BONUS - HADIR DI BERPACU DALAM MELODI, PUTRI SOLO DAN GADIS IPANEMA (BERPACU DALAM MELODI, TVRI PROGRAMA 1 - SABTU, 22 APRIL 1989 Pkl: 21.30 WIB)
KALI ini, karena masih dalam rangka Hari Kartini, paket
acara Berpacu Dalam Melodi (TVRI Programa 1) boleh dikata milik kaum wanita.
Yang dalam pekerjaannya sehari-hari, mereka menilai, tapi kali ini mereka
dinilai.
Ada La Rose, novelis yang juga kolumnis. Dewi Motik, pengusaha wanita yang sukses dan baru-baru itu mendapat penghargaan sebagai orang muda (era itu) yang berkarya. Lalu Rae Sita, mantan aktris film yang (belakangan itu) manajer PR Sahid Jaya dan Yaumil Agoes Achir, psikolog dengan segudang jabatan dan sering berceramah di mana-mana.
Peraturan juga dibuat khusus. Kalau biasanya peserta dengan nilai terendah harus meninggalkan arena, kali ini tidak. Boleh ikut terus sampai selesai. Untuk meramaikan suaana, Ani Sumadi mengundang eks peserta, macam Yan Apul untuk ikut nonton. “Gua disuruh jadi tukang keplok nih. Sekali ngeplok dapat 1.500 rupiah,” komentar Yan Apul.
Asyik juga menyaksikan 4 wanita top yang (waktu itu) akan saling mengadu kepandaiannya. Belum mulai saja ruang VIP, tempat peserta ngumpul sudah riuh rendah. Rae Sita masih sibuk memoles wajah. Yaumil kehilangan antingnya. Untung Rae punya stok yang kebetulan serasi dengan kalung yang dikenakan Yaumil.
Lalu Dewi Motik yang panik dan grogi karena rekaman belum dimulai-mulai juga. Soalnya ia masih harus rapat di DPR. Sebagai pembuka, Koes menyanyi lagu Diciptakan Alam Pria dan Wanita (sebetulnya judul lagunya Sabda Alam, karya Ismail Marzuki-red). Wanita dijajah pria, itu dulu. Sekarang nggak lagi.
Waktu Olan Sitompul memperkenalkan para peserta, ditampilkan
foto masing-masing dalam berbagai situasi yang berbeda. Dewi Motik dengan foto ‘close
up’. Lalu foto bersama keluarga dan foto di pabrik garmennya. Dewi berbaju
kuning, duduk di depan mesin jahit.
Untuk Yaumil yang diperkenalkan sebagai ibu manis yang pandai masak dan senang ‘jogging’ ditampilkan foto ketika ceramah dan mendampingi mahasiswi (era itu) yang (waktu itu) baru diwisuda. Rae Sita dengan foto ‘close up’ dalam pelbagai ekspresi dan bersama keluarga. Untuk La Rose yang diperkenalkan sebagai pribadi yang merupakan gabungan antara cinta dan revolusi, ditampilkan foto keluarga dan foto sebagai penyiar radio.
Di saat rekaman, Ani Sumadi bekerja keras. Kesalahan sekecil apapun bisa terdeteksi. Soal Koes yang menyanyikan lagu pembukaan isalnya. Begitu selesai menyanyikan bagian,“ tekuk lutut di sudut kerlign wanita”, Ani Sumadi menegur, “Koes, wanitanya jangan di aaaaa!”
Kerja keras Ani Sumadi ternyata bukan hanya di saat rekaman. Persiapan benar-benar matang. Dari teknik visualisasi sampai pemilihan lagu yang diuji. Sebagian besar lagu bertema wanita. Dari Putri Solo sampai si gadis Ipanema, kawasan elit di Rio de Janeiro, Brazil.
Dari lagu Butet, Mother How Are U Today, sampai lagu yang jduulnya sama dengan salah satu judul novel Han Su Yin. Fanfare, lagu selingan di antara permainan juga khusus. Dicuplik dari lagu Ibu Kita Kartini ciptaan W.R. Supratman (pencipta lagu Indonesia Raya-red), yang terkadang dimainkan persis, terkadang diimprovisasi.
Suatu kali, do re mi fa sol mi do. Kali berikutnya, do terakhir do tinggi yang angka 1-nya bertitik di atas. Kuplet yang bunyinya fa la sol fa mi do re fa mi re do diubah jadi fa la sol fa mi do re mi fa sol la si do (tinggi). Visualisasi di awal acara, waktu menampilkan foto-foto para peserta digunakan ‘special effect’ ADO yang gambarnya dimiring-miringi.
Bintang tamu, Euis Darliah, Christine Panjaitan dan Broery Pesolima tampil mempesona. Euis dengan lagunya Apanya Dong yang dibawakan dengan gaya hangat, agak urakan tapi kocak. Christine dengan raut wajah yang melankolis. Broery dengan teknik vokal yang prima, tampil mempesona. Ia juga pandai menghangatkan suasana.
Di bagian refrein lagu Angin Malam (karya A Riyanto-red) yang dinyanyikannya, Broery langsung mendekati para peserta, mendiktekan satu kuplet seperti membaca puisi, diiringi gemuruh angin. Para peserta langsung tanggap dan menyanyikan kalimat itu.
Di layar kaca, Euis (waktu itu) bakal tampil cuma separuh badan. Soalnya, waktu rekaman, Euis mengenakan baju span mini ketat. Apalagi Ani Sumadi punya prinsip, menghindari ‘long-shoot’ dan lebih menyukai ‘medium-shoot’. Atau karena ada himbauan TVRI bahwa para pengisi acara sebaiknya berpakaian yang tidak neko-neko.
Seperti yang (waktu itu telah) lalu-lalu, kuis ini tetap enak ditonton. Unsur hiburannya tinggi, ditambah lagi, kali ini semua pesertanya adalah wanita yang punya nama. Asyik jgua tonton para boss menjawab salah.
Ditulis oleh: Irene Suliana
Dok. Monitor – No. 129/III/minggu ke-3 April 1989/19-25 April 1989, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar