BONUS - HARGA DUNIA DALAM BERITA (TVRI) TERNYATA MAHAL SEKALI. TAPI, JAUH LEBIH MURAH DIBANDING BIKIN SENDIRI

SATELIT, SULIT. Lebih dari setengah milyar uang dibelanjakan TVRI untuk Dunia Dalam Berita. Ini kalau dihitung dari harga berita melalui agen Visnews sebesar 185.440 dolar AS atau (waktu itu) 296,7 juta rupiah, untuk ongkos sewa tahun 1988 ini. Jumlah yang lain hampir sama, (waktu itu) masih harus ditambahkan untuk ongkos produksi berita-berita bikinan DPA, kantor berita Jerman Barat, yang datang sekali seminggu.

Ongkos transmisi dan biaya teknis per tahunnya tak kurang dari 135.225 dolar AS, alias (waktu itu) 216,3 juta rupiah. Itu baru sebatas pembayaran pada Indosat, yakni jalur setelah gambar ditampung oleh satelit internasional milik AS, Intelsat. Kemudian, masih ada transaksi lagi dengan Perumtel yang per bulannya sekitar 7.500 dolar AS (waktu itu – 12 juta rupiah). Sedangkan harga langganan teleks (Reuter dan LKBN ANTARA), masing-masing sekitar 500 atau 600 dolar AS per bulan.

Nah, dari situ, mungkin angka-angka bisa bicara sendiri. Ini cuma sekadar pembanding, terutama untuk melihat lebih jauh lagi, betapa berlikunya jalan yang dilewati sebuah berita. Belum lagi soal kecepatan yang makin dituntut, belum lagi kocek lain yang mesti dirogoh, untuk operasi alat dan penyiarannya, serta sederet jaringan kerja lainnya.

Sekalipun begitu, angka-angka yang pada akhirnya sekian banyak, dan alur yang gampang-gampang sulit, ketemunya jauh lebih murah dibanding bikin sendiri. Untuk meliput kegiatan atau peristiwa di salah satu bagian dunia, dengan mengirimkan kru sendiri. Berapa biayanya? Jadi, begitulah dunia masa 1988, dengan ciri kosmopolitis yang membarengi segenap peluang dan kemudahan di segala sisi kehidupan.

Benar, seperti ditturukan Adi Kasno, kepala sub-direktorat pemberitaan TVRI Jakarta, harga per satuan berita per hari siaran, jatuhnya akan lebih murah dibanding bikin sendiri. Untuk lebih jelasnya, hitung sendiri, dengan asumsi, biaya per tahun 500 juta rupiah. Dibagi 365 (jumlah hari), dibagi lagi 25 (durasi penayangan DDB).

Mungkin bagan ini lebih sebagai gambaran, atau cerita-cerita lanjut tentang kegiatan pertelevisian negeri ini. Dan (perkiraan waktu itu) mungkin pula, di waktu-waktu nantinya, “jalur-jalur” deskripsi yang sama, bisa dikenakan pada tayangan-tayangan yang lain.

Ditulis oleh: Slamet Riyadi

 


Visnews, London, datang setiap hari pukul 04.30 WIB, selama 10 menit, dengan muatan dengan mautan sekitar 6-7 ‘items’ berita

Intelsat, satelit milik AS kecuali menampung berita-berita yang pihak TVRI kirim, jgua menerima berita-berita yang pihak TVRI konsumsi. Berita-berita dari dan untuk 7 negara anggota zona B ABU

 


Asiavision, dari pusat zona B ABU (Asia-Pacific Broadcasting Union), Kuala Lumpur. Datang setiap 16.00-16.10 dan 19.30-19.40 WIB, setelah didahului 2 kali ‘conference’, masing-masing pukul 10.00 dan 15.00 WIB, berisi pengiriman naskah berita secara dikte, dari dan ke-7 negara zona B

 

DPA (‘Deutsche Presse Agentur’), biasanya berisi berita-berita yang ‘timeless’, tidak tergantung aktualitas, seperti olahraga, ‘feature’, atau jenis ‘human interest’ lainnya.

Datang sekali seminggu dalam kemasan kiriman udara.

Rapat redaksi berita, setiap hari pukul 15.00 WIB. Kemudian mendelegasikan pilihan kepada redaktur kepala. Sekaligus ditentukan mana materi untuk Berita Nusantara, Berita Nasional & Laporan Pembangunan, siaran berbahasa Inggris (saluran 8 TVRI Jakarta-red) pada English News Service, Dunia Dalam Berita, dan Berita Terakhir.

 



Materi DDB yang disetujui, diterjemahkan, disusun ‘item’ per ‘item’, menurut jenis dan kepentingannya. Biasanya politik, ekonomi, sosial, ‘feature’, olahraga, serta jenis ‘human interest’

Para redaktur berjumlah sekitar 5-7 orang, menuliskan berita. Masing-masing dikelompokkan menjadi 4 bagian, dan diputar bergiliran per minggu kerja

 


Naskah ditulis rangkap 10. Satu untuk pembaca berita, 9 lain dibagi oleh pembantu redaksi kepada berbagai pihak: pengarah acara, petugas ‘switcher’, juru kamera, ‘floor director’, ‘editor’, petugas ‘telecine’, petugas studio, dan seterusnya

 


Pengarah acara mengecek gambar terakhir dan kata terakhir, setiap ‘item’. Sekaligus mengikuti perkembangan, kalau-kalau ada perubahan materi

 


Editor menyunting gambar, disesuaikan dengan urutan dan kepanjangan naskah

 


Satu atau dua jam sebelumnya, penyiar membaca naskah. Menentukan frasing atau mengecek, kalau-kalau ada kekeliruan. Sekaligus ‘recheck’, soal kata dan gambar terakhir setiap ‘item’ tadi. Atau kadang-kadang mengontrol dinamisasi pengantar yang ada, membandingkan dengan jumlah detik nukilan (‘thriller’), kalau ada

 


Petugas ‘teleprompter’, membikin naskah yang kemudian dibacakan secara jarak jauh. Dipasang sejajar kamera, sehingga (seolah-olah) pembaca menatap pemirsa

 


Penyiar baca naskah. Bergantian antara penyiar 1 dan 2, sesuai dengan urutan dan susunan materi, untuk diberikan visualisasinya. Kadang-kadang, diiringi batuk, atau membetulkan dandanan rambut

Teleks dari Reuter, datang setiap saat melalui teleprinter, berdasarkan perhtiungan langganan. Harganya, sekitar 500 dolar AS per bulan. Ini digunakan untuk kelengkapan dan akurasi berita, walau sayangnya tak bisa menyertakan gambar. Alhasil, mesti dicarikan visualisasinya, lewat ‘slide’, foto, atau peta

LKBN ANTARA, juga melalui jalur yang sama dengan Reuter. Ada tambahan, yakni buletin ANTARA, yang datang 2 kali setiap hari

Hasil liputan kru TVRI sendiri, seperti upacara kenegaraan, peristiwa olahraga besar, nukilan ‘show’ artis dunia, atau yang lainnya

Stasiun pengendali dan penguji di Jatiluhur, Jawa Barat

 

International Master Control milik Perumtel di jalan Merdeka Selatan, Jakarta

 

Dikirim ke Perumtel jalan Gatot Subroto, Jakarta, lewat kabel. Dari sini, gambar dikirim ke TVRI lewat jaringan ‘microwave’

Ada pengarah acara umum, penanggung jawab seluruh rangkaian acara harian di TVRI

 

Masuk ke ruang ‘dispatch’. Ini berlaku untuk berita kiriman maupun yang dikirimkan

Petugas ‘news exchange’ menampung, menghitung waktu dan jumlahnya

‘Voice conference’ alias pertukaran berita yang didikte (tanpa gambar), berlangsung pada pukul 10.00 dan 15.30 WIB

Pengiriman gambar ke pusat zona B ABU, Kuala Lumpur, pukul 13.30-13.40 WIB

Penerimaan pukul 16.00 WIB, berisi berita-berita dari sesama anggota zona B ABU

 


Penerimaan pukul 19.30 WIB, selain berisi berita dari sesama anggota zona B, juga berita dari negara-negara – Australia, Jepang, Korsel, RRC, juga Iran – anggota zona A yang berpusat di Tokyo, juga berita dan gambar hasil pertukaran dengan Eurovision yang berpusat di Zurich, Swiss. Dari proses inilah, Berita Terakhir diisi gambar. Kadang-kadang, kalau sangat penting dan menarik, disertakan dalam Dunia Dalam Berita

Dok. Monitor – No. 63/II/minggu ke-3 Januari 1988/13-19 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer