BONUS - CERITA SENTUHAN TERKESAN BERLEBIHAN, PENGGARAPAN (TVRI - JUMAT, 13 JANUARI 1989 Pkl: 21.30 WIB)

 MENTAL. Suami-istri Mursidi digambarkan sebagai kaum miskin yang bermental miskin. Sayang

SINETRON Selembut Sentuhan Embun mengetengahkan perbedaan sosial yang ada di Indonesia. Tapi dalam penjabarannya terasa mengada-ada. Keluarga pak Mursidi mempunyai anak Taryono, Rini, dan Sinta. Sedangkan keluarga pak Samiaji mempunyai anak Laras dan Santi. Pak Mursidi usahanya mengumpulkan barang-barang bekas dari pemulung, untuk dijual kembali pada perusahaan yang membutuhkan kardus, kaleng, dan besi bekas.

Pak Mursidi kurang mengerti permasalahan pemasaran barang-barang bekas yang ada dijual. Sehingga barang-barang bekas itu sering kocar-kacir dalam penjualan. Maka tak heran bila pak Mursidi akhirnya sering hutang barang pada pemulung.

“Saya nggak dapat pinjaman,” kilah pak Mursidi ketika ditagih Dalio. Tapi pemulung ini tidak mau tahu, karena anaknya makin kurus digerogoti penyakit. Wajar jika Dalio memaksa pak Mursidi untuk dimintai duit, karena tidak ada dokter yang memberikan pengobatan secara gratis.

Pak Mursidi sendiri pusing. Apalagi jika ini berhubungan dengan perut. Tak heran bila para pemulung marah dan melempari rumah pak Mursidi. Rini mengambil inisiatif untuk mengatasi kesulitan keluarganya. Kebetulan Rini kenal dengan Laras yang ayahnya sedang membutuhkan sopir. Maka, dengan cekatan Rini menawarkan kakaknya, Taryono, untuk menjadi sopir.

Kesulitan pak Mursidi mulai agak teratasi. Tapi kemudian datang masalah baru, yaitu teriakan kemarahan para pemulung. “Dasar pembohong. Punya mobil baru, tapi nggak baya rhutang. “Kesalahpahaman ini sudah awjar dalam kehidupan masyarakat kita, karena yang kaya kelewat kaya, yang miskin kelewat miskin.

Taryono dipukuli Purnomo dan Hendor, karena dituduh menyabot pekerjaan sopir kelaurga pak Samiaji. Sedangkan pak Samiaji mengira, Taryono itu sopir yang pernah dipesan pada sekretarisnya. Menghadapi masalah ini, pak Samiaji tidak bisa berbuat apa-apa, karena istri dan anaknya sudah cocok dengan Taryono.

Walaupun Taryono tetap bekerja pada keluarga pak Samiaji, tapi tetap tidak bisa menyelesaikan kesulitan pak Mursidi yang semakin kritis. Barang-barang semakin menumpuk dan tidak bia dijual, sedangkan tanah yang ditempati, akan dijual pemiliknya.

Cerita seperti diatur saja. Saat itu, oleh dosennya, Laras disuruh membuat penulisan tentang para pemulung. Laras pun tahu bahwa pemulung yang berjumlah 15 keluarga, termasuk pak Mursidi, cepat atau lambat harus meninggalkan tanah yang sudah bertahun-tahun ditempati, Laras mengadu pada papanya, Samiaji.

Maka, pengusaha besar macam pak Samiaji ini mengadakan pertemuan dengan kawannya, Yan Frederick. Setelah itu, Yan dan pak Samiaji membeli tanah pak Yasin yang ditempati para pemulung itu. Jadi, jelaslah bahwa cerita Selembut Sentuhan Embun, dalam menyelesaikan perbedaan sosial tidak memiliki realisme total. Boleh dikatakan malah mengingkari kondisi sosial 1989.

Sinetron ini penuh dengan gincu, “menjilat” para pengusaha besar. Tpai keberatan utama karena merendahkan martabat kaum miskin. Padahal, kaum miskin lebih estia pada kenaytaan, biarpun kesulitan itu datang terus-menerus.

Ditulis oleh: Bujang Praktiko

SELEMBUT SENTUHAN EMBUN

Pak Samiaji – Yoseano Waas

Ibu Samiaji – Farida Pasha

Pak Mursidi – Sutopo H.S.

Ibu Mursidi – Dian Anggraeni

Taryono – Septian Dwicahyo

Laras – Evi Yani

Sinta – Megarani Waas

Santi – Yosefanny W.S.  

Rini – Misye

Hendro – Dian Hasri

Dalio – Mausman Said

Penulis skenario: G.M. Yohanes

Pengarah acara: Mustafa

Dok. Monitor – No. 115/III/minggu ke-2 Januari 1989/11-17 Januari 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer