lebih-lebih disingkat.”

Irama berkait dengan gaya. Dan gaya merupakan bagian dari emosi film serial itu sendiri. “Saya telah mencobanya lewat ‘editing’. Tetapi tak berhasil. Episode ini telah direncanakan dari awal terdiri dari 2 bagian. Ceritanya kompleks. Bukan hanya alurnya, tetapi juga permasalahan masing-masing tokoh, bila disederhanakn, dimensinya hilang, jadi dangkal.”

Padahal, bukan itu yang dimaksud. Seperti kata Hj. Rahayu Effendi, produser yang mernagkap jadi pengarah produksi: “Saya gembira bila JRK dikatakan bagus. Sejauh pengalaman saya, film merupakan hasil yang utuh. Masing-masing bagian saling menunjang.

Sesuai dengan porsinya masing-masing. Cerita, pemain, set, lampu, visual. Pokoknya semuanya. Menjaga hal ini paling sulit. Dan kini (1989-red) justru jadi tanggung jawab kami. Menjadikan yang sudah bagus itu jadi ‘finie’.” Sempurna, pas, atau apa saja istilahnya. Pokoknya tak ada bagian yang terlalu menonjol yang mengganggu keutuhan.

 

Jojo dan sekretaris yang sadar jenjang jabatan 

MAHAL, JADWAL. Ia puas, tapi dalam pelaksanaan lain lagi. “Kita selalu kedodoran dalam soal jadwal. Selama ini yang kami pikirkan baru dari sisi mutu. Soal pembiayaan masih pas-pasan.”

Tambal sana tambal sini. Tak semua episode perlu biaya sama. Kelebihan atau keuntungan di stau episode dipakai untuk menutup kerugian di episode lain. Untuk mengatasi, Hj. Rahayu Effendi menerobosnya dari sisi lain. Hingga ia merasa perlu mengumpulkan para penanggung jawab di kawasan Puncak selama 2 hari. Mencari kiat paling tepat untuk mengatasi permaslhaan yang berkembang sesuai dengan derap JRK dan ide yang dibawakannya.

Dalam pembuatan film seri, jadwal yang molor dan tak pasti bisa jadi hambatan serius. Ibaratnya ban berjalan. Kelambatan di satu sisi akan merugikan sisi lain. Kelmabatan berarti biaya melonjak. Hal ini mungkin bisa diatasi, bila JRK coba dipasarkan ke luar negeri. Itu pun butuh rencana matang yang menyangkut keseluruhan. Termasuk kesenjangan budaya dan selera.

Ditanya soal ini Dedi menjawab, “Bukan tak mungkin. Masalah yang diangkat JRK adalah masalah kemanusiaan. Nilai macam ini di mana-mana sama. Apalagi untuk beberapa negara tetangga, yang punya permasalahan yang sama.” Apakah hanya episode SCAK yang terdiri dari 2 bagian? “Tidak, di episode Desas-Desus juga terdiri dari 2 bagian. Cuma diberi judul lain, kami tak mau membatasi diri.”

Semua tergantung keperluan. Bila memang ceritanya mendukung, tidak mustahil di episode-episode (yang waktu itu akan) datang, terdiri dari 2 bagian atau lebih. “Yang penting utuh dan bagus. Jadi 2 atau 4 bagian bukan persoalan.

Dari sisi ini saya malah dapat keleluasaan untuk mencoba hal-hal baru yang tak mungkin saya dapatkan lewat film biasa.” Bila ini yang jadi idaman, barangkali soal jadwal perlu diatur lebih teliti. “Pokoknya kami siap, demi JRK,” katanya sambil tertawa. Tanggung jawab moral. Iya khan?

Ditulis oleh: Satmowi Atmowiloto

Dok. Monitor – No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer