BONUS - DI LUAR FILM, FRED DRYER TETAP AKRAB DENGAN STEPFANIE KRAMER (HUNTER, TVRI PROGRAMA 1 – TIAP MINGGU Pkl: 22.30 WIB)
MEMASUKI tahun keenam, Hunter (di Indonesia diputar TVRI Programa 1-red) masih tetap bertahan sebagai tontonan favorit. Fred Dryer bilang, semua itu berkat kerja keras, dedikasi tinggi, dan kesabaran yang menjadi rangkaian tak terputus. Faktor lainnya, kekuatan cerita dan pemainnya.
“Memang benar, gambaran diriku banyak terdapat pada Rick Hunter. Aku mendasarkan pada pengalaman sendiri dalam menginterpretasikannya. Aku mencoba menjadi Rick Hunter dengan integritas yang sama dengan diriku sendiri.”
Dari segi cerita, kok kayaknya, 1989, banyak berubah dari
yang dulu (jauh sebelum 1989-red)? “Memang. Sekarang (1989-red) bukan lagi
mempertontonkan kekerasan. Kami masih pakai adegan kekerasan dalam setiap
episode. Bahkan sebagian besar anggaran tetap diperuntukkan membayar ‘stuntman’.
Tapi kekerasan kini (1989-red) bukan lagi letak daya tariknya. Dan aku kira
lebih baik memang nggak usah pakai itu.”
Kenyataannya, tanpa banyak dar-der-dor dan gedebak-gedebuknya, minat menonton tak menyusut. Konon, di Cina saja film seri ini diskasikan sekitar 110 juta pasang mata setiap minggunya. Dryer mengangkat alis dan tangannya, ketika ditanya mengapa filmnya diminati negara komunis itu.
“Banyak cara berkomunikasi tanpa harus pakai bicara di depan kamera.” Mantan pemain bola profesional ini punya falsafah. “Kalau kamu punya satu cita-cita, persiapkanlah dan kerjakanlah, pasti akan berhasil.” Dryer begitu meyakininya. Makanya, ketika muncul keinginannya terjun ke dunia akting, ia tidak ragu-ragu meninggalkan lapangan yang telah digelutinya selama 13 tahun.
Ia pun sebelumnya mempersiapkan diri dengan kursus akting pada Nina Foch dan ditambah tiga tahun lagi (dari bacaan ini dimuat Monitor, 1989 hingga 1992-red) untuk mematangkan. Sebegitu serius, Fred? “Ya, aku selalu begitu, selalu berjaga-jaga, karena aku tak ingin hanya sekadar cari kerjaan. Aku ingin karir yang ‘establish’.”
Itukah alasan meninggalkan profesi sebelumnya? “Tak cuma itu. ‘Look’, dalam olahraga, kamu tak banyak pilihan. Paling-paling jadi asisten pelatih atau pelatih, setelah tak main. Dalam dunia akting, kamu bisa jadi sutradara, penulis skenario, produser, dan banyak lagi diversifikasinya. Aku bahagia dan puas pada apa yang aku lakukan.”
Meski sehari harus bekerja sampai 16 jam? “Ya, walau benar-benar sangat melelahkan kerja ini, hari Sabtu dan Minggu aku baru bisa beristirahat. Dan ketika istirahat, aku ingin pingsan, ini satu-satunya cara itsirahat dan tak terganggu.”
SAYU, AYU. Kesempatan lain yang dipakainya untuk istirahat, ketika pergantian set. Di saat pemuatan set, ia berada di mobil atau raungan lain untuk melepas lelah dengan membaca buku. Kata Dryer lagi, bagaimanapun kelelahan itu tak boleh tampak. Selain dibantu ‘make-up’, yang lebih penting lagi, “Kita harus yakin bahwa penampilan kita enak dilihat. Tak seorang pun ingin melihat mata yang sayu, letih, dan stres.”
Soal ‘make-up’, aktor kelahiran Lawndale, California, 6 Juli 1946 ini punya komentar menarik tentang pasangan menariknya, Stepfanie Kramer. “Kalau di-‘make-up’ dia kelihatan sangat ayu. Tapi kalau kamu lihat dia tanpa ‘make-up’, dia seperti gadis dusun, tapi dia tetpa menarik kok.” Hubungan yang akrab dan hangat dengan Stepfanie seperti yang terlihat di film, juga berlangsung di luar itu.
Karenanya wajar bila kemudian muncul dugaan mereka berdua memang ada apa-apanya. Apalagi kata Dryer, “Kami sering pergi untuk makan malam, nonton konser bersama-sama.”
Namun, toh ia tetap menyangkal kalau punya ‘affair’. Disinggung mengenai penyebab perceraiannya dengan Tracy Vacarro, yang pernah muncul di majalah ‘Playboy’ edisi 1983 dan telah menghasilkan Caitlin, Dryer yang bisa makan dada yam sampai lima – sewaktu masih atlet segitu porsinya – ini tak mau berterus terang. “Yang begitu kamu harus merahasiakan, juga dengan siapa kamu pernah “tidur”.”
Tapi, ia juga tak menyanggah kalau penyebabnya lantaran Dryer seperti orang mabuk kerja, hingga tak tersias waktu buat keluarga. “Istri di mana pun juga tak akan tahan punya suami yang punya cara kerja seperti itu.” Kendati demikian, Tracy (saat itu) masih sering menelepon atau mampir ke lokasi bersama Caitlin. “Setiap akhir minggu Caitlin bersamaku. Dialah segala-galanya bagiku.”
Kenapa nggak diajak tinggal bersamamu saja, Fred? “Aku tak berani menjanjikan punya kesempatan untuk mendidik dan mengawasinya. Padahal, dia sangat membutuhkannya. Bisa saja untuk ‘excuse’ aku bilang dia mencintaiku dan bisa mengerti. Tidak, aku tidak mau.” Baiknya memang begitu. Buat apa membohongi diri sendiri, ya, Mr. Dryer?
Ditulis oleh: Tavip Riyanto
Dok. Monitor – No. 140/III/minggu ke-1 Juli 1989/5-11 Juli 1989, dengan sedikit perubahan


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar