BONUS - GAJAH HIDUP BERSAMA MANUSIA. MINUMNYA SODA (THE GO SHOW, TVRI PROGRAMA 1 - SELASA, 19 SEPTEMBER 1989 Pkl: 21.30 WIB)
MULAI 19 September 1989, setiap Selasa minggu ke-3, TVRI
(Programa 1-red) – waktu itu – akan menayangkan serial baru (kala itu), The Go
Show, film pendidikan dan pengetahuan produksi NBC-TV. Unsur pendidikan dan
penerangan tidak terasa, karena disajikan dalam gaya ‘human interest’.
Menggugah rasa ingin tahu, mencekam, diseling adegan-adegan lucu.
Didukung teknik visualisasi yang prima, peralatan canggih, kamera yang bebas bergerak, atau kamera bawah air yang peka cahaya, menjadikan film ini enak ditonton. Masa putar yang satu jam benar-benar tidak terasa.
Episode pertama menampilkan Animal Traine dan Underwater. Yang pertama menceritakan pasnagan suami-istri Pat Derby dan Ted yang membuka panti asuhan untuk satwa liar yang tunawisma. Untuk dikembalikan ke alam bebas sudah tak mungkin, karena bertahun-tahun dipelihara manusia. Di kebun binatang atau untuk pertunjukan sirkus.
Tapi di kebun binatang sudah terllau sesak, atau sudah tak terpakai lagi di sirkus. Di “panti asuhan” Love Is An Animal Ranch ini, ditampung 120 ekor Binatang buas. Dari singa, jaguar, beruang, seekor gajah India berbobot 8.000 pon atau 4 ton, sampai berang-berang.
Dalam cerita yang memperlihatkan kegiatan Pat sehari-hari di antara asuhannya, diselipkan berbagai informasi. Nina, si gajah India yang beruur 13 tahun, mudah dibedakan dari gajah Afrika yang berkepala kecil dan berkuping raksasa. Gajah yang dipakai di sirkus, film, kebun Binatang, atau di TV, kebanyakan adalah gajah Afrika.
Pat bebas bercanda-ria dengan Nina, pensiunan dari sebuah sirkus kecil yang tak lagi sanggup mempekerjakannya. Menurut Pat, sebagian besar pelatih Binatang takut pada gajah yang suka membalas dendam. “Tanpa sadar, mereka melatih gajah untuk membenci manusia. Karena mereka melatihnya dengan siksaan dan kekerasan, bukan dengan cinta.”
Pat misalnya, bicara dengan Nina, berbuat seperti seekor gajah. Kalau Pat minum soda, Nina juga diberinya. “Saya dan Ted berusah amenerima binatang buas itu seperti apa adanya. Tak pernah kami berusaha menjadikan mereka manusia. Sejauh kita tidak menyakiti mereka, mereka akan menerima kita apa adanya. Dan tak pernah khawatir, rupamu seperti apa atau warna bajumu apa.”
Hewan, menurut Pat, dalam beberapa hal boleh dikata sama dengan manusia. Tapi, tidak berarti Nina kurang ajar ketika memantatinya. Itu satu tanda. Nina percaya pada Pat. Pat menyontohkan ungkapan, kita hanya berani menunjukkan keburukan kita di depan orang yang kita percaya.
“Satu-satunya yang tak bisa dimengerti binatang adalah, mengapa kita menyakiti mereka. Kenapa untuk mendapatkan makanannya, mereka dipaksa melakukan kesintingan tertentu. Padhala di alamnya yang asli, mereka begitu mudah mendapatkan makanan.”
Semua binatang yang diasuh Pat punya nama. Beruang Alaska, hewan pemakan daging atau karnivora darat terbesar di dunia, berbobot 700 pon dan di akhir pertumbuhannya bisa mencapai 1000 pon, dinamakan Phyllis. Sejenis beruang buas asal California, dinamai Seymor. Ada lagi Simon dan Samantha, sepasang simpanse yang senang bermain, bercanda, dan bermanja dengan Ted seperti anak-anak manusia.
“Pencinta binatang sejati selalu mendahulukan kepentingan dan keinginan binatang itu dan tak pernah berusaha mengubahnya.” Pat berpesan, jangan mengusik dan menyiksa binatang buas. Jangan coba-coba menyentuh bayi binatang dan kalau ke kebun binatang, anggaplah kita sedang bertamu ke rumah seseorang. Kebun binatang adalah rumah untuk binatang itu.
LANCANG, BINTANG. Pada “Underwater” dicreitakan Susy dan
Johny yang didorong rasa ingin tahunya, masuk ke sebuah kapal layar. Karena
keasyikan menjelajahi seluruh kapal, kedua bocah ini lupa waktu.
Apalagi penjelajahan itu dilakukan sembunyi-sembunyi. Ketika akan kembali ke darat, Susy dan Johny mendapatkan kapal itu sudah berlayar ke lautan. Terpaksa mereka bersembunyi terus. Persembunyian terakhir adalah di sekoci. Celakanya, sekoci tiba-tiba diturunkan dua awak kapal.
Susy dan Johny tertangkap, lalu diserahkan ke kapten kapal. Tindakan pertama yang diambil sang kapten adalah menyuruh kedua anak itu mengenakan pelampung, lalu menanyakan alamat orangtua mereka, dan mengirim kabar ke sana.
Sebagai hukuman atas tindakan mereka yang lancang dan merepotkan orang lain, Susy dan Johny dihukum. Disuruh kerja bersama awak kapal. Di sinilah ditunjukkan pekerjaan pada sebuah kapal layar. Membersihkan dek, menisik layar sambil seorang awak kapal menjelaskan kegunaan layar. Juga cara membuat simpul ikat tali layar, supaya layar tidak melorot.
Sesudah bekerja, Susy dan Johny diberi kesempatan belajar memegang kemudi, juga mendapat hadiah sebuah bintang laut aneh, hasil penyelaman dua awak kapal ke dasar laut. Biasanya kaki bintang laut hanya 5, yang ini berkaki 6. Lalu diperlihatkan petualnagan di dasar laut. Ada bangkai kapal, ada juga batu koral yang disebut koral api, karena kalau tergesek, kulit kita terasa seperti terbakar.
Di akhir cerita baru ketahuan, Susy dan Johny tidak ikut berlayar. Sebab, ‘imagination is the best adventures of all’.
Ditulis oleh: Irene Suliana
Dok. Monitor – No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan





Komentar
Posting Komentar