BONUS - FESTIVAL SINETRON INDONESIA BUKAN LAGI GEJALA
CERITA, NON-CERITA. Festival Film Indonesia (FFI) 1988, kali
ini juga didomplengi Festival Sinetron Indonesia (FSI). Bedanya dengan dua tahun
sebelumnya (1986-red), kali ini ada kategori non-cerita. Satu era yang (untuk
ukuran waktu itu) mulai melangkah ke masa depan. Tahun 1988 ini, menurut gosip
resmi ada 43 karya yang diikutkan. Sinetron cerita 24 buah, sinetron non-cerita
19 buah.
Tiga tahun sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1985-red), ketika pemberian piala Vidia pertama kali diadakan, penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto) meramalkan bahwa dominasi kemenangan (kala itu) masih akan ditongkrongi produksi TVRI. Kenyataannya begitu, (waktu itu) akan tetapi ada perkembangan lain. Produsen yang mengikutkan karyanya bukan hanya dari TVRI.
Pun kalau dari TVRI tidak hanya produksi stasiun pusat Jakarta. Stasiun daerah (saat itu) sudah mulai berbicara, dan itu bukan hanya Yogya dan Surabaya. Denpasar (saat itu) sudah memasang kuda-kuda. Ia sangat menggembirakan karena festival semacam ini menjadi puncak penilaian prestasi selama setahun, yang diselenggarakan oleh orang-orang non-TVRI yang mengadakan sendiri dengan pemberian piala Gatra Kencana.
Untuk sinetron cerita, pemasok selain TVRI Jakarta adalah dari Ditjen Pengarahan & Pembinaan Deptrans RI dengan seri Kisah Serumpun Bambu atau BKKBN dengan tema keluarga berencana. Juga dari PT Shwarna Bhumi Buana Film dengan seri Baruna (TVRI), atau juga produksinya yang (waktu itu) baru.
Untuk non-cerita lebih ramai lagi, stasiun daerah (waktu itu) mulai berbicara, di samping PT Trio Video Tara, ada nam alain seperti Direktorat Vulkanologi, PT Yasri Perdana Film, PT Inconesia Pratama Mandiri, Kofina, PT Panca Mulya Permai, PT Jatayu Cakrawala Film. Nama-nama yang mempunyai potensi yang selama itu terdengar kurang resmi.
PIALA, NON-PIALA. Dari gambaran umum, jenis non-cerita juga bervariasi. Meliputi banyak aspek dan jenis. Memang kurang adil mempertarungkan jenis instruksional, dokumenter, atau ‘feature’, akan tetapi boleh juga sebagai langkah pertama. Akan lebih pas jika pada festival yang (waktu tiu) akan datang, pengkateogrian dipertajam. Bukan sesuatu yang luar biasa, mengingat sinetron memang menghadirkan lebih banyak.
Sebagai contoh saja untuk kategori cerita, di Amerika Serikat dipilah lagi kategorinya, antar cerita, seri, miniseri, lalu jenisnya komedi, drama, aksi. Yang masing-masing menghasilkan pemenangnya sendiri-sendiri, mulai dari sutradara, kameramen, aktor, aktris, atau unsur lain. Sehingga seluruhnya ada 33 kategori, yang berarti lebih dari 150 piala.
Sebagai contoh saja untuk kategori non-cerita dipilah apakah ini dokumentar, ‘feature’, kisah perjalanan, instruksional, kebudayaan dan lain lagi. Sedikitnya ada 13 kategori resmi, di samping piala yang sifatnya “melengkapi” seperti produk apa yang digunakan, kamera apa yang terbaik.
Pertelevisian di Eropa Barat sudah sama (waktu itu), Hongkong juga, Australia sama juga, Thailand (waktu itu) sudah lebih banyak, Malaysia (waktu itu) mulai memperbesar. Seperti juga Indonesia, selangkah lebih maju. Kalau sebelumnya hanya satu piala, (belakangan itu) sudah dua. Piala untuk cerita dan non-cerita.
(Waktu itu) belum ada pemilahan sutradara, aktor, aktris, penulis skenario, kameramen, musik, tata artistik, tata suara, ‘editing’. Pokoknya terima borongan satu paila. Cukup nggak cukup, pas nggak pas, terima saja.
STOP, NONSTOP. Melihat perbandingan dengan negara lain, rasanya penghargaan untuk karya sinetron (waktu itu) masih ‘cupet’, masih serba kurang. Melihat perbandingan dengan kenyataan yang ada, rasanya (waktu itu) belum ada apa-apanya.
Melihat yang ada di TVRI Pusat saja, setiap minggu sedikitnya 2 cerita panjang, 5 fragmen. Setahun tinggal mengalikan 52. Kalau ada 10 stasiun (waktu itu), sudah berapa? Jumlah ini bisa ditambah lagi dengan produsen-produsen yang selama itu sudah berkibar.
Angka di Gabsirevi bisa bicara banyak. Boleh dikatakan kalau disiarkan bisa berlangsung nonstop. Dan kalau dilihat pasar dalam jumlah yang besar, kesempatan berkembang sangat memungkinkan. Pertama, pasar dalam negeri bisa lebih membuka diri.
Baik dari TVRI, RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), maupun dari lembaga pemerintah, sampai dengan produk untuk mengisi ‘rental-rental’ yang (waktu itu) ada. Kedua, pasar di negeri tetangga jelas menganga. Bukan berita aneh kalau dari Malaysia, dan terutama juga Brunei memesan paket 200 jam ke produsen Hongkong yang akhirnya dikerjakan oleh sineas Indonesia.
Penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto) sebut TVRI, RCTI karena kebutuhan itu (waktu itu) akan menjadi pembanding yang memacu kreativitas, di samping kebutuhan bahan untuk siaran itu sendiri. Pulang atau seri Rumah Masa Depan bisa menjadi ukuran perbandingan, kalau mau. Kesempatan untuk itu (waktu itu) akan menguntungkan keduanya. Dan (waktu itu) akan membuka berkibarnya, dan bangkitnya produsen sineas yang kuat.
Penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto) sebut pasar negara tetangga karena itulah yagn lebih memungkinkan, meskipun pasar negara-negara lain memberikan peluang yang sama. Masih dekat (waktu itu) dalam ingatan kita, bagaimana Return To Eden (di Indoneisa diputar TVRI-red) menggoyang penonton sinetron Indonesia. Pertelevisian di Australia terutama juga dibangkitkan dari produser independen. Oshin produksi murah NHK, pun dengan banyak mengerahkan sineas luar.
Penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto) terlalu optimis, barangkali, akan tetapi era sinetron (waktu itu) sudah menjadi bagian dari kegiatan kita. Tata krama, dukungan ke arah iklim penciptaan yang terbuka, (waktu itu) akan menuaikan hasil yang tidak berlebihan kalau untuk kawasan Asia Tenggara kita menjadi jagonya, kita menjadi pemasok terbesar.
Namun, kalau pendekatan kita (waktu itu) masih serba kaku dan ragu, kemungkinan-kemungkinan pasar (saat itu) masih ngawur, dunia sinetron kita bisa stop seperti 1988 ini. Ada tapi tak dipergunakan secara optimal atau bekerja sendiri-sendiri. Melalui festival kali ini, kita bisa menghargai apa yang (sampai saat itu) sudah terjadi, dan terutama untuk langkah (yang saat itu akan) datang.
Dok. Monitor – No. 104/II/minggu ke-4 Oktober 1988/26 Oktober-1 November 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar