BONUS - JALUR DRAMA DI TVRI, KEMBALI KE SOAL REJEKI

REPOT, SEWOT. Nonton drama di layar televisi, hasilnya bisa jadi memaki, memuji, atau malah pergi. Bagaimanapun, orang banyak yang menanti. Supaya tidak sekadar begini-begini saja, ada baiknya membuat perjalanan bagaimana drama dibuat di TVRI. Mungkin lalu bisa mengerti dan menahan diri, atau malah bisa memberikan masukan. Saran dan siapa tahu bahan jadi atau setengah jadi. Sekarnio yang dikirim ke sana, asal idenya dinilai bagus, (saat itu) akan direvisi dan dipakai.

Yang merasa punya modal buat nampang, lebih-lebih merasa bisa akting, bisa juga tahu jalurnya untuk bisa nongol di layar TV ini bukan asal bunyi saja. TVRI butuh banyak naskah, butuh banyak penulis, dan butuh banyak pemain. TVRI butuh pula variasi. Ini resmi.

Jadi, kalau mau ditanya apakah jalur yang dibuat ini jalur lambat atau jalur cepat, kembali ke soal rejeki. Bagaimanapun, (waktu itu) silakan berpartisipasi daripada sekadar menunggu di depan layar dan… ya itu, memaki, memuji, atau pergi.

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi, Rachmat Riyadi, Aries Muda Irawan (dibantu tim fotografi)

Dok. Monitor – No. 64/II/minggu ke-4 Januari 1988/20-26 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

 


1         Naskah masuk ke televisi, datang sendiri atau via pos

1.1   Diterima stafnya, Ananto Widodo (bossnya), yang mewakili bapersi drama

1.2   Diseleksi. Bapersi drama ini stafnya 8 orang. Tenaga administrasi begitu. Jadi, jumlah seluruh karyawan di bapersi drama ini ada 9 orang

1.3   Dari naskah yang masuk itu lantas dilihat jenis-jenisnya jenis fragmen, cerita anak, cerita akhir pekan, dram amodern, dan drama humor atau komedi, serta drama seri

1.4   Dari jenis ini bisa pula durasinya: 15, 30, 60, dan 90 menit

1.4.a Dari seleksi naskah ini redakturnya, ialah: Anna (cerita anak) Jenny (fragmen dan Selamat Pagi Indonesia) Marsono (drama modern, akhir pekan, cakrawala budaya, dan drama seri)

1.4.b Setelah naskah diterima atau disetujui alias acc, pak Ananto sudah memberikan plafon honor. Dan mengambilnya ke tata usaha

2.1 Setelah diseleksi dari bapersi drama, naskah turun ke perencanaan lapangan, yaitu dikomandoi Sandy Tyas. Sandy Tyas ini yang membawahi 9 pengarah acara. Kasarnya yang menentukan jadwal rekaman yakni Sandy ini, apakah rekaman syutingnya di luar dan memakai studio berapa. Biasanya yang dipakai studio 6 dan 7. Dan itu pun untuk fragmen, drama keluarga, dan sejenisnya.

Sedang yang syuting di luar umumnya untuk cerita panjang (film akhir pekan). Bila syuting di luar jadwal syutingnya maksimum 14 hari kerja. Sedang untuk ‘hunting’ lokasi, diperlukan waktu 7 hari

2.1.a Untuk keperluan ‘casting’, pengarah acara punya wewenang. Entah itu ‘casting’ berdasarkan kelompok grup atau perorangan sendiri. Celakanya untuk kelompok bisa-bisa proyek satu maket. Umpamanya, Teater Koma. Kelompok inilah yang pada awalnya, sewaktu mengirimkan naskah sudah menyodorkan pemain-pemainnya terlebih dulu. Tentu dari kelompoknya

2.2 Meski punya wewenang untuk menentukan ‘casting’, namun pada prinsipnya pengarah acara harus mengadakan dialog dengan Sandy. Ini menyangkut soal honor. Jumlah honor pemain ini lantas diajukan ke bagian tata usaha. Tapi, masalah honor ini tata usaha punya plafon

2.3 Dalam perencanaan, Sandy ini punya staf 17 di luar pengarah acara yang mengurus surat-surat untuk kepentingan tersebut. Untuk ke bagian kamera, ‘make-up’, teknik, dan prasarana studio. Juga untuk keperluan studio ‘editing’ maupun tenaga VTR, juga kebagian umum serta tata usaha. Dan ‘property’ alias ‘art’.

2.4 Untuk keperluan syuting di dalam studio, biasa memakai 3 kamera. Sedang untuk syuting di luar, cuma 1 kamera ‘engine’ (ENG) dan mobil OB-Van. Tapi itu pun ada pula yang syuting di luar menggunakan pita ‘movie’

2.5 Baik syuting luar maupun di dalam studio, masalah ‘make-up’, hanya satu orang pekerjanya. Sedang properti diserahkan bagian umumnya, lalu pada bagian ‘art’

2.6 Masalah kostum, tergantung pemain. Pengarah acara nggak ikut campur tangan

3.1 Usai syuting masuk ‘editing’. Celakanya, soal ini ngantrenya luar biasa. Menumpuk. Bisa-bisa menunggu ‘editing’ itu sampai 7 hari. Padahal, kerja ‘editing’ 3 hari. Tapi tak jarang jika siaran mendadak kelar (selesai) rekaman langsung ‘editing’, dan langsung beberapa jam kemudian ditayangkan


3.2 Karena rekaman – baik di luar dan dalam studio – itu ‘direct sound’. Dan karena teknologi canggih, maka tak perlu ‘dubbing’ segala. Kecuali urusan musik perlu diisi. Dan juga yang dicari mudahnya, musik asal comot saja. Namun, 1988, ada kesadaran baru, musik diisi orang lain. Di antaranya, Suwanto Suwandi atau Djaduk Bagong Kussudiradja (Djaduk Ferianto-red).

3.3 Jika memakai bahan baku film, maka prosesnya di luar (interstudio). Dulu (jauh sebelum 1988-red), teve (TVRI-red) punya studio sendiri. Gara-gara terbakar, apa boleh buat.

4.1 Selesai ‘editing’, pengisian suara musik, maka sinetron tersebut sudah dibilang siap ditayangkan. Namun, harus diketahui ada “badan sensor”nya, alias bapersi evaluasi. Suatu lembaga yang mengevaluasi suatu karya. Singkatnya mereka yang memberikan penilaian. Entah itu mutu gambar, cerita, dan penggarapan

4.2 Tapi jadwal yang terlalu mepet, terkadang bapersi evaluasi kurang “menggigit, nggak bekreja. Kecuali paket dari daerah, misalnya, Cakrawala Budaya, atau sinetron yang dibuat stasiun daerah. Sehingga bapersi evaluasi ini kerjanya mengecek Film Cerita Akhir Pekan, produksi luar, atau film seri

5. Siap ditayangkan, pemirsa menunggu

Komentar

Postingan Populer