BONUS - HITAM PUTIH, KISAHNYA HAMPIR MERINTIH (FILM CERITA AKHIR PEKAN, TVRI - SABTU, 14 JANUARI 1989 Pkl: 22.30 WIB)
M. (Monitor) pernah menuliskan kalau Hitam Putih garapan
Bambang Rochyadi diputar (di TVRI juga-red) tanggal 10 Desember 1988. Rencana tersebut meleset
karena faktor teknis. Yakni proses ‘editing’ belum seleasi. Sedang Bambang pada
waktu itu berada di Surabaya menggarap sinetron Kusdinah yang khusus disiapkan
untuk sepekan sinetron 1988.
Ditilik dari cara kerjanya, terlihat kalau TVRI dalam menyiapkan suatu program terasa buru-buru. Terbukti dalam hal ini, contoh yang dialami Bambang itu. Belum beres menyelesaikan Hitam Putih, tahu-tahunya harus menangani proyek lain. Sehingga sampai tulisan ini diturunkan, Hitam Putih belum selesai 100%.
Kendati dikerjakan “tambal sulam”, nyatanya hasilnya lumayan. Bambang menggarapnya tidak memakai peralatan elektronika. Justru di sini pengarah acara muda (era itu) ini memperlihatkan kemampuannya untuk siap diuji. Ia mencoba membesut secermat-cermatnya, maka tak bias ajika soal lampu maupun tata artistiknya dikemas rapi. Namun, dari sisi cerita (skenario ditulis Darto Joned?) Hitam Putih sebenarnya terlalu lumrah.
Agaknya, alasan studi Bramono yang dibiayai keluarga Anisa jadi titik persoalan hingga mereka “terpaksa” menikah. Tapi, setelah punya gelar dan Bramono menjadi direktur perusahaan kelaurga, persoalan nongol lagi. Perkawinan menjadi panas, sebab saudara-saudara Anisa tidak setuju bila Bramono yang berperan tunggal. Harap dimaklumi, Anisa itu anak tertua, pewaris utama dari perusahaan orangtuanya.
Konflik pun pecah. Bramono pisah dnegan Anisa. Lantas muncul sosok Sadewa, S.H. – yang ternyata bekas pacar Anisa. Tokoh ini juga memerikan warna, namun sebagai bumbu penyedap, Bambang tak memberikan polesan. Sebab, setelah Anisa pisah dengan Bramono, ada problem baru di situ. Yaitu kegalauan Anisa yang tak sanggup hidup sendiri. Leibh-lebih anaknya, Betti, yang 7 tahun berpisah dari sang ayah.
Betti ingin sekali berkumpul dengan sang ayah, dan menginginkan agar si ibu dapat rukun kembali. Soal keluarga rukun mudah diatur. Prosesnya – sebagaimana sinetron TVRI, cepat. Pihak saudara-saudara Anisa sudah menyadari, bahkan mendesak Anisa mau menerima Bramono untuk anaknya.
Proses pertemuan kembali Anias-Bramono diakhiri dengan suasana sedih. Dibuatlah Bramono mengalami musibah. Kecelakaan. Maunya begitu. Tentu apa boleh buat, justru yang mencuat cuma doa Anisa bersama Betti yang mengharapkan agar sang ayah cepat sembuh. Dan gambar berkahir di sebuah rumah sakit. Tak dijelaskan apakah Bramono sembuh. Namun rupanya Bambang sengaja menggantung masalahnya, semuanya diserahkan kepada pemiras. Maunya.
HITAM PUTIH
Anisa – Tatiek Wardiono
Betti – Lusiana
Anna – Cynthia Maramis
Angga – Henky Tornando
Bramono – Agust Melasz
Sadewa, S.H. – Asrul Zulmi
Pak Anwar – F. Ukowati
Bu Anwar – Citra Dewi
Pengarah acara: Bambang Rochyadi
Batas usia: 17 tahun ke atas
Produksi: TVRI Pusat Jakarta
Dok. Monitor – No. 115/III/minggu ke-2 Januari 1989/11-17 Januari 1989, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar